Surabaya (beritajatim.com) – Wakil Ketua PP LAZISNU, Ubaidillah Amin (Gus Ubaid) mengatakan, memuliakan dan menghormati presiden atau pemimpin sebenarnya sudah diajarkan oleh Rasulullah dalam salah satu haditsnya.
“Sungguh di antara bentuk mengagungkan Allah adalah memuliakan muslim yang berusia tua, memuliakan penghafal Alquran yang tidak melampaui batas dalam Alquran dan tidak menyepelekannya dan memuliakan penguasa yang adil (HR. Abu Daud),” kata Gus Ubaid, Senin (10/1/2022).
Gus Ubaid yang merupakan Pengasuh Ponpes Annuriyyah Kaliwining Jember menjelaskan, Syaikh Abdurra’uf al-Munawi dalam at-Taisir bi Syarh al-Jami’ as-Shagir juga menjelaskan mengenai hal ini. “Karena tentunya agama hanya dapat dihasilkan dengan ibadah, sementara ibadah tidak dapat dilakukan tanpa pemimpin yang dipatuhi dan dimuliakan (Abdur Ra’uf al-Munawi, at-Taisir bi Syarh al-Jami’ as-Shagir, Juz 2, Hal. 138),” imbuhnya.
[berita-terkait number=”5″ tag=”gus-ubaid”]
Berdasarkan hal tersebut, maka menurut dia, wajib bagi rakyat Indonesia untuk menghormati dan menjaga etika kepada Presiden RI Joko Widodo. “Walaupun kita berbeda pandangan dalam kebijakan yang dipilih oleh pemerintah, selama kebijakan pemerintah tidak bertentangan dengan nash qath’i (Alquran dan Hadits). Bahkan, bila kita menilik sejarah, dulu saat pemerintah Islam dipimpin oleh Rezim Muktazilah Jahmiyyah, seperti Khalifah al-Makmun, al-Watsiq dan al-Mu’tashim, tidak satu pun ulama Ahlussunnah wal jama’ah melecehkan dan memberontak terhadap mereka. Para ulama saat itu juga tidak pernah memfatwakan haram berjamaah di belakang para pemimpin yang bukan ahlussunnah wal jama’ah itu,” jelasnya.
Tidak pula ada yang mengharamkan ikut agresi militer bersama mereka. Padahal banyak ulama yang kredibel pada waktu itu, seperti Imam Ahmad bin Hanbal, al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi, Abu Daud dan ulama-ulama kenamaan abad ketiga hijriyah yang lainnya.
“Jika para ulama kita dahulu betul-betul menjaga akhlak meski dengan pemimpin yang berbeda haluan dalam ranah akidah, lantas sikap kita yang mencela dan menghina pemimpin hanya karena kebijakan yang dipilih tidak satu pandangan dengan kita, apakah hal ini pantas dilakukan?” imbuhnya.
“Maka dari itu, sudah menjadi kewajiban atas segala kebijakan pemerintah alangkah baiknya kita hormati, patuhi dan teladani. Jika seandainya berbeda dengan pandangan pribadi kita, sampaikan dengan kritik yang santun dan berakhlak. Nabi Musa dan Nabi Harun saja ketika diutus oleh Allah pada Raja Firaun diperintahkan untuk menyampaikan pesan dengan lemah lembut. Seperti dijelaskan dalam Alquran: Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut (QS. Thaha, Ayat: 44),” pungkasnya. (tok/kun)






