Sampang (beritajatim.com) – Memasuki musim panen, petani garam di Kabupaten Sampang, Madura, tengah menghadapi masa sulit. Harga jual garam anjlok tajam hingga nyaris separuh dari harga sebelumnya. Dari harga Rp1.500 per kilogram, kini garam rakyat hanya dihargai Rp800 per kilogram.
Satu sak garam seberat 70 hingga 75 kilogram kini hanya laku Rp56.000 hingga Rp60.000. Angka ini dinilai tak sebanding dengan jerih payah para petani yang bertaruh di bawah terik matahari demi menghasilkan kristal-kristal putih dari penguapan air laut.
Moh. Jamali, salah satu petani garam asal Sampang, mengaku kecewa berat dengan kondisi ini. Ia menyebut pendapatan dari hasil panen hanya cukup untuk menyambung hidup, jauh dari kata sejahtera.
“Hasilnya hanya cukup untuk bertahan hidup, tidak lebih dari itu,” ujarnya, Kamis (31/7/2025).
Kondisi kian diperparah oleh musim kemarau yang datang terlambat dan cuaca yang tidak menentu, yang membuat volume produksi garam menurun drastis. Ketidakpastian ini membuat semangat petani mulai luntur.
“Garam adalah satu-satunya sumber penghidupan kami. Kalau harganya hancur seperti ini, maka harapan kami juga ikut mati,” imbuh Jamali.
Senada dengan Jamali, Sukron Hafidi, pemilik lahan garam di Desa Disanah, juga mengaku merugi karena ongkos produksi tinggi sementara hasil penjualan tidak memadai.
“Jika kondisi harga garam ini tidak stabil maka kami memilih untuk tidak memproduksi garam karena harganya tidak sebanding dengan pengeluaran, tetapi jika yang punya gudang enak karena bisa menampung hasil panen sembari menunggu harga mahal,” pungkasnya.
Kondisi ini kembali menyorot lemahnya tata niaga garam rakyat yang tak kunjung berpihak pada petani. Di tengah ketidakpastian harga dan cuaca, petani berharap ada langkah konkret dari pemerintah agar harga garam bisa kembali stabil dan menjamin kelangsungan hidup mereka. [sar/beq]






