Jakarta (beritajatim.com) – Pegiat Sosial dan Psikolog Keluarga Alissa Qotrunnada (Alissa Wahid) menegaskan bahwa Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi 2026 harus menjadi sumber rasa aman bagi jemaah sebagai bentuk pelunasan “hutang” negara akibat antrean haji yang sangat panjang.
Dalam pembekalan di Asrama Haji Pondok Gede, Selasa (20/1/2026), Alissa menyoroti pentingnya perubahan paradigma layanan yang selama ini terlalu maskulin menjadi sistem yang lebih inklusif terhadap kebutuhan spesifik perempuan dan lansia.
Putri sulung Gus Dur yang pernah mencatatkan sejarah sebagai anggota Amirul Hajj perempuan pertama pada 2023 ini memberikan materi mendalam di hadapan ribuan petugas. Ia menekankan bahwa keberhasilan penyelenggaraan haji 1447 H/2026 M diukur dari sejauh mana negara mampu menyesuaikan pelayanannya terhadap kondisi fisik dan psikologis jemaah, bukan justru meminggirkan mereka karena alasan keterbatasan fisik.
“Negara berhutang, ya karena negara kan memutuskan untuk melayani para jemaah haji. Lalu ini jemaahnya sudah ada, ya ini hutang yang harus kita lunasi kepada beliau-beliau itu, para lansia. Jadi ini bukan sekadar kegiatan kementerian, tetapi ini hutang kepada para jemaah haji,” ujar Alissa Wahid saat menjelaskan urgensi kebijakan ramah lansia.
Mengingat lebih dari separuh jemaah haji Indonesia adalah perempuan, Alissa mengapresiasi kenaikan kuota petugas haji perempuan hingga 30 persen pada tahun ini. Menurutnya, kebutuhan jemaah perempuan sangat berbeda secara riil, mulai dari bimbingan ibadah hingga kebutuhan fasilitas sanitasi di lapangan yang selama ini masih menggunakan kacamata laki-laki.
“Sistem yang ada di Saudi Arabia itu belum melihat dari kacamata perempuan, tapi dilihatnya dari kacamata laki-laki. Itu dulu jadi kesadaran kita, sehingga kita ketika melihat perempuan dengan kebutuhannya itu kita tidak melihat mereka sebagai nuisance atau merepotkan, tapi karena memang kebutuhannya berbeda,” jelas Ning Alissa, sapaan akrabnya bagi masyarakat Jawa Timur.
Dalam aspek psikologis, Alissa memaparkan perbedaan cara berkomunikasi di mana perempuan cenderung menggunakan hingga 25.000 kata per hari untuk membangun hubungan, jauh melampaui laki-laki yang hanya 7.500 kata. Petugas diminta memahami berbagai tipe kepribadian jemaah—mulai dari Sanguin yang heboh, Koleris yang dominan, Melankolis yang perfeksionis, hingga Flegmatis yang pasif—untuk menentukan pendekatan layanan yang tepat.
Guna menangani kepanikan jemaah, Alissa memperkenalkan teknik reframing atau memberikan makna ulang pada kejadian negatif. Sebagai contoh, jika terdapat jemaah lansia yang tersesat, petugas disarankan untuk membangun rasa percaya diri jemaah dengan memuji keberhasilan mereka kembali berkumpul dengan rombongan, sembari mengajak mengobrol tentang kampung halaman untuk menstabilkan emosi.
Tantangan fisik di wilayah Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna) juga menjadi perhatian serius, terutama karena angka kematian jemaah cenderung meningkat seminggu setelah fase tersebut. Alissa mendesak pemerintah untuk terus mengkaji ukuran istitha’ah (kemampuan) kesehatan serta menyiapkan mitigasi sistemik, seperti mekanisme pengembalian jemaah lansia ke hotel jika kondisi di Mina tidak memungkinkan bagi kesehatan mereka.
Alissa mengingatkan para petugas bahwa setiap pertolongan yang diberikan kepada jemaah akan menjadi sebab datangnya pertolongan Allah di hari akhir. Petugas PPIH 2026 dituntut memiliki lima kualitas utama dalam melayani lansia: sukacita, awas (vigilant), sabar, proaktif, dan kalem demi menjaga stamina jemaah hingga akhir operasional haji.
“Para petugas haji adalah sumber rasa aman, sumber rasa nyaman bagi para jemaah haji terutama jemaah haji lansia dan perempuan. Harus disiapkan dirinya, luruskan niatnya, berangkat ke Tanah Suci untuk melayani para lansia ini dengan sebaik-baiknya supaya jumlah kematian dan penyakit bisa kita tekan,” pungkasnya. [ian/aje]






