Hanya dibutuhkan 23 menit untuk mendefinisikan sosok Rachmat Irianto di Stadion Sultan Agung, Bantul, Yogyakarta, Minggu (25/1/2026). Pemain Persebaya bernomor punggung 53 itu masuk menggantikan Toni Firmansyah.
Rian, sapaan akrab Rachmat, dimasukkan untuk memperkuat pertahanan Persebaya yang sudah unggul 1-0 atas tim tuan rumah PSIM. Serangan bertubi-tubi dari PSIM yang diorkestrasi Ze Valente berkali-kali mengancam gawang Ernando Ari. Dengan keunggulan satu gol masih terlalu dini untuk mengklaim kemenangan.
Rian berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik, memberikan rasa aman pertahanan Persebaya. Sesuatu yang membuat kawan-kawannya di lini depan bisa lebih lepas menyerang dam menambah keunggulan melalui kaki pemain anyar asal Brasil, Bruno Paraíba, pada menit 74.
Namun sore itu Rian agaknya tak ingin bermain konservatif sebagai pemain bertahan layaknya sang ayah, almarhum Bejo Sugiantoro. Menit 83 detik 28, pria berusia 26 tahun ini mengintersep operan Ze Valente dan melesat ke daerah pertahanan PSIM.
Kecepatan larinya bak anak panah yang, seperi lirik lagu ‘Roman Picisan’, ‘kau lepaskan ke jantung hatiku’.
Butuh waktu 30 detik bagi Rian untuk berlari sejauh lebih dari 20 meter, melintasi lingkaran tengah lapangan, meninggalkan para pemain PSIM, termasuk Rakhmatsho Rakhmatzoda, gelandang bertahan asal Tajikistan, yang tertinggal beberapa langkah, dan mengoyak jantung pendukung tuan rumah dengan gol pamungkas ke gawang Cahya Supriadi.
Dua gol yang sebelumnya dicetak Gali Freitas pada menit 35 dan Bruno Paraíba mendefinisikan transformasi taktik dan filosofi bermain Persebaya di tangan Bernardo Tavares. Tavares menunjukkan bagaimana sebuah tim seharusnya bermain efektif sejak dari bertahan.
Pertahanan adalah kunci. Tavares ibarat seorang bapak yang baik: sebelum pergi, gembok pintu dan pagar rumah rapat-rapat. Sebelum menjelajahi area pertahanan lawan, pastikan dulu pertahanan sendiri aman.
Pergantian pemain yang mengawali dua gol Persebaya di babak kedua menunjukkan kecermatannya dalam membaca pertandingan. Dengan stok pemain yang ada, Tavares memaksimalkan semua kemungkinan dan skema, sekaligus membuktikan bahwa kualitas para pemain Persebaya tidaklah buruk jika dikelola dengan tepat.
Berbeda dengan gol Freitas dan Paraiba, gol Rian menceritakan banyak hal personal. Kebangkitan. Kekuatan mental. Kepercayaan diri.
Lahir sebagai anak seorang legenda Persebaya, karier Rian tak selamanya mulus. Awalnya, saat memperkuat Persebaya pada Desember 2016, dia dianggap semacam perwujudan slogan ‘dream comes true‘ dan ‘too good to be true’. Anak pemain legendaris yang bermain untuk klub yang diantarkan sang ayah dua kali menjuarai Liga Indonesia.
Foto Rian kecil (saat masih berusia lima tahun) sedang digendong Sugiantoro yang merayakan keberhasilan Persebaya menjuarai Liga Indonesia 2004 menjadi sesuatu yang ikonik dalam memori Bonek, saat Rian turun ke lapangan.
Ada semacam harapan berbalut keyakinan: Rian akan membawa Persebaya berjaya di level kompetisi tertinggi nasional setelah tak pernah jadi juara selama dua dasawarsa lebih.
Namun membawa nama besar sang ayah tidak mudah bagi Rian. Orang suka membandingkannya dengan Bejo, terutama ketika penampilannya tak menawan. Tudingan di media sosial bahwa Rian tak punya cukup potensi dan hanya mengandalkan nama besar sang ayah memukul mental pria kelahiran 3 September 1999 ini.
Slogan You’ll Never Walk Alone hanya berlaku di Liverpool, bukan di Persebaya. Sebagian suporter Persebaya lebih suka menjadikan Rian bahan ‘bullying’ daripada membangkitkan semangatnya. Maka dia pun pergi, pindah ke Persib Bandung.
Tidak memiliki kenangan dan koneksi emosional dengan Persib membuat Rian bisa tampil lebih baik. Dia ikut mengantarkan Persib menjuarai Liga Indonesia dua musim berturut-turut. Sesuatu yang ikut dirayakan Bejo Sugiantoro di Bandung.
Lalu cedera ligamen kaki kanan menghantamnya pada 11 Januari 2025, saat memperkuat Persib melawan PSBS Biak. Rian kembali ke Surabaya dengan kondisi terpincang-pincang.
Satu bulan kemudian, 25 Februari 2025, ayahnya meninggal dunia terkena serangan jantung. Dunia tak lagi sama.
Tak banyak pemain lokal sepak bola Indonesia yang bisa kembali mendekati performa awal bahkan lebih baik setelah mengalami cedera parah. Rian adalah satu dari yang sedikit itu. Dan dia istimewa, karena bisa bangkit, bahkan setelah ditinggalkan ayahnya.
Golnya ke gawang PSIM tak hanya sebuah mahakarya. Bernardo Tavares menyebutnya ‘Rian Diego Armando Maradona’, dan menyamakannya dengan gol kedua Maradona ke gawang Inggris pada Piala Dunia Meksiko 1986.
Namun Rian tak hendak menjadi epigon Maradona. Golnya di Bantul tak memberikan efek patriotik terhadap rakyat Argentina sebagaimana gol Maradona ke gawang Peter Shilton. Ini gol yang menjadi narasi jatuh bangunnya seorang pemain sepak bola di usia muda. Kita tidak tahu bagaimana Rian di ujung karirnya. Namun untuk hari ini kita berbahagia untuknya, sembari berharap, mungkin ada rezeki di akhir musim kompetisi.
Siapa tahu. [wir]






