Surabaya (beritajatim.com) – Fraksi PDI Perjuangan DPRD Jawa Timur meminta pemerintah daerah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi masuknya Virus Nipah (NiV) ke Indonesia. Langkah antisipatif perlu diprioritaskan menyusul peringatan Kementerian Kesehatan RI terkait laporan kasus terbaru di India.
“Kita tidak boleh menunggu sampai ada kasus baru bertindak. Prinsip kehati-hatian wajib diterapkan sejak dini,” ujar Penasehat Fraksi PDIP DPRD Jatim, Sri Untari Bisawarno, Selasa (10/2/26).
Sri Untari menyampaikan Jawa Timur memiliki karakter sebagai provinsi agraris dengan interaksi erat antara manusia, ternak, dan satwa liar. Kondisi ini membuat penguatan pencegahan berbasis data dan sains menjadi kebutuhan mendesak.
“Mitigasi harus berbasis data ilmiah, mulai dari penguatan surveilans zoonosis, pemantauan hewan reservoir, hingga kesiapan laboratorium kesehatan daerah,” katanya.
Menurut dia, tingginya mobilitas penduduk dan distribusi ternak di Jawa Timur berpotensi mempercepat penyebaran penyakit jika tidak diantisipasi. Karena itu, koordinasi lintas sektor perlu diperkuat sejak awal.
“Kesiapan daerah harus dibangun dari sekarang agar tidak terjadi keterlambatan penanganan,” ucapnya.
Sejalan dengan imbauan Kemenkes RI, masyarakat diminta menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat serta lebih selektif dalam mengonsumsi pangan. Kewaspadaan juga diperlukan terhadap konsumsi buah segar dan minuman tradisional yang berisiko terpapar satwa liar.
“Edukasi publik harus berjalan konsisten agar masyarakat paham risiko tanpa panik,” ujar Sri Untari.
Sebagai Ketua Komisi E DPRD Jatim, dia menyatakan kesiapan lembaganya mengawal kebijakan dan anggaran pemerintah provinsi. Penguatan SOP penanganan penyakit zoonotik di fasilitas kesehatan menjadi salah satu fokus pengawasan.
“Keterbukaan informasi dan koordinasi lintas sektor adalah kunci. Kami siap mengawal kebijakan yang berpihak pada keselamatan rakyat,” tegasnya.
Sri Untari juga mengingatkan pengalaman awal pandemi Covid-19 agar tidak terulang. Kewaspadaan sejak dini dianggap penting meski belum ada kasus konfirmasi di dalam negeri.
“Sejak mendapat info tentang virus Nipah, saya langsung meminta kepada Kadinkes untuk menyiapkan pencegahan dan skenario penanganan jika virus tersebut masuk Indonesia,” pungkasnya. [asg/aje]






