Ringkasan Berita:
- SDN 1 Pagotan Masuk Program Regrouping
- Guru Merasa Kehilangan Sekolah yang Sudah Dianggap Rumah Kedua
- Kegiatan Belajar Mengajar Tetap Berjalan Normal
- Diharapkan Berdampak Positif bagi Siswa
karena sudah mengenal banyak teman di sana.
Madiun (beritajatim.com) – Kebijakan regrouping atau penggabungan sekolah dasar yang mulai diterapkan Pemerintah Kabupaten Madiun pada tahun ajaran 2026/2027 menyisakan kisah haru bagi para guru dan siswa.
Salah satu yang merasakan dampak emosional dari kebijakan tersebut adalah Yeni Sarwendah, guru SDN 1 Pagotan, Kecamatan Geger, yang harus berpisah dengan sekolah tempatnya mengabdi selama lebih dari satu dekade.
SDN 1 Pagotan menjadi satu dari 19 sekolah dasar yang masuk dalam program regrouping yang digagas Pemkab Madiun. Sekolah yang berada di tepi Jalan Raya Madiun–Ponorogo itu rencananya akan digabung dengan SDN 1 Uteran sebagai bagian dari upaya penataan dan efisiensi penyelenggaraan pendidikan.
Bagi Yeni, keputusan tersebut bukan sekadar perubahan administratif. Sejak mulai mengajar pada 2015, ia telah membangun hubungan yang erat dengan para siswa, rekan guru, dan lingkungan sekolah yang selama ini menjadi bagian penting dalam perjalanan pengabdiannya sebagai pendidik.
“Rasanya seperti petir di siang bolong. Selama ini kami berusaha semaksimal mungkin mendidik anak-anak. Setiap ada event, sekolah kami juga selalu berusaha meraih prestasi. Tiba-tiba ada informasi regrouping,” ujarnya, Rabu (10/6/2026).
Saat ini, Yeni menjadi satu-satunya guru kelas yang masih bertugas di SDN 1 Pagotan. Lima guru kelas lainnya telah dipindahkan ke sekolah lain berdasarkan penugasan dari Dinas Pendidikan Kabupaten Madiun. Di sekolah tersebut kini hanya tersisa seorang guru Pendidikan Jasmani, Olahraga, dan Kesehatan (PJOK), satu guru Pendidikan Agama Islam berstatus Guru Tidak Tetap (GTT), serta dirinya sebagai guru kelas.
Meski berat menerima kenyataan tersebut, Yeni mengaku memahami bahwa kebijakan regrouping dilakukan pemerintah berdasarkan berbagai pertimbangan, termasuk efisiensi dan optimalisasi layanan pendidikan. Namun demikian, perasaan kehilangan tetap sulit dihindari.
“Saya sudah merasa menyatu dengan sekolah ini. Anak-anak sudah seperti anak sendiri, teman-teman guru juga seperti saudara. Sekolah ini benar-benar menjadi rumah kedua, jadi sedihnya luar biasa,” tuturnya.
Kebijakan regrouping sekolah sendiri merupakan salah satu strategi pemerintah daerah untuk menyesuaikan jumlah satuan pendidikan dengan kondisi jumlah peserta didik yang terus berubah. Selain meningkatkan efisiensi pengelolaan sekolah, langkah ini diharapkan mampu memperkuat kualitas layanan pendidikan melalui pemanfaatan sumber daya yang lebih optimal.
Saat ini SDN 1 Pagotan masih memiliki 32 siswa yang berasal dari Desa Pagotan, Desa Uteran, dan sejumlah wilayah di sekitarnya. Meski proses penggabungan mulai dipersiapkan, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung normal hingga akhir tahun ajaran.
Usai pelaksanaan ujian sekolah, aktivitas siswa lebih banyak diisi dengan kegiatan penguatan karakter, pembelajaran non-akademik, serta pemutaran film-film inspiratif. Sementara bagi siswa yang masih membutuhkan peningkatan hasil belajar, sekolah tetap memberikan program remedial.
Di tengah suasana perpisahan yang mulai terasa, Yeni berharap kebijakan regrouping benar-benar membawa manfaat bagi seluruh pihak, khususnya para siswa yang akan melanjutkan pendidikan di sekolah baru.
“Harapan kami tentu yang terbaik. Jika regrouping ini memang untuk efisiensi dan kebaikan bersama, semoga anak-anak bisa berkembang lebih baik di tempat yang baru dan bapak-ibu guru juga mendapatkan yang terbaik,” katanya.
Sementara itu, siswa kelas V SDN 1 Pagotan, M. Zidane, mengaku tidak merasa keberatan apabila nantinya harus melanjutkan pendidikan di SDN 1 Uteran. Menurutnya, banyak teman di sekolah tujuan yang sudah dikenalnya karena sering bermain bersama di lingkungan tempat tinggal.
“Tidak apa-apa. Banyak teman yang sudah kenal karena sering bermain bersama di rumah,” ucap Zidane.
Meski bangunan SDN 1 Pagotan nantinya tidak lagi digunakan sebagai tempat belajar, kenangan yang terbangun selama bertahun-tahun diyakini akan tetap melekat di hati para guru, siswa, dan masyarakat sekitar. Bagi mereka, sekolah bukan hanya tempat menimba ilmu, melainkan ruang yang menyimpan perjalanan, persahabatan, dan pengabdian yang sulit dilupakan.
Seiring pelaksanaan regrouping pada tahun ajaran baru mendatang, Pemerintah Kabupaten Madiun berharap penggabungan sekolah dapat meningkatkan efektivitas penyelenggaraan pendidikan sekaligus memberikan layanan belajar yang lebih optimal bagi peserta didik di wilayah tersebut.(rbr/ted)






