Surabaya (beritajatim.com) – Pengembangan obat yang aman dan efektif perlu dilakukan dengan pendekatan yang lebih efisien seiring tantangan kesehatan yang kian kompleks.
Guru Besar Fakultas Farmasi Universitas Airlangga (Unair), Prof. Nuzul Wahyuning Diyah menyoroti lamanya proses pengembangan obat, yang bisa mencapai 12 hingga 30 tahun untuk jenis terapi tertentu. Menurutnya, waktu yang panjang itu menjadi tantangan besar dalam menghadapi penyakit baru dan resistensi obat.
“Untuk mempercepat proses pengembangan obat, diperlukan pendekatan yang lebih efisien dan tepat sasaran. Salah satunya adalah perancangan obat berbasis komputer, khususnya metode yang disebut Ligand-Based Drug Design (LBDD),” ungkapnya, Jumat (16/5/2025).
LBDD merupakan metode perancangan obat dengan dukungan sistem komputer, yang menggunakan ligan atau senyawa aktif sebagai dasar prediksi. Metode ini memungkinkan ilmuwan mempelajari bentuk, struktur kimia, dan interaksi senyawa terhadap target penyakit melalui simulasi.
“Dengan LBDD, ilmuwan bisa menilai sifat kimia, potensi efek biologis, dan tingkat keamanan senyawa hanya lewat simulasi komputer. Bila hasilnya menjanjikan, senyawa itu baru disintesis dan diuji. Cara ini jelas lebih hemat waktu, biaya, dan tenaga,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa pendekatan ini telah membuahkan hasil dalam sejumlah penelitian. Di antaranya, dari 14 turunan aspirin yang dikembangkan, dua memiliki efek antiinflamasi lebih kuat, dan empat lainnya menunjukkan aktivitas analgesik lebih tinggi dibanding aspirin.
Sementara dari tanaman rosella (Hibiscus sabdariffa), senyawa gossypetin menunjukkan potensi sebagai antibakteri.
“Dengan menggabungkan gossypetin dan senyawa alami lainnya, ditemukan potensi senyawa antibakteri yang dapat melawan bakteri resisten. Bahkan, ada 14 turunan luteolin yang diprediksi lebih efektif menghambat enzim bakteri dibanding antibiotik umum seperti siprofloksasin,” lanjut Prof. Nuzul.
Ia meyakini, kemajuan teknologi komputer akan makin memperkuat efektivitas metode LBDD maupun Computer-Aided Drug Design (CADD) dalam proses penemuan obat baru, mulai dari simulasi struktur, prediksi toksisitas, hingga evaluasi efikasi.
“Harapannya, di masa depan Indonesia semakin mandiri dalam pengembangan obat, asal terus mengembangkan riset di bidang kimia medisinal dan memperbanyak kolaborasi lintas disiplin,” pungkasnya. [ipl/kun]






