Surabaya (beritajatim.com) – Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia masih tergolong tinggi, yakni mencapai 189 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini jauh dari target Sustainable Development Goals (SDGs) 2030 yang menetapkan batas AKI maksimal 70 kematian per 100.000 kelahiran hidup.
Dalam menghadapi tantangan tersebut, kesetaraan gender dinilai menjadi faktor kunci yang dapat mempercepat penurunan AKI, khususnya melalui perbaikan asuhan keperawatan antenatal care (ANC).
Menurut Pakar Keperawatan Maternitas, Prof. Dr. Esti Yunitasari, S.Kp., M.Kes., tantangan utama dalam pelayanan ANC di Indonesia tidak hanya soal medis, tetapi juga sosial-budaya yang menyangkut ketimpangan gender.
“Banyak ibu hamil tidak bisa mengakses layanan kesehatan karena keputusan rumah tangga masih didominasi laki-laki. Kurangnya edukasi, ketimpangan ekonomi, dan norma budaya juga memperburuk situasi,” ujar Prof. Esti, ditulis Kamis (24/4/2025).
Beberapa tantangan besar yang menghambat efektivitas layanan ANC meliputi dominasi pengambilan keputusan oleh laki-laki dalam rumah tangga, rendahnya literasi kesehatan perempuan, stigma budaya, hingga ketergantungan ekonomi perempuan terhadap pasangan.
Asuhan keperawatan yang inklusif dapat menjadi garda terdepan dalam mendorong kesetaraan gender. Perawat memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi kesehatan tidak hanya kepada ibu hamil, tetapi juga kepada suami dan keluarga, sekaligus menjadi advokat bagi hak kesehatan perempuan.
“Pendekatan komunitas, komunikasi terapeutik, dan kunjungan rumah bisa menjadi metode efektif untuk menjangkau kelompok rentan,” jelas Prof. Esti.
Solusi Strategis Menurunkan AKI Berbasis Gender

Untuk mengatasi tantangan ini, sejumlah solusi strategis perlu diterapkan, antara lain pemberdayaan perempuan melalui program literasi kesehatan dan gender di tingkat komunitas.
Kemudian, keterlibatan laki-laki dalam pendidikan kesehatan agar turut berperan aktif dalam proses kehamilan. Lalu, penguatan regulasi berbasis gender agar pelayanan ANC lebih inklusif dan merata. Terkahir, pelatihan tenaga kesehatan tentang isu-isu kesetaraan gender.
Prof. Esti mengungkapkan bahwa mewujudkan sistem kesehatan yang responsif gender tidak hanya tugas sektor kesehatan, tetapi juga memerlukan kolaborasi dengan sektor pendidikan, sosial, dan pemerintahan. “Kesetaraan gender bukan sekadar hak, tapi strategi yang terbukti efektif untuk menyelamatkan nyawa ibu hamil,” pungkas Prof. Esti.
Prof. Esti sendiri dijadwalkan mengikuti pengukuhan guru besar di Aula Garuda Mukti Gedung Manajemen Unair, Kampus MERR C pada Kamis, 24 April 2025, hari ini. Ia dikukuhkan menjadi Guru Besar Bidang Ilmu Keperawatan Maternitas.
Dalam orasi ilmiahnya, Prof. Esti memaparkan “Tantangan dan Solusi Gender Equality untuk Menurunkan Angka Kematian Ibu di Indonesia: Asuhan Keperawatan Antenatal Care”.
Selain Prof. Esti, ada lima guru besar lainnya yang turut dikukuhkan, antara lain Prof. Lilis Sulistyorini, Prof. Hari Basuki Notobroto (Fakultas Kesehatan Masyarakat). Kemudian, Prof. Prawati Nuraini dari Fakultas Kedokteran Gigi, Prof. Yuni Sufyanti Arief dari Fakultas Keperawatan, dan Prof. Dwi Winarni dari Fakultas Sains dan Teknologi. [ipl/aje]






