Surabaya (beritajatim.com) – Guru Besar ITS Prof Subchan meneliti soal Navigation, Guidance, dan Control (NGC) pada sistem nirawak untuk meningkatkan performansi surveillance. Sistem nirawak ini berpedoman kuat pada NGC.
Subchan menjelaskan, navigasi merupakan proses penentuan lokasi, guidance untuk menunjukkan lintasan yang harus dilewati, dan kontrol sebagai aktuator untuk mengatur lintasan kendaraan sesuai yang diinginkan.
“Tanpa NGC, pesawat maupun kendaraan darat nirawak tidak akan bisa berjalan dengan baik,” ujar Subchan, ditulis Kamis (17/8/2023).
Sistem nirawak ini memiliki tiga tahapan proses. Pertama, proses identifikasi kondisi lingkungan yang dilakukan oleh High-Level Unmanned Aerial Vehicle (UAV) dan Unmanned Ground Vehicle (UGV).
“Proses ini merupakan awal dalam mengidentifikasi bahaya di suatu wilayah. Tahap ini umumnya dilakukan untuk melihat kondisi lingkungan sementara,” jelas pria kelahiran Jombang ini.
Subchan menerangkan, tahap selanjutnya adalah konfirmasi keadaan yang dilakukan oleh Low-Level Micro UAV dan UGV. Di tahap ini, Mikro UAV dan UGV akan menerima sinyal dari UAV utama yang mengarahkan untuk mengambil gambar dan mengkonfirmasi adanya bahaya pada wilayah yang telah dibuat.
Setelah menerima gambar, lanjut Subchan, tahap ketiga adalah tahap pengambilan keputusan, di mana Ground Control Station (GCS) akan mengkaji data yang diperoleh dari UAV maupun UGV sebagai landasan pengambilan keputusan.
Ia menuturkan, penelitian ini akan menunjang dan mempercepat proses pengawasan dan pengambilan keputusan pada suatu tahap surveillance. Tidak hanya konsep nirawak saja yang ia tekankan, namun penelitian ini sangat berpotensi untuk dimanfaatkan dalam bidang teknologi pertahanan negara.
“Dengan sistem pengambilan rute yang kokoh dan deteksi bahaya secara otomatis, militer Indonesia akan lebih efisien dalam menjaga tanah air,” tutur Guru Besar Departemen Matematika tersebut.
Baca Juga: ITS Surabaya Luncurkan Program Wirausaha Merdeka
Selain efisiensi tinggi pada sistem nirawak, pengguna sistem akan memiliki informasi data akurat pada sistem kontrol. Sistem kontrol yang dibuatnya sudah terintegrasi dengan sensor di lapangan untuk memudahkan analisis.
“Data yang ditangkap oleh UAV maupun UGV sudah divisualisasikan dengan baik melalui sistem ini, sehingga pengambilan keputusan taktis dapat muncul dengan cepat,” paparnya.
Subchan berharap Indonesia akan lebih tanggap dalam menghadapi bahaya, baik dari darat, laut, dan udara. Tak hanya ancaman militer, penelitian ini juga bisa dikembangkan ke bidang lain seperti penanggulangan bencana alam, evakuasi bencana alam, dan bahaya-bahaya lainnya.
“Penelitian ini saya lakukan sebagai bentuk rasa cinta saya kepada tanah air dan keamanan rakyat Indonesia,” tandasnya. [ipl/ted]






