Jakarta (beritajatim.com) – Schneider Electric mencetak sejarah baru dalam kampanye keselamatan ketenagalistrikan di Indonesia lewat pelatihan instalatur listrik hunian bersertifikat yang digelar serentak di sepuluh kota besar. Melibatkan lebih dari 7.800 peserta dari berbagai komunitas instalatur, kegiatan ini berhasil meraih penghargaan dari Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) sebagai “Pelatihan Instalasi Listrik Dengan Peserta Terbanyak”.
Inisiatif ini merupakan bagian dari Gerakan Listrik Aman Schneider Electric, kampanye nasional yang mendorong edukasi dan kesadaran publik tentang pentingnya perlindungan kelistrikan sejak tahap instalasi. Program ini mengintegrasikan pelatihan daring dan luring, serta memperkenalkan penggunaan perangkat proteksi kelistrikan seperti Gawai Proteksi Arus Sisa (GPAS) atau Residual Current Circuit Breaker (RCCB), yang mampu memutus arus bocor secara otomatis untuk mencegah sengatan listrik dan kebakaran.
“Pemecahan rekor ini bukan sekadar pencapaian kuantitatif, tetapi simbol kolaborasi lintas sektor dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui edukasi teknis dan pemanfaatan teknologi proteksi listrik,” ujar Andre Purwandono, S.S., Senior Customer Relations Manager MURI.
Kegiatan ini sekaligus mendukung agenda strategis pemerintah dalam percepatan pembangunan tiga juta unit rumah layak huni. Dalam konteks ini, instalasi bersertifikat menjadi komponen vital yang tidak boleh diabaikan. Berdasarkan data Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Provinsi DKI Jakarta, lebih dari 60 persen kasus kebakaran bangunan disebabkan oleh masalah kelistrikan.

“Listrik menjadi faktor utama penyebab kebakaran di area perumahan. Salah satu perangkat pengamanan yang sangat penting adalah GPAS atau anti setrum, yang berfungsi memberikan perlindungan terhadap bahaya arus sisa dan dapat mencegah kecelakaan maupun kerusakan peralatan elektronik,” ungkap Jisman P. Hutajulu, Direktur Jenderal Ketenagalistrikan, Kementerian ESDM RI.
Sebagai pemimpin global dalam transformasi digital untuk pengelolaan energi dan otomasi, Schneider Electric terus menegaskan komitmennya melalui penyelenggaraan pelatihan instalasi listrik terbanyak di Indonesia. Melalui kegiatan ini, para instalatur dibekali pemahaman teknis mengenai pentingnya penerapan standar keselamatan kelistrikan yang sesuai dengan Persyaratan Umum Instalasi Listrik (PUIL) 2020 dan Peraturan Menteri ESDM No. 7 Tahun 2021.
“Keselamatan kelistrikan dimulai dari instalasi yang benar dan sesuai standar. GPAS bukan hanya soal kepatuhan regulasi, tetapi menyangkut perlindungan nyawa dan aset masyarakat,” tegas Martin Setiawan, President Director Schneider Electric Indonesia & Timor-Leste.
Schneider Electric juga menghadirkan solusi praktis melalui produk GPAS atau RCCB Domae yang tersedia dalam dua varian sensitivitas: 30 mA untuk perlindungan manusia dari sengatan listrik dan 300 mA untuk mencegah kebakaran akibat arus bocor. Produk ini dirancang khusus untuk kebutuhan sektor hunian seperti rumah dan apartemen.
Dengan semakin luasnya jangkauan edukasi dan pelatihan, Gerakan Listrik Aman Schneider Electric menjadi fondasi penting dalam menciptakan ekosistem hunian yang lebih aman, andal, dan berkelanjutan. [beq]






