Ponorogo (beritajatim.com) – Meski rengginang merupakan panganan tradisional, namun keberadaannya masih populer hingga kini. Malahan dari kriuk inilah, warga dari Desa Purworejo Kecamatan Balong Ponorogo dapat cuan jutaan rupiah per bulannya.
Ya, Rukesi merupakan salah satu warga Purworejo yang konsisten dalam menekuni usaha pembuatan sejak tahun 1998 lalu. Alhasil, produksinya kini tidak hanya dikenal di Ponorogo saja, namun sudah sampai ke luar daerah.
“Dulu itu awalnya usaha pembuatan roti gapit, membuatnya hanya selingan. Lama-lama penjualannya malah lancar rengginang, ya akhirnya beralih produksi ini,” kata Rukesi, Senin (02/10/2023).
Produksi rengginang milik Rukesi, masih dilakukan secara tradisional. Yakni dengan menggunakan kayu bakar sebagai bahan bakarnya. Selain itu, untuk pengeringan juga memanfaatkan terik panas matahari. Sehingga tak heran, jika di halamannya ada puluhan nampan yang berisi rengginang yang dikeringkan.
Baca Juga: Warga Ponorogo Sukses dari Warung Makan Dengan Trik Promosi Unik
Salah satu alasan utama Rukesi memilih memasak dengan kayu bakar adalah efisiensi biaya. Kayu bakar dapat ditemukan di sekitar rumahnya, sehingga lebih ekonomis. Selain itu, proses memasak dengan kayu bakar dikatakan memberikan rasa yang lebih enak, menghasilkan rengginang yang lebih renyah dan gurih.
“Pakai kayu bakar ya masih murah sih, rasanya juga lebih renyah dan gurih kalau menggunakan kayu bakar,” katanya.
Menurut Rukesi pembuatan rengginang cukup mudah, yakni ketan direndam semalaman. Kemudian pukul 03.00 dini hari, dirinya dan suami mulai mengukus ketannya tersebut beberapa jam. Setelah matang dari di kukus, bahan ketan itu pun dicetak, lalu dikeringkan dibawah sinar matahari langsung.
“Setiap hari kurang lebih memproduksi 72 liter ketan. Jika cuaca panas seperti sekarang ini, pengeringan cukup sehari saja sudah bisa mulai dibungkus untuk esok harinya. Namun, jika musim penghujan, pengeringan bisa sampai 3 hari,” katanya.
Setiap hari, dari 72 liter ketan itu, Rukesi mampu menghasilkan 300 bungkus. Dalam sebulan, Ia bisa menjual sedikitnya 5.000 bungkus. Harganya pun bervariatif, tergantung ukurannya. Yakni berkisar dari harga Rp 9000 ribu hingga Rp 16 ribu.
“Alhamdulillah, setiap bulan bisa menjual sedikitnya 5.000 bungkus. Kalau nominalnya rupiah ya tinggal kalikan saja dengan harganya,” ungkap Rukesi malu-malu.
Sementara itu Kepala Desa Purworejo Didik Subagio mengungkapkan bahwa desanya bisa jadi merupakan sentra produksi.
Sebab, selain Rukesi juga terdapat 6 rumahnlahi yang aktif dalam memproduksi rengginang. Pembuatannya yang serba tradisional, membuat rengginang dari Desa Purworejo menjadi lebih khas dengan cita rasa gurih dan renyah.
Lebih lanjut, Didik menyebutkan bahwa saat ini pemasarannya tidak hanya berkutat di Kabupaten Ponorogo saja. Namun, juga sudah sampai luar daerah, seperti Tulungagung, Magetan, Ngawi dan bahkan saat momen jelang lebaran bisa sampai ke luar Jawa.
“Kalau di Ponorogo biasanya di Pasar Legi, tetapi saat ini juga sudah dikirim ke Tulung agung, Magetan, Ngawi. Bahkan saat jelang lebaran bisa ke luar Jawa,” katanya.
Didik menambahkan bahwa sentra produksi rengginang ini juga memberikan kontribusi positif terhadap perekonomian keluarga-keluarga di desanya. Proses pembuatan rengginang mempekerjakan sejumlah warga, itu artinya memberikan manfaat ekonomi serta membuka lapangan kerja baru.
“Sentra produksi rengginang ini juga berdampak positif terhadap ekonomi desa, sejumlah warga dipekerjakan untuk produksi rengginang ini,” pungkasnya. (end/ted)
[berita-terkait number=”3″ tag=”kuliner-ponorogo”]






