Ponorogo (beritajatim.com) – Selain terkenal akan budaya kesenian Reognya, Kabupaten Ponorogo juga terkenal akan kulinernya. Ada beberapa kuliner yang khas dan sudah melegenda di bumi reog. Selain sate ayam Ponorogo, yang juga tak kalah terkenal yakni minuman dawet jabung.
Ya, dinamakan dawet jabung karena di perempatan Desa Jabung Kecamatan Mlarak bisa dikatakan sentra penjual dawet. Ada puluhan warung disana yang khusus menjual dawet jabung. Harganya pun cukup murah, satu mangkok dawet jabung hanya dihargai Rp 4.000.
Dawet jabung bukan hanya terkenal oleh rasanya yang manis dan segar. Namun, juga terkenal dengan mitos yang selama ini diuri-uri oleh penjualnya, meski sudah ganti generasi. Ya, yang jual dawet yang berada di perempatan Desa Jabung ini sudah turun temurun.
Seperti penjual dawet jabung yang bernama Mayasary, warga setempat. Dia sudah berjualan dawet jabung sejak 2009. Ia merupakan generasi ketiga, setelah nenek dan kakeknya sudah berjualan dawet jabung pada tahun 1955.
“Ini nerusin usaha si mbah, tahun 1955 sudah jualan. Saya ini sudah generasi ketiga,” kata Mayasary, Minggu (17/7/2022).
Dia menceritakan, dulu waktu si mbah, jualan dawet dengan cara dipikul. Sang kakek menjajakan dawet itu langsung ke sawah atau ke jalan-jalan melewati perkampungan. Nah, pada 2009 baru Maya, panggilan akrabnya berjualan menetap di selatan lampu merah perempatan Desa Jabung.
“Tahun 1970 yang berjualan almarhum bapak. Nah, baru pada tahun 2009 yang jualan ganti saya, dan tempatnya menetap di selatan perempatan Desa Jabung,” ungkap perempuan yang juga mahir mendekorasi taman tersebut.
Menurut informasi yang dihimpun beritajatim.com, penyajian dawet jabung ini beda dengan jualan minuman lainnya. Sang penjual jika akan memberikan semangkok dawet jabung, dengan menggunakan cawan atau lepek. Namun, pembeli yang akan menerima dawet jabung itu hanya boleh mengambil mangkok dawet jabungnya saja.
[berita-terkait number=”5″ tag=”kuliner-ponorogo”]
Beredar cerita di masyarakat, jika cawan atau lepek itu lupa ikut dikasihkan kepada pembelinya, maka penjual dawet jabung yang kebanyakan perempuan bisa dinikahi oleh pembelinya. “Cawan atau lepek yang tidak diberikan ke pembeli bersama mangkok dawetnya itu, generasi sekarang tinggal nerusin saja. Cerita yang beredar, dulu katanya ada. Kalau lepeknya diminta pembeli berarati suka kepada yang jual. Kenyataannya ya kurang tahu,” ungkap Maya.
Semua penjuak dawet jabung, hingga sekarang patuh dengan leluhurnya dulu, tidak pemberikan lepek kepada pembeli dawetnya. Maya pernah mengalami setiap hari selalu tarik menarik lepek dengan pembeli. Menurutnya, pembeli yang menarik lepek itu, biasanya dari luar kota.
Kebanyakan mereka tidak tahu, kalau yang diambil itu hanya mangkoknya saja. “Biasanya yang tarik menarik lepek itu pembeli dari luar Ponorogo. Kalau orang Ponorogo sudah hafal kalau yang diambil cuma mangkok dawetnya saja,” katanya.
Maya pun berpendapat bahwa memang dawet jabung itu tidak panas, sehingga tidak butuh pakai lepek atau cawan. Beda halnya dengan minuman panas, semisal kopi, yang harus pakai lepek atau cawan. “Sudah tradisi dari dulu, mau penerus keberapa pun tetap sama. Lepek tidak ikut diberikan kepada pembelinya,” pungkasnya. [end/suf]






