Kediri (beritajatim.com) – Ratusan penyandang disabilitas di Kediri Raya menggelar upacara pengibaran Bendera Merah Putih untuk memperingati Hari Ulang Tahun ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia. Upacara penuh makna itu berlangsung di halaman Radio Andika FM Kediri, Minggu (17/8/2025) pukul 07.00 WIB.
Salah satu momen paling mengharukan adalah ketika Fitria, penyandang disabilitas dengan kondisi Orang dengan Kecacatan Berat (ODKB), dipercaya menjadi petugas pengibar bendera. Dengan bantuan kursi roda, ia bersama tim difabel lainnya menunaikan tugas sakral itu dengan penuh kebanggaan.
“Rasanya bangga banget karena ini pertama kalinya dalam hidup kita semua mengikuti upacara HUT Kemerdekaan,” ungkap Fitria dengan mata berbinar.
Meski diwarnai keterbatasan fisik, semangat mereka tak pernah surut. Fitria mengaku ada banyak kesulitan teknis saat latihan, terutama karena harus menyesuaikan gerakan dengan pengguna kursi roda.
Namun semangat untuk membuktikan bahwa difabel juga bisa berdiri sejajar dalam merayakan kemerdekaan membuat semua rintangan terlewati. “Kesulitan pasti ada. Lebih ke teknis sih karena kita pengguna kursi roda, kita harus menyesuaikan tim,” ujarnya.
Fitria, penyandang disabilitas fisik yang juga ikut terlibat, bercerita bahwa latihan intensif dilakukan beberapa hari sebelum upacara digelar. Latihan bahkan berlangsung tiga kali dalam sehari, termasuk memanfaatkan gedung SD sebagai lokasi latihan.
“Latihannya sehari tiga kali. Diluar itu juga menggunakan gedung SD untuk latihan,” tuturnya.
Upacara bertajuk Kami Juga Upacara: Kita Merdeka, Kita Setara ini diikuti 200 difabel dari Kediri Raya. Seluruh petugas upacara, mulai dari pengibar bendera hingga pembawa acara, juga berasal dari kalangan difabel. Pun demikian dengan para pesertanya.
Suasana kian khidmat ketika Direktur Radio Andika FM, Rofiq Huda, bertindak sebagai pembina upacara menyampaikan sejumlah amanat.
Selepas upacara bendera, para peserta larut dalam lantunan lagu-lagu kebangsaan. Musik angklung mengiringi, menghadirkan nuansa kebersamaan dan rasa haru yang menyelimuti seluruh peserta upacara.
Bagi mereka, kemerdekaan bukan hanya milik sebagian rakyat, melainkan hak penuh bagi setiap warga negara, termasuk penyandang disabilitas. [nm/suf]






