Piala Dunia 1970 diselenggarakan di Meksiko. Kali ini Brasil mengamuk dan merebut Piala Jules Rimet untuk ketiga kalinya, yang berarti boleh memiliki piala itu untuk selamanya. Sepanjang enam pertandingan yang dilakoni di Piala Dunia saat itu, tak sekalipun Brasil mengalami kekalahan. Brasil tampil mengesankan dengan membabat Italia 4-1 di babak final.
Salah satu pertandingan yang bakal dikenang sepanjang masa adalah saat berhadapan dengan Inggris. Kiper Inggris Gordon Banks melakukan penyelamatan yang nyaris mustahil dengan menepis bola sundulan Pele. Momen ini disebut-sebut sebagai salah satu momen hebat Piala Dunia.
Piala Dunia 1970 dikenang sebagai piala dunia bersejarah, karena untuk kali pertama disiarkan secara langsung melalui televisi berwarna. Jam pertandingan pun disesuaikan dengan jam prime time televisi di Eropa.
Empat tahun kemudian di Jerman (Barat), untuk kali pertama dunia mengenal sebuah taktik permainan yang mendewakan attacking football (sepak bola menyerang), dengan mengandalkan satu sentuhan cepat dan pemain berubah-ubah posisi dengan cepat.
Pionir taktik ini adalah klub Ajax Amsterdam, yang kemudian diadaptasi tim nasional Belanda. Sjaak Swart, salah satu pemain Ajax, mengatakan, sebutan Total Football tidak berasal dari mereka, melainkan dari Inggris. “Setiap pemain harus berpikir sebagai playmaker, dan bahkan kiper bisa mengawali serangan,” tulis Simon Kuper, salah satu jurnalis Inggris.
Kelak Total Football ditularkan ke Spanyol oleh pemain-pemain Belanda yang dikontrak klub Barcelona. Klub ini menemukan versi Total Football sendiri bernama Tiki-Taka. Namun seluruh Barcelona mengakui, pondasi Tiki-Taka sudah dibangun saat Johan Cruijff, bintang Belanda dalam Piala Dunia 1974, melatih di sana.
Belanda menunjukkan kelasnya dengan menghajar Uruguay 2-0, menahan Swedia 0-0, mengalahkan Bulgaria 4-1. Dua raksasa Amerika Selatan, juara bertahan piala dunia Brasil dan Argentina, pun tak berdaya menghadapi Cruijff dan kawan-kawan. Belanda mempermalukan keduanya masing-masing dengan skor 2-0 dan 4-0. Perlawanan Jerman Timur diakhiri Belanda dengan skor 2-0.
Namun, tim yang bermain indah tak selamanya menjadi juara. Di final, Belanda berhadapan dengan tuan rumah Jerman Barat yang dipimpin Sang Kaisar Franz Beckenbauer. Sempat unggul lebih dulu pada menit kedua melalui tendangan Neeskens dari titik putih penalti, Belanda akhirnya menyerah 1-2.
Belanda mencoba kembali peruntungannya pada 1978. Tim Oranje menembus babak final dan bertemu dengan tuan rumah Argentina. Kali ini mereka takluk 1-3 dalam pertandingan penuh kontroversi. Belanda menuding Argentina memprovokasi penonton, dan mereka menolak menghadiri upacara penyerahan piala dan medali.
[berita-terkait number=”3″ tag=”piala-dunia-2022″]
Kekalahan Belanda bukan satu-satunya hal yang bakal dikenang penuh kesedihan oleh para penggemar sepak bola indah. Sejak awal ada jejak militer dalam penyelenggaraan piala dunia ini. Dua tahun sebelum pelaksanaan piala dunia, militer melakukan kudeta terhadap pemerintahan Isabel Martinez de Peron. Rezim militer menindas rakyat sipil habis-habisan.
FIFA sepertinya tak memiliki banyak pilihan selain tetap melanjutkan pelaksanaan Piala Dunia di Argentina. Rezim militer Argentina tak menyia-nyiakan kesempatan untuk memanipulasi Piala Dunia demi langgengnya kekuasaan mereka. Salah satunya dengan mengupayakan agar Tim Tango tampil di final dan merebut juara.
Sebetulnya tanpa ada upaya itu pun Argentina cukup memiliki kekuatan untuk Berjaya. Mereka punya dua bintang, Daniel Pasarella dan Mario Kempes. Namun rumor manipulasi tetap berkembang, salah satunya dengan jalan mengatur kemenangan 6-0 atas Peru untuk menyingkirkan Brasil dalam putaran kedua grup.
Rumor ini sulit dibuktikan. Namun media massa di Brasil menunjuk fakta bahwa kiper Peru lahir di Argentina. Hal lain terkait dengan kesepakatan politik: pemerintah Argentina membarter kemenangan telak ini dengan pengembalian pelarian politik dari Peru ke tanah air mereka. Pemain Peru menampik tudingan main mata ini.
Brasil akhirnya hanya merebut juara ketiga. Namun bangsa Brasil tetap merasa sebagai juara tanpa mahkota, karena kendati tak lolos ke final, tim ini tak sekalipun kalah dalam seluruh laga di Piala Dunia 1978. [wir/suf]






