Ringkasan Berita:
- Dinkes Kabupaten Blitar mencatat hanya 44 penderita DBD hingga pertengahan 2026.
- Jumlah tersebut turun drastis dibanding 1.359 kasus pada 2024 dan 540 kasus pada 2025.
- Penurunan dipengaruhi kolaborasi pemerintah, puskesmas, dan masyarakat melalui berbagai program pencegahan.
- Meski tren membaik, masyarakat tetap diminta disiplin menjalankan gerakan 3M Plus.
Blitar (beritajatim.com) – Upaya pengendalian Demam Berdarah Dengue (DBD) di Kabupaten Blitar menunjukkan hasil yang menggembirakan. Hingga pertengahan 2026, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Blitar mencatat hanya terdapat 44 penderita DBD, turun drastis dibandingkan dua tahun sebelumnya yang sempat mencapai ribuan.
Berdasarkan data resmi Dinkes Kabupaten Blitar, hingga pertengahan tahun ini tercatat 44 kasus DBD. Angka tersebut merosot tajam dibandingkan tahun 2024 yang mencapai 1.359 kasus, sedangkan pada 2025 jumlahnya masih berada di angka 540 kasus.
Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinkes Kabupaten Blitar, drg. Anggit Ditya Putranto, mengatakan penurunan tersebut merupakan hasil kolaborasi antara pemerintah daerah, puskesmas, dan masyarakat dalam menjalankan berbagai upaya pencegahan.
“Capaian 44 kasus ini menunjukkan tren yang cukup baik. Upaya yang kami lakukan bersama puskesmas dan masyarakat, mulai dari pemetaan wilayah endemis, gerakan Satu Rumah Satu Jumantik, hingga distribusi larvasida cukup membantu menekan perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti,” ujar drg. Anggit, Sabtu (25/7/2026).
Meski tren penularan menunjukkan penurunan signifikan, Dinkes Kabupaten Blitar memastikan pengawasan tidak akan dikendurkan. Pemantauan tetap difokuskan pada wilayah-wilayah yang masih ditemukan penularan untuk mencegah munculnya lonjakan baru.
Anggit menegaskan keberhasilan mempertahankan tren penurunan DBD sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan memutus siklus perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti.
Karena itu, Dinkes kembali mengimbau masyarakat agar konsisten menerapkan gerakan 3M Plus, yakni:
- Menguras tempat penampungan air secara berkala.
- Menutup rapat seluruh wadah penyimpanan air.
- Mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi tempat penampungan air hujan.
- Menjaga kebersihan lingkungan serta menghindari gigitan nyamuk.
Menurut Anggit, langkah-langkah sederhana tersebut tetap menjadi cara paling efektif untuk mencegah penyebaran DBD, terutama saat kondisi cuaca mendukung berkembangnya nyamuk pembawa virus dengue.
“Langkah preventif yang konsisten dari lingkungan terkecil diharapkan dapat mempertahankan tren penurunan kasus DBD di Kabupaten Blitar hingga akhir tahun 2026,” pungkasnya. [owi/beq]






