Kediri (beritajatim.com) – Pemerintah Kota Kediri mengambil langkah proaktif dengan membuka ruang dialog bersama tokoh masyarakat guna merumuskan solusi atas mandeknya proyek pembangunan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Alun-Alun Kediri. Diskusi strategis tersebut berlangsung di kediaman pribadi salah satu tokoh masyarakat setempat.
Pertemuan ini turut dihadiri secara langsung oleh Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (DPUPR) serta Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Kota Kediri, dengan fokus utama mencari jalan keluar agar ikon kawasan publik tersebut tidak terus dibiarkan terbengkalai.
Dalam forum tersebut, K.H. Muhammad Anwar Iskandar atau yang akrab disapa Gus War, selaku tokoh masyarakat sekaligus pendiri Pondok Pesantren Al-Amien Rejomulyo, menyuarakan desakan kuat agar proyek RTH Alun-Alun Kediri segera dilanjutkan. Menurutnya, percepatan pembangunan ini sangat mendesak agar kawasan pusat kota tidak tampak kumuh di mata publik.
Ia menekankan bahwa kebersihan serta kerapian tata ruang RTH Alun-Alun merupakan cerminan langsung dari karakter warga Kota Kediri yang senantiasa menjaga kebersihan, ketertiban, dan estetika.
Lebih dari sekadar wajah tata kota, Gus War menyoroti dampak matinya roda ekonomi kerakyatan akibat terhentinya proyek tersebut. Alun-Alun Kediri selama ini menjadi urat nadi perekonomian bagi para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) setempat.
“Dulu sebelum dibangun itu kan tempat masyarakat berjualan mencari nafkah untuk kehidupan sehari-hari, setelah dibangun masyarakat berhenti. Setelah selesai akan memberi kesempatan kepada masyarakat yang sempat terhenti usahanya untuk menjalankan kehidupan jualannya sehari-hari aktif lagi, ini merupakan aspek sosial dan ekonomi yang sangat penting,” terangnya memaparkan realitas di lapangan.

Selain fungsi pemberdayaan ekonomi, kelanjutan pembangunan RTH juga sangat dinantikan oleh warga sebagai sarana rekreasi yang representatif, baik untuk berolahraga santai maupun menghabiskan waktu luang bersama keluarga. Gus War meyakini bahwa penyelesaian proyek ini secara cepat dan tepat akan membawa dampak multidimensi bagi kota.
“Pertama, akan kelihatan wajah dan etalase Kota Kediri yang rapi, bersih, dan baik. Kedua, bisa menghidupkan UMKM. Ketiga, bisa menjadi tempat rekreasi kecil bermain keluarga,” sebutnya menegaskan urgensi ruang publik terpadu.
Menutup dialog tersebut, Gus War memperingatkan bahwa membiarkan kondisi Alun-Alun mangkrak terlalu lama akan memunculkan persepsi negatif bahwa masyarakat dan pemerintah seakan tidak peduli dengan ketertiban lingkungan. Ia menaruh harapan besar agar Pemerintah Kota Kediri dan pihak rekanan pelaksana proyek dapat duduk bersama mencari titik temu win-win solution dengan mengesampingkan ego sektoral.
“Jangan semuanya hanya dihitung berdasarkan angka-angka yang bersifat material tapi aspek-aspek sosial, aspek-aspek yang bersifat humaniti juga perlu untuk diperhatikan. semoga bisa segera clear dan terwujud secepatnya,” tutupnya berpesan. [nm/but]






