Yogyakarta (beritajatim.com) – Garin Nugroho melakukan orasi budaya dalam Kotabaru Heritage Festival Film (KHFF) 2024. Sutradara, penulis skenario dan produser ini tampil bersama Hairul Salim di hari kedua event tahunan yang digelar Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta.
Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetty Martanti menjelaskan, melalui KHFF 2024, pihaknya ingin menyajikan potensi warisan budaya yang dilihat secara langsung. “Potensi itu bisa diangkat melalui film,” ungkapnya, Sabtu (10/8/2024).
Masih kata Yetty, film merupakan media yang paling mudah diakses oleh masyarakat dalan rangka memberikan infomasi dan promosi warisan budaya. Sehingga pihaknya menjadikan film menjadi salah satu media menginformasikan dan mempromosikan warisan budaya.
“Dan di sini kita juga banyak kolaborasi dengan berbagai insan seni untuk kemudian merayakan Kotabaru Heritage Festival Film. Banyak rangkaian acara di Kotabaru Herigate Festival Film, dari hari pertama, kedua, ketiga dan nanti para pengunjung bisa menikmati Sinema Berdansa dengan tema Pengabdi Setan,” katanya.
KHFF 2024 tidak hanya sekadar menayangkan film, tetapi juga bekerjasama dengan Pasar Kangen menyajikan potensi Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) Yogjakarta. Puluhan stand kuliner tempoe doloe dihadirkan pada ajang kali ini yang berkolaborasi dengan 31 rintisan kelurahan budaya di Kota Yogjakarta.
“Selamat menyaksikan, selamat merayakan warisan budaya dalam rangkaian Kotabaru Heritage Festival Film dan terima kasih atas tamu undangan baik dari Jogja maupun luar Jogja. Dan hari ini, spesial ada orasi budaya dari Mas Alim dan Mas Garin Nugroho. Matur nuwun, terima kasih,” ucapnya.
Sementara itu, dalam orasi budayanya Garin Nugroho mengatakan, jika KHFF upaya untuk menumbuhkan keindahan hidup di tengah krisis masalah di Kota Yogjakarta. “Kenapa di Kotabaru? Karena Kotabaru dibangun di atas dasar identitas bari setelah Kota Gede,” ujarnya.
Kota Gede Yogyakarta dibangun ketika kerajaan-kerajaan muncul. Menurutnya Kotabaru dibangun dari Republik Indonesia ketiga Presiden Republik Indonesia, Soekarno harus mengungsi ke Yogyakarta. Kotabaru yang menyelamatkan Republik Indonesia.
“Dan semuanya sudah difilmkan dari berbagai bentuk film yang ada dalan sejarah republik ini. Festival Heritage ini seperti bungail teratai, kapanpun harus terus hidup, dalam apapun juga karena dalam ruang publik seperti ini bisa membawa keluarganya belajar sesuatu,” tegasnya.
Hal tersebut membuat Yogyakarta hidup menjadi sebuah kota kebudayaan seperti layaknya sebuah teratai yang bisa tumbuh di lumpur apapun. Keistimewaan Yogyakarta, lanjutnya adalah kota heritage yang menghidupkan semua. Yogjakarta untuk Indonesia.
Sekedar diketahui, KHFF yang tiap tahun digelar di Kawasan Cagar Budaya Kotabaru Kota Yogyakarta ini memasuki tahun kedua. Acara ini berlangsung pada tanggal 9 Agustus – 11 Agustus 2024, di Grha dan Lapangan Padmanaba, SMA Negeri 3 Yogyakarta. [tin/suf]






