Jember (beritajatim.com) – Hasil hitung cepat menunjukkan persentase perolehan suara Partai Persatuan Pembangunan (PPP) berada di tepi jurang alias tidak cukup memenuhi ambang batas parlemen 4 persen. Sebuah ironi politik terjadi jika PPP benar-benar gagal menembus senayan.
Quick count Litbang Kompas dan Lingkaran Survei Indonesia Denny JA sama-sama menyebut PPP hanya meraup suara 3,88 persen. “Sangat ironis, di negara yang mayoritas berpenduduk muslim, ada partai Islam berlambangkan ka’bah tidak lolos,” kata Ketua Dewan Pimpinan Cabang PPP Jember Madini Farouq, Minggu (18/2/2024).
Gus Mamak, sapaan akran Madini, menilai perlu ada evaluasi menyeluruh di internal PPP maupun aspek eksternal. “Umat ini sekarang apakah benar-benar sudah menjadi golongan sekuler yang memisahkan agama dengan politik. Dianggap agama tidak ada kaitannya dengan politik,” katanya.
Madini teringat artikel cendekiawan muslim Nurcholish Madjid pada era 1970-an yang berjudul ‘Islam Yes, Partai Islam No?’. “Waktu itu Cak Nur memotret kondisi masyarakat Indonesia. Apakah masyarakat kita sudah menjadi masyarakat sekuler? Ini pertanyaan besar yang harus kita carikan jawabannya,” katanya.
Madini sendiri menilai masyarakat Indonesia semakin pragmatis. “Sekarang hampir semua calon legislator melakukan eksekusi atau sedekah politik. Money politics. Oleh rakyat, semua amplop diterima. Ada satu orang menerima amplop dari lima caleg. Akibatnya banyak kertas suara yang rusak karena ada lebih dari satu nama caleg yang dicoblos,” katanya.
Pragmatisme politik ini menyingkirkan ideologi. “Pelan-pelan ideologi dan idealisme terkikis habis, walau pun saya sebagai Ketua PPP berusaha terus menjaga idealisme dan idelogi. itu. Selalu kami sampaikan, bahwa Islam agamaku, ka’bah kiblatku, PPP pilihanku. Tapi seberapa kuat kita menjaga idealisme masyarakat ketika serangan pragmatisme dan politik uang massif dilakukan,” kata Madini.
“Saat ini ada plesetan. Ada yang mengatakan: suara rakyat begitu berharga. Lalu ada yang tanya: berapa harga suara rakyat? Dihargai berapa?” katad Madini. [wir]






