Piala Dunia 2022 di Qatar akhirnya Dijuarai Argentina, salah satu tim favorit. Namun inilah adalah Piala Dunia penuh kejutan yang susah diprediksi. Tidak ada yang mengira tim-tim medioker seperti Jepang, Korea Selatan, atau Maroko bisa menggeliat dan menunjukkan taji mereka.
Prediksi majalah Four Four Two, sebuah majalah khusus sepak bola yang terbit di Inggris, meleset tidak karuan sejak awal turnamen. Dari 16 negara yang lolos dari fase grup ke fase gugur, perkiraan untuk enam negara meleset.
Four Four Two meramalkan Wales lolos dari Grup B sebagai runner up. Ternyata Amerika Serikat yang melenggang bertemu Belanda (juara Grup A). Grup D diramalkan bakal meloloskan Denmark sebagai juara grup. Namun justru Australia yang lolos sebagai runner-up grup.
Di Grup C, Argentina dan Polandia memang lolos ke Babak 16 Besar sebagaimana diramalkan Four Four Two. Namun Arab Saudi bikin kejutan dengan mengalahkan Argentina 2-1.
Di Grup E, Four Four Two meramalkan Jerman bakal jadi juara grup sekaligus lolos ke final Piala Dunia 2022. Namun jangankan menjadi juara grup, anak asuhan Hansi Flick ini justru gagal ke fase gugur, mengulangi prestasi Piala Dunia 2018. Jepang yang oleh John Duerden, jurnalis Four Four Two, disebut kurang kejam, justru menjadi juara Grup E setelah mengalahkan Jerman dan Spanyol masing-masing dengan skor 2-1.
Ramalan Four Four Two unruk Grup F juga meleset. Mereka meramalkan Belgia bakal jadi juara grup. Salah besar, karena juara grup justru diraih Maroko yang mengalahkan Belgia 2-0, Kanada 2-1, dan imbang dengan runner-up grup Kroasia 0-0.
Serbia yang diramalkan bakal jadi runner-up Grup G mendampingi Brasil justru jadi juru kunci. Swiss akhirnya lolos ke 16 Besar sebagai runner up Grup G. Grup H setali tiga uang. Uruguay gagal jadi runner up grup, disingkirkan Korea Selatan.
Dari delapan negara yang diramalkan lolos ke babak perempat final, dua negara di luar perkiraan Four Four Two, yakni Maroko dan Argentina. Kesalahan prediksi berlanjut hingga babak semifinal. Sejak semula Four Four Two meramalkan semifinal akan menghadirkan partai Prancis melawan Brasil dan Inggris melawan Jerman. Kenyataannya: Argentina menghadapi Kroasia dan Maroko menghadapi Prancis.
[berita-terkait number=”3″ tag=”qatar-2022″]
Final pun di luar prediksi Four Four Two yang menghadirkan Brasil melawan Jerman. Argentina justru jadi juara setelah mengalahkan Prancis. Padahal Argentina diramalkan sejak awal hanya sampai 16 Besar dan Prancis terhenti di semifinal.
Mengapa prediksi pakar dan media massa bisa buyar? Fachrudin, mantan pemain Persebaya yang melatih PSM Madiun, mengatakan, kekuatan tim-tim di Piala Dunia 2022 sudah merata. “Nama besar tim tak lagi banyak membawa pengaruh dalam memenangi pertandingan,” katanya.
Kualitas teknis pemain setiap negara sudah lebih merata, karena sebagian besar pemain tim Afrika dan Asia bermain di liga-liga besar Eropa. Fachrudin mencontohkan Maroko yang diperkuat Achraf Hakimi yang bermain untuk Paris Saint-Germain, Youssef En-Nesyri (Sevilla), atau Hakim Ziyech (Chelsea).
Dengan kekuatan yang merata ini, maka dibutuhkan pemain dengan kemampuan di atas rata-rata yang bisa mengubah jalannya pertandingan atau disebut ‘dewa-dewa sepak bola’. “Kalau sepak bola hanya passing play, dapat bola oper, bakal susah membongkar pertahanan lawan kalau tidak ada individu menonjol sekelas Neymar atau Messi,” jelas Fachrudin.
Ini seperti terjadi pada sejumlah turnamen Piala Dunia sebelumnya. “Dulu ada Maradona (Argentina) dan Johan Cruyff (Belanda). Saat lawan melakukan compact defend, ada empat hal yang dilakukan: menurunkan pemain dengan kemampuan individu seperti Neymar, combination play, shooting jarak jauh, dan baru crossing (operan silang dari sisi sayap ke kotak penalti). Crossing ini kan sudah ada penawarnya. Kalau individual dan combination playing ini kan susah,” kata Fachrudin.
Dibutuhkannya pemain yang bisa mengubah keadaan terlihat jelas pada saat final. Setelah tertinggal 0-2 hingga menit 80, Prancis bisa menyamakan melalui aksi Keylian Mbappe. Mbappe juga yang membuat pertandingan diakhiri dengan adu penalti setelah menyamakan skor 3-3.
Pelajaran yang diambil dari Piala Dunia 2022 bagi sepak bola Indonesia adalah perlu adanya pemain seperti Messi, Neymar, dan Mbappe di tim nasional. “Tapi tentu saja tidak bisa dilakukan sepanjang waktu. Pelatih harus tahu waktu kapan dan di mana menggunakannya,” kata Fachrudin.
[berita-terkait number=”3″ tag=”piala-dunia”]
Menurut Fachrudin, pola permainan Korea Selatan, Jepang, Arab Saudi, dan Maroko yang memilih lebih banyak bertahan melawan tim-tim kuat, tidak disukai penonton netral yang mendambakan sepak bola ofensif dan adu serangan. “Tapi inilah permainan, kejelian dalam menjalankan taktik. Kalau Maroko bermain terbuka ya bablas. Anda lihat Hakimi kalau di PSG bermain seperti winger. Tapi di Maroko kan setengah lapangan (lebih banyak bermain di daerah pertahanan sendiri),” katanya.
Pola bertahan yang dilakukan Maroko, Saudi, Jepang, atau Korea Selatan sudah dilakukan Jose Mourinho, pelatih asal Portugal, selama bertahun-tahun saat melatih sejumlah klub. “Lihat Kroasia melawan Brasil. Counter attack Kroasia cepat sekali. Ya seperti itu kalau menghadapi tim besar yang lebih kuat secara individu. Kalau terbuka ya mati kita,” kata Fachrudin.
Hal lain yang patut diperhatikan di Piala Dunia 2022 adalah kemampuan tim melihat detail kelemahan lawan. “Jika dua tim yang bertanding memiliki kematangan teknik dan taktik, maka faktor utama yang bisa memenangi pertandingan adalah membunuh dengan memanfaatkan kesalahan lawan. Siapa yang bikin kesalahan, dia kalah. Siapa yang minim kesalahan, dia menang,” kata Fachrudin.
Maroko adalah contoh tim yang bisa meminimalisasi kesalahan di pertahanan. “Semua pemainnya berdisiplin. Ketika melakukam counter attack ya berbahaya. Kelemahan semua tim yang bermain terbuka adalah terlalu asyik menyerang sehingga bisa dimanfaatkan lawan,” kata Fachrudin. [wir/suf]






