Jakarta (beritajatim.com) – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 memperkuat mitigasi darurat dengan menggelar simulasi kedatangan jemaah di Bandara Madinah untuk menangani kendala teknis seperti paspor tertinggal hingga jemaah lansia yang terpisah dari rombongan.
Simulasi intensif ini dilaksanakan di Asrama Haji Pondok Gede, Jakarta, pada Selasa (27/1/2026) sebagai bagian dari pekan terakhir Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) petugas Daerah Kerja (Daker) Bandara.
Gedung A Asrama Haji Pondok Gede disulap menyerupai atmosfer bandara internasional untuk melatih kesigapan petugas dalam menyambut gelombang kedatangan jemaah. Prosesi simulasi mencakup seluruh tahapan krusial, mulai dari pemindaian (scanning) fisik dan barang bawaan, pemeriksaan imigrasi, hingga mobilisasi jemaah menuju bus jemputan yang akan mengantar mereka ke hotel atau pemondokan.
Perwira Kopassus, Letkol (TNI) Surnadi, yang terlibat dalam pelatihan tersebut menekankan bahwa geladi ini merupakan sarana vital untuk menguji ketangkasan petugas di lapangan. Menurutnya, skenario darurat yang disimulasikan didasarkan pada kejadian nyata yang kerap dialami jemaah Indonesia, termasuk jemaah asal berbagai daerah seperti Jawa Timur yang memiliki proporsi jemaah lansia cukup besar.
“Dalam geladi tadi disimulasikan beberapa permasalahan, seperti jemaah yang merasa kehilangan atau lupa menyimpan paspor, padahal paspor tersebut diamankan oleh rekan satu rombongan,” ujar Letkol (TNI) Surnadi di sela-sela kegiatan simulasi.
Letkol Surnadi menekankan pentingnya peran petugas untuk menjaga kondisi psikologis jemaah agar tidak timbul kepanikan massal saat menghadapi kendala. Seluruh unsur petugas, mulai dari Perlindungan Jemaah (Linjam), imigrasi, hingga Pelayanan Pulang (Yanpul), dilatih untuk memberikan solusi cepat di tempat (on-site solution) tanpa birokrasi yang berbelit.
“Nanti ada petugas-petugas yang akan menyelesaikan permasalahan tersebut. Jemaah tidak perlu panik,” tegas Letkol Surnadi untuk memberikan rasa aman bagi calon jemaah haji.
Selain urusan dokumen, penanganan jemaah lansia yang tertinggal atau terpisah dari rombongan menjadi prioritas utama dalam geladi ini. Mengingat tantangan fisik di bandara yang luas dan padat, petugas diharapkan memiliki pemahaman prosedur yang seragam agar penanganan jemaah bisa dilakukan secara presisi dan manusiawi.
“Latihan ini sangat mendukung seluruh unsur tugas, baik tusi Linjam, imigrasi, Yanpul, maupun unsur lainnya, agar mengetahui secara langsung bagaimana langkah-langkah penanganan yang tepat,” jelas Surnadi lebih lanjut.
Simulasi ini menjadi tahap akhir sebelum para petugas diberangkatkan ke Arab Saudi untuk menjalankan tugas resmi. Letkol Surnadi mengingatkan bahwa kunci keberhasilan pelayanan di bandara adalah kecepatan petugas dalam mengendalikan situasi tanpa memicu kecemasan pada jemaah yang baru saja menempuh perjalanan udara panjang.
“Intinya, petugas harus mampu memberikan solusi langsung di lapangan dan mencegah kepanikan,” pungkasnya. [ian/aje]






