Jakarta (beritajatim.com) – Pemandangan berbeda terlihat di pelataran gedung serbaguna Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, Sabtu (17/1/2026). Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) RI, Dr. Dahnil Anzar Simanjuntak, tampak duduk bersila di antara ribuan calon Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) 2026, menikmati sarapan nasi kotak ala militer usai mengikuti kegiatan fun walk dan lari sejauh 5 kilometer.
Momen makan bersama tersebut bukan sekadar rutinitas, melainkan simbol runtuhnya sekat birokrasi antara pimpinan kementerian dengan para petugas yang akan mengemban tugas melayani jemaah haji di Tanah Suci mulai April mendatang.
Dahnil Anzar mengungkapkan bahwa pola pelatihan semi-militer yang diterapkan dalam Diklat PPIH tahun ini sempat menuai sikap skeptis dari sebagian peserta pada awal pelaksanaan. Bahkan, muncul istilah military phobia untuk menggambarkan kekhawatiran terhadap pendekatan pelatihan tersebut.
“Awalnya mereka mencibir, merasa ini terlalu militeristik. Tapi faktanya, yang ditemukan adalah kedisiplinan, kekompakan, dan kegembiraan. Kami ingin membuang military phobia karena nilai-nilai disiplin dari TNI/Polri sangat kita butuhkan untuk melayani jemaah,” tegas Dahnil sembari menunjukkan piring makannya.
Dalam kegiatan fisik tersebut, Dahnil memilih bergabung dengan kelompok peserta yang berlari sejauh 7 kilometer, bagian dari target berjenjang hingga 10 kilometer. Menurutnya, kebugaran fisik merupakan prasyarat mutlak bagi petugas haji, mengingat haji adalah ibadah puncak yang menuntut kesiapan fisik dan mental.
Selain aspek fisik, Wamenhaj juga menyoroti komposisi petugas haji 2026 yang mencatatkan capaian baru dengan keterwakilan perempuan mencapai 33,2 persen, melampaui target awal sebesar 30 persen.
“Jemaah kita sebagian besar adalah perempuan dan lansia. Afirmasi ini penting karena jemaah hajah akan jauh lebih nyaman berkonsultasi soal ibadah dengan petugas perempuan. Kami ingin ada hubungan emosional, menjaga jemaah seperti menjaga orang tua sendiri,” tambahnya.
Persiapan petugas haji, kata Dahnil, tidak berhenti pada tahapan diklat di Asrama Haji Pondok Gede. Kementerian Haji dan Umrah akan menerapkan program refreshment dan bonding secara berkala hingga jadwal keberangkatan pada April 2026.
“Ini adalah pertama kalinya dalam sejarah petugas digembleng seserius ini. Pasca-diklat, mereka akan tetap dimonitor kesehatannya dan dikumpulkan secara berkala untuk menjaga Ta’liful Qulub atau ikatan hati agar tetap kompak saat bertugas nanti,” jelasnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dahnil juga mengingatkan pentingnya keteladanan petugas, termasuk dalam bermedia sosial. Ia menegaskan agar tidak ada unggahan tanpa konteks yang berpotensi menimbulkan kegaduhan publik.
“Petugas harus menjadi teladan bagi jemaah. Jangan ada konten tanpa konteks yang membuat kegaduhan. Semua pengaduan kini akan terpusat melalui kanal Kawal Haji,” ujar Dahnil, menutup sesi wawancara usai sarapan bersama yang dilanjutkan dengan apel pagi.
Diklat PPIH 2026 menjadi bagian dari program transformasi layanan haji yang mengintegrasikan kesiapan fisik, penguatan bahasa Arab, penguasaan fiqih haji, serta perlindungan kesehatan melalui skema asuransi dan BPJS Kesehatan bagi seluruh jemaah dan petugas. [ian/beq]







1 Komentar
itu bukan latihan militer tapi bimbingan fisik dan mental. yg selama ini pakarnya adalah TNI.