Ringkasan Berita:
- Sebanyak 15 siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 6 Jember berpartisipasi dalam Jember Fashion Carnaval (JFC) 2026.
- Seluruh kostum yang dikenakan merupakan hasil rancangan dan karya para siswa dengan pendampingan guru serta tim JFC.
- Proses pembuatan kostum berlangsung selama dua hingga tiga bulan dengan memanfaatkan bahan daur ulang.
- Keikutsertaan di JFC menjadi sarana meningkatkan kreativitas, keterampilan, dan kepercayaan diri para siswa.
Jember (beritajatim.com) – Belasan siswa Sekolah Rakyat Terintegrasi 6 Jember ikut memeriahkan Jember Fashion Carnaval (JFC) 2026 yang berlangsung pada 24-26 Juli 2026. Sebanyak 15 siswa ambil bagian dalam ajang tahunan tersebut dengan mengenakan kostum hasil rancangan dan karya mereka sendiri yang dibuat dari nol.
Delapan siswa tampil dalam World Kids Carnival, sedangkan tujuh siswa lainnya dipercaya menjadi peserta talent Grand Carnival. Keikutsertaan tersebut menjadi pengalaman perdana sekaligus proyek besar bagi Sekolah Rakyat Terintegrasi 6 dalam mendukung salah satu agenda budaya terbesar di Kabupaten Jember.
Kepala Sekolah Rakyat Terintegrasi 6, Kartika, mengatakan seluruh kostum yang dikenakan para siswa merupakan hasil kreativitas mereka sendiri dengan pendampingan guru, wali, dan tim JFC.
“Kostum yang dipakai anak-anak mulai dari head piece, mulai dari sayap, mulai dari desain baju sampai boots itu 100 persen karya anak-anak dengan pendampingan guru dan walinya dan tim JFC,” kata Kartika.
Menurutnya, tantangan terbesar bukan saat tampil di lintasan karnaval, melainkan ketika memulai proses pembuatan kostum karena para siswa dan guru belum memiliki pengalaman sebelumnya.
“Kami tidak ada pengalaman sebelumnya. Mulai dari nol. Cuma kami sudah berkomitmen dengan tim JFC yang 100 persen mendampingi kami,” katanya.
Kartika menjelaskan proses pembuatan head piece membutuhkan waktu hampir satu bulan. Setelah itu, para siswa melanjutkan pengerjaan pakaian, sayap, hingga berbagai aksesori pendukung. Sebagian bahan yang digunakan juga berasal dari material daur ulang sehingga membutuhkan ketelitian dalam proses pembuatannya.
“Belum bajunya, belum sayapnya. Karena waktu itu memang kami berkomitmen, karena kalau membeli baju jadi tidak sama dengan membuat dari nol. Dan ini kan juga ada bahan-bahan daur ulang,” kata Kartika.
Keberadaan sistem asrama membuat proses pengerjaan kostum menjadi lebih efektif. Para siswa memanfaatkan waktu di luar jam pembelajaran untuk menyelesaikan seluruh perlengkapan yang akan dikenakan saat JFC.
“Mereka mengerjakan kostum, headpiece, dan lain-lain itu tidak hanya di waktu-waktu kokurikuler saja. Dikerjakan sore hari, malam hari, Sabtu-Minggu nonstop selama dua sampai tiga bulan,” kata Kartika.
Sekolah Rakyat Terintegrasi 6 menjadikan JFC sebagai salah satu kegiatan kokurikuler sekaligus program unggulan sekolah. Selain mengembangkan keterampilan, kegiatan tersebut juga menjadi media untuk mengenalkan budaya Jember kepada para siswa.
“JFC ini salah satu akar budaya di Jember. Kami ingin terlibat di dalamnya sekaligus juga mempromosikan budaya Jember,” kata Kartika.
Ia berharap pengalaman mengikuti JFC tidak hanya memberikan kemampuan teknis dalam membuat kostum, tetapi juga membentuk karakter dan meningkatkan rasa percaya diri para siswa.
“Tidak hanya life skill, tapi juga menumbuhkan kepercayaan diri. Karena kepercayaan diri anak-anak kami sebelumnya tergolong tidak tinggi. Mungkin dia merasa berbeda sebelumnya di sekolah reguler,” kata Kartika.
Seluruh siswa dilibatkan sejak tahap perencanaan hingga penyelesaian kostum. Proses tersebut, menurut Kartika, menjadi pengalaman yang sangat berharga karena mengajarkan kerja sama, kreativitas, dan tanggung jawab.
“Prosesnya itu kan dilibatkan itu semua. Semua itu sangat berkesan untuk anak-anak,” katanya.
Para guru juga terus memberikan motivasi agar para siswa berani menunjukkan kemampuan mereka di panggung JFC meski berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi kurang mampu.
“Bahwa meskipun kamu berasal dari desil 1, desil 2, tunjukkan bahwa kamu bisa, bahwa kamu bisa mengharumkan nama sekolah, bahkan mengharumkan nama Jember dengan terlibat di kegiatan JFC ini,” kata Kartika.
Menurutnya, perubahan sikap para siswa mulai terlihat setelah mengikuti seluruh rangkaian persiapan hingga tampil di JFC. Kepercayaan diri mereka meningkat dan semakin berani menunjukkan kemampuan di depan publik.
“Sudah mau tampil. Itu kan tidak mudah. Orang hanya melihatnya ketika tampil. Tetapi ketika berproses itu luar biasa. Dan pendampingan guru dan wali di sini juga saya akui luar biasa,” katanya.
Kartika menegaskan pihaknya berkomitmen terus berpartisipasi dalam Jember Fashion Carnaval pada tahun-tahun mendatang sebagai bentuk dukungan terhadap program unggulan Kabupaten Jember sekaligus pengembangan karakter siswa Sekolah Rakyat.
“Ini program unggulan Kabupaten Jember dan Sekolah Rakyat program unggulan presiden. Dan kami bersama pemerintah daerah bersinergi, berkolaborasi,” katanya. [wir/beq]






