Tiga pemain asing dan satu pemain lokal menghasilkan lima kartu merah dalam empat pertandingan bagi Persebaya Surabaya. Selain produktivitas gol yang minim dan angka kebobolan yang tinggi dalam musim Super League 2025-26, banyaknya kartu merah menandai betapa mediokernya permainan Persebaya.
Persebaya menjadi klub penyumbang kartu merah terbanyak bersama Persijap Jepara dan Arema FC hingga pekan ke-12. Sementara untuk kartu kuning, Persebaya tercatat mengemas 15 kartu kuning.
Kartu merah terbaru diterima Francisco Rivera saat menghadapi tuan rumah Persik Kediri, di Stadion Gelora Joko Samudro, Gresik, Jumat (7/11/2025). Di hadapan 1.554 oranh penonton, Persebaya unggul lebih dulu Arief Catur Pamungkas pada menit 53.
Dalam 11 pertandingan sebelumnya, Persebaya selalu membawa pulang tiga angka setiap kali unggul lebih dulu. Namun tidak kali ini. Sepuluh menit setelah Rivera, José Enrique mencetak gol untuk Persik melalui sundulan setelah menerima operan dari Ezra Walian.
Di tengah permainan yang masih belum menjanjikan, bencana itu datang pada menit 76. Rivera terkena kartu merah langsung setelah tangannya mengeplak kepala bek Persik Yusuf Meilana saat memutar badan. Dengan demikian pemain asal Meksiko itu bakal absen dalam pertandingan melawan Arema di Surabaya.
Ini kartu merah kedua untuk Rivera, setelah sebelumnya saat melawan Persib. Sesuatu yang sama sekali tidak dibayangkan dari seorang pemain yang sempat menjadi pemain terbaik saat memperkuat Madura United.
Pelatih Persebaya Eduardo Perez menuduh VAR terlalu sensitif dalam melihat gerakan-gerakan kecil. Namun di lain kesempatan, VAR justru menolak meninjau ulang insiden yang lebih berpotensi hukuman, seperti pelanggaran terhadap Moreira.
Namun di situlah problem yang seharusnya dilihat Perez. Bersama Persebaya, Rivera memang belum kembali ke performa terbaiknya sebagaimana di Madura. Namun tak bisa dielakkan, bahwa dia aset penting bagi Persebaya selain Bruno Moreira.
Rivera dan Moreira adalah dua pemain yang paling diwaspadai tim lawan. Segala daya upaya dilakukan untuk menghadang mereka, termasuk melakukan pelanggaran maupun memancing emosi.
Setidaknya Perez perlu memberikan perhatian kepada mereka dengan memberikan trik atau pendekatan khusus dalam mengantisipasi provokasi pemain lawan. Jika memang Rivera dan Moreira adalah kartu truf Persebaya, maka harus ada taktik untuk melindungi mereka dari gangguan pemain lawan.
Perez juga sebaiknya mulai menekankan kepada anak-anak asuhnya untuk bermain lebih dingin dan melakukan pelanggaran terukur.
Kita tahu ada kalanya pelanggaran merupakan bagian dari taktik, sebagaimana dengan fasih diterapkan Pep Guardiola dan Manchester City dan Jurgen Klopp di Liverpool. Pola ofensif mereka yang mengharuskan semua pemain bekerja kolektif mengepung daerah pertahanan lawan, meninggalkaj lubang di area pertahanan yang rentan terkena serangan balik.
Dalam situasi ini, pelanggaran terhadap pemain lawan saat kehilangan bola seringkali menjadi cara yang ampuh, untuk memberikan kesempatan kepada pemain belakang menyusun tembok pertahanan dan mencegah lawan mencetak gol.
Sejauh ini kita melihat pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan pemain Persebaya, yang di antaranya berbuah 15 kartu kuning, lebih dikarenakan hal-hal alamiah. Bukan sesuatu yang disusun sebagai bagian dari taktik. Maka sudah saatnya memikirkan cara agar pelanggaran menjadi sebuah keuntungan taktis bagi Persebaya, bukan kerugian yang bisa berdampak jangka panjang. [wir]






