Surabaya (beritajatim.com) – Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) tengah mengkaji rencana untuk mengabadikan nama mendiang Johan Silas di lingkungan kampus. Ini sebagai bentuk penghormatan atas dedikasi sang arsitek.
Rektor ITS Prof Bambang Pramujati menyebut mendiang merupakan salah satu putra terbaik kampus. Sosoknya dikenal luas tidak hanya di dalam negeri, tetapi juga di kancah mancanegara.
“Sosok guru teladan bagi kami dan tentunya beliau adalah seorang humanis sejati. Kami merasakan kehilangan yang luar biasa besar,” ujar Bambang, Sabtu (13/6/2026).
Pihak kampus saat ini mulai memikirkan cara terbaik agar rekam jejak Johan Silas terus diingat. Salah satu wacana yang muncul adalah menjadikan namanya sebagai identitas fasilitas fisik seperti gedung.
“Kami akan mencoba mencari alternatif agar namanya selalu dikenang di ITS dan jadi pengingat bahwa kami memiliki sosok luar biasa, namun sangat sederhana,” kata Bambang.
Selain penamaan infrastruktur, ITS juga merespons informasi keluarga terkait koleksi buku dan karya sang arsitek. Bambang berencana untuk mendiskusikan pemanfaatan peninggalan tersebut.
“Nanti akan kita diskusikan penempatan buku-buku itu. Apakah tetap di rumah beliau untuk tempat diskusi arsitektur kampung, ataukah dibawa ke perpustakaan menjadi Pojok Johan Silas,” tuturnya.
Pendekatan pembangunan yang memanusiakan warga menjadi warisan paling dikenang dari mendiang. Kontribusinya dalam penataan Kota Surabaya dinilai sukses melindungi warga.
“Jadi, di kampung-kampung sini yang harusnya digusur semua bisa berjalan baik karena pendekatan beliau yang sangat humanis,” pungkas Bambang.
Sebagai informasi, Guru Besar Departemen Arsitektur Prof Johan Silas wafat di usia 90 tahun pada Senin, 8 Juni 2026, pukul 03.24 WIB. Pihak ITS pun menggelar upacara penghormatan terakhir untuk mendiang pada Sabtu (13/6) di Plasa dr Angka kampus setempat. [ipl/kun]






