Ringkasan Berita:
- PPIH Arab Saudi menghadirkan layanan khusus bagi jemaah lansia dan disabilitas selama haji 2026.
- Pelayanan mencakup bantuan fisik, penggantian popok, pendampingan ibadah, hingga video call keluarga.
- Hotel pemondokan di Madinah disiapkan ramah disabilitas dengan fasilitas kursi roda dan akses khusus.
- Jemaah lansia diimbau menjaga stamina menghadapi puncak ibadah haji di Armuzna.
Madinah (beritajatim.com) – Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi menghadirkan layanan komprehensif bagi jemaah lanjut usia (lansia) dan disabilitas selama pelaksanaan ibadah haji 2026. Program Haji Ramah Lansia ini mencakup pendampingan fisik, bantuan kebutuhan personal seperti penggantian popok, hingga fasilitasi komunikasi video dengan keluarga di Indonesia.
Pelayanan khusus tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam memastikan keamanan, kenyamanan, dan inklusivitas seluruh jemaah Indonesia selama berada di Tanah Suci.
Penguatan layanan terlihat saat kedatangan jemaah haji Embarkasi Kertajati (KJT) Kloter 8 di Hotel Manail Al Aswaf, Sektor 5 Madinah, Senin malam (27/4/2026). Petugas khusus lansia dan disabilitas siaga sejak jemaah turun dari bus bandara hingga masuk ke kamar hotel.
Kepala Bidang Lansia dan Disabilitas (Landis) PPIH Arab Saudi, Suviyanto, menegaskan bahwa fase kedatangan menjadi titik penting dalam pelayanan karena membutuhkan penanganan lebih intensif.
“Pelayanan pertama saat kedatangan menjadi perhatian utama. Ketika jemaah lansia naik dan turun dari bus, prosesnya dilakukan secara khusus agar tidak mengganggu layanan jemaah lain dan mereka bisa mendapatkan penanganan yang lebih maksimal,” ujar Suviyanto.
PPIH membagi pelayanan Haji Ramah Lansia ke dalam tiga pilar utama, yakni layanan fisik, ibadah, dan sosial. Ketiganya dirancang untuk memenuhi kebutuhan menyeluruh jemaah lansia, baik dari aspek kesehatan, spiritual, maupun emosional.
“Mulai dari menggantikan pampers, jika terpisah dengan rombongan kita usahakan untuk bergabung kembali ke rombongannya, bahkan dibantu juga untuk menghubungi keluarga di rumah lewat telepon petugas. Kebutuhan fisik sampai sosialnya, petugas harus siap bantu,” jelasnya.
Selain itu, akomodasi hotel di Madinah telah dipastikan mendukung mobilitas jemaah disabilitas dengan fasilitas akses ramah kursi roda, ramp door, lift mudah dijangkau, hingga ruang istirahat sementara di lobi hotel.
Petugas juga melakukan pencatatan detail posisi kamar setiap jemaah lansia, mulai dari kloter, lantai, hingga nomor kamar, guna mempermudah visitasi rutin dan respons cepat jika terjadi kondisi darurat.
Di tengah cuaca panas ekstrem di Madinah dan Makkah, PPIH mengimbau jemaah lansia, khususnya usia di atas 60 tahun, untuk membatasi aktivitas fisik berat di luar hotel demi menjaga stamina menghadapi puncak ibadah di Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna).
“Kondisi di sini cukup panas. Kami mengimbau jemaah yang berusia di atas 60 tahun untuk tidak terlalu banyak beraktivitas di luar, terutama untuk ibadah sunnah. Simpan tenaga untuk puncak haji nanti,” katanya.
Meski demikian, PPIH tetap memastikan pendampingan penuh untuk pelaksanaan ibadah wajib maupun ziarah penting seperti Raudhah dan umrah wajib, dengan dukungan ketua rombongan serta ketua regu.
Langkah ini diharapkan mampu memperkuat sistem pelayanan haji Indonesia yang semakin adaptif, manusiawi, dan berorientasi pada kebutuhan jemaah rentan. [ian/beq]






