Malang (beritajatim.com) – Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) Universitas Islam Malang (Unisma) mengambil langkah strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan bahasa dengan menggandeng SEAMEO QITEP in Language (SEAQIL). Perjanjian kerja sama ini resmi ditandatangani di tengah perhelatan seminar internasional pada Sabtu (26/9/2025).
Kerjasama PBSI Unisma dan SEAQIL menandai era baru kolaborasi untuk memajukan pengajaran Bahasa Indonesia di tingkat regional. Penandatanganan kerja sama dilakukan langsung oleh Ketua Program Studi PBSI Unisma, Frida Siswiyanti, M.Pd., dan Deputi Direktur Administrasi SEAQIL, Dr. Misbah Fikrianto, M.M., M.Si.
Kemitraan ini diharapkan menjadi jembatan bagi PBSI Unisma untuk mengimplementasikan program inovatif yang sejalan dengan standar pendidikan di Asia Tenggara. SEAQIL, sebagai pusat pengembangan kualitas guru bahasa di bawah naungan Menteri Pendidikan se-Asia Tenggara (SEAMEO), memiliki fokus pada peningkatan mutu pengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA), Arab, Jepang, Jerman, dan Mandarin.
Dalam paparannya, Dr. Misbah Fikrianto menyoroti pentingnya perubahan paradigma dalam metode mengajar. Menurutnya, guru harus beradaptasi dengan kebutuhan dan minat siswa, bukan sekadar menerapkan model pembelajaran yang mereka kuasai.

“Selama ini, guru cenderung menggunakan model pembelajaran yang mereka sukai. Padahal, seharusnya kita mengajak siswa belajar dengan cara yang cocok dan disukai oleh mereka,” tegas Misbah kepada beritajatim.com.
Ia pun menyambut positif kolaborasi ini. Misbah Fikrianto berharap sinergi antara PBSI Unisma dan SEAQIL tidak hanya berhenti di atas kertas, tetapi mampu menghasilkan terobosan nyata dalam dunia pendidikan.
Rangkaian acara seminar internasional bertajuk “Humaniora Digital dan Kecerdasan Buatan dalam Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia” ini juga memberikan penghargaan kepada para pemakalah terbaik yang dinilai membawa gagasan segar.
Penghargaan pemakalah terbaik luring diraih oleh Safira, guru BIPA asal Rusia. Peringkat berikutnya ditempati oleh Prima Vidya Asteria dan tim dari Universitas Negeri Surabaya, serta Cahyani Ilma dari Universitas Negeri Yogyakarta. Keberagaman latar belakang para pemenang menunjukkan tingginya antusiasme komunitas akademik untuk berkontribusi.
Kaprodi PBSI Unisma, Frida Siswiyanti, menyampaikan harapannya agar pertemuan dan kerja sama ini dapat mempererat persaudaraan antar pendidik serta menjadi fondasi bagi masa depan pendidikan yang lebih maju.
“Semoga pertemuan indah ini mendatangkan manfaat dan menjadi langkah kecil menuju masa depan pendidikan yang lebih maju dan bermakna,” kata Frida menegaskan harapan. (dan/kun)






