RINGKASAN BERITA:
- KJRI Jeddah membekali 677 tenaga pendukung haji di Makkah dengan filosofi militansi ‘Tepung’.
- Konjen Yusron B. Ambary menegaskan pelayanan jemaah hanya sukses melalui kerja ‘Super Tim’.
- Petugas dari unsur mahasiswa dan mukimin diwajibkan menguasai navigasi medan dan bahasa Arab.
- Integritas petugas diperkuat melalui kepatuhan dokumen digital kartu Nusuk dan visa haji resmi.
Makkah (beritajatim.com) – Konsul Jenderal Republik Indonesia (KJRI) di Jeddah, Yusron B. Ambary, menekankan filosofi “Tepung” dan pentingnya membangun “Super Tim” untuk menyukseskan operasional haji 1447 H/2026 M saat membuka bimbingan teknis (bimtek) bagi 677 tenaga pendukung di Makkah, Senin (27/4/2026).
Strategi ini menuntut militansi tinggi dari para petugas yang mayoritas merupakan mahasiswa dan mukimin agar mampu memberikan pelayanan manusiawi bagi jemaah Indonesia, termasuk kelompok lansia dan disabilitas yang jumlahnya mencapai ribuan pada musim haji kali ini.
Wartawan beritajatim.com, Muhammad Isnan yang tergabung dalam Media Haji Center (MHC) Kemenhaj RI melaporkan dari Arab Saudi, pengukuhan 677 petugas pendukung di Al-Wehda Tower Hotel, Jarwal, ini menjadi pilar utama dalam memperkuat lini depan pelayanan.
Yusron menggarisbawahi bahwa kekuatan petugas pendukung terletak pada kefasihan bahasa Arab dan penguasaan medan yang akan menjadi jembatan solusi bagi segala kendala yang dihadapi jemaah di hotel, terminal, hingga katering.
Militansi di Balik Filosofi ‘Tepung’
Yusron memberikan makna mendalam terhadap akronim “Tepung” (Tenaga Pendukung) sebagai simbol kerja keras tanpa pamrih. Ia menganalogikan petugas dengan tepung di dapur yang harus siap dalam kondisi apa pun demi menghasilkan hasil akhir yang sempurna bagi jemaah.
“Tepung itu artinya mereka harus siap berantakan seperti tepung di dapur. Bekerja keras, pontang-panting, bahkan lari jika dibutuhkan. Namun, dari proses yang berantakan itu, lahir kue yang indah dan lezat. Dalam konteks ini, hasilnya adalah jamaah haji yang mabrur,” ujar Yusron B. Ambary dengan penuh semangat di hadapan para peserta bimtek.
Filosofi ini menuntut para mahasiswa asal Mesir, Libya, Yaman, hingga Maroko yang tergabung dalam tim ini untuk proaktif menyisir kebutuhan jemaah. Mereka diposisikan bukan sekadar sebagai penerjemah, melainkan sebagai tim reaksi cepat yang siap “berantakan” di lapangan demi memastikan tidak ada jemaah yang telantar atau tersesat di wilayah Markaziah.
Super Tim: Tidak Ada Ruang Bagi Superman
Dalam arahannya, Yusron secara tegas mengingatkan bahwa penyelenggaraan ibadah haji dengan kuota 221.000 jemaah Indonesia tidak bisa diselesaikan dengan kerja individu. Ia menekankan bahwa PPIH dan tenaga pendukung harus melebur menjadi satu keluarga besar yang solid.
“PPIH dari pusat maupun tenaga pendukung adalah sebuah keluarga, yang mana kita harus memperkuat satu sama lain. Saya tidak pernah percaya yang namanya Superman, yang ada adalah super tim,” kata Yusron.
Konsep “Super Tim” ini menjadi sangat krusial mengingat data terbaru menunjukkan sebanyak 30.611 jemaah haji Indonesia telah mendarat di Tanah Suci, dengan 6.172 di antaranya merupakan jemaah lansia. Yusron mengingatkan petugas bahwa kasus hukum atau kendala teknis di lapangan sering kali dapat diselesaikan melalui komunikasi persuasif yang baik oleh petugas lokal sebelum masuk ke sistem formal otoritas Arab Saudi.
Disiplin Aturan dan Integritas Petugas
Sejalan dengan penguatan “Super Tim”, Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) RI mewajibkan seluruh 677 petugas yang mengikuti bimtek hari ini untuk taat pada regulasi digital dan administrasi. Integritas sebagai petugas haji resmi dipertaruhkan lewat kepemilikan dokumen mulai dari tasreh, visa haji, hingga penggunaan aplikasi Nusuk.
Ketegasan ini bertujuan agar para petugas dapat menjadi teladan bagi jemaah dalam mematuhi aturan pemerintah Arab Saudi. Dengan bekal filosofi Tepung dan mentalitas Super Tim, para petugas pendukung ini diharapkan menjadi garda terdepan dalam mewujudkan misi Haji Ramah Lansia hingga puncak wukuf di Arafah mendatang. [ian/MCH]






