Ponorogo (beritajatim.com) – Hari Batik Nasional yang diperingati setiap 2 Oktober kembali menjadi momentum refleksi bagi para pengrajin batik di Ponorogo. Kristine Hery Purnamawati, pendiri Batik Lesoeng Ponorogo, mengusulkan agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Ponorogo membuat kebijakan pemakaian batik lokal sehari dalam sepekan.
“Di hari batik ini, harapannya ada stimulus untuk pengrajin batik. Stimulusnya ya seminggu sekali pakai batik,” kat Kristine, Kamis (2/10/2025).
Menurut Kristine, pemakaian batik tidak sekadar seremonial, melainkan bagian dari upaya menjaga eksistensi pengrajin lokal. Dia menegaskan, yang digunakan haruslah batik khas Ponorogo, hasil karya para pengrajin daerah, agar roda ekonomi tetap berputar.
“Kegiatan yang hubungannya dengan tenaga kerja, ya diupayakan harus tetap eksis. Harapannya tetap ada stimulus, yakni tetap pakai batik lokal,” katanya.
Kristine mendirikan Batik Lesoeng pada 2008 dengan semangat melestarikan motif pakem khas Ponorogo. Keinginannya sederhana, yakni agar batik Ponorogo tidak kalah oleh tren motif kontemporer.
“Sekarang banyak yang lebih memilih motif kontemporer. Saya ingin agar motif batik Ponorogo lama tetap lestari,” jelasnya.
Meski proses pembuatan batik tulis membutuhkan ketelatenan dan waktu lama, Kristine menyebut Batik Lesoeng justru mampu menembus pasar internasional. Karya batik tulisnya telah sampai ke Singapura hingga Turki.
“Batik tulis Ponorogo masih memiliki tempat di hati konsumen, baik lokal maupun mancanegara,” tutur Kristine.
Kristine berharap yang berwenang memberi ruang lebih besar untuk mempromosikan batik lokal. Dia percaya, jika pemakaian batik lokal dijadikan kebiasaan, bukan hanya pengrajin yang mendapat manfaat, tetapi juga identitas budaya Ponorogo akan semakin kokoh di kancah nasional maupun global. [end/aje]






