Kegembiraan adalah sesuatu yang jarang diidentiikan dengan politik oleh masyarakat. Sejumlah adagium seperti ucapan Mao Tse Tung bahwa ‘perang adalah politik dengan pertumpahan darah dan politik adalah perang tanpa pertumpagan darah’ maupun pernyataan Stalin soal pemilu bahwa ‘yang harus diperhitungkan bukanlah orang yang memberikan suara, melainkan orang yang menghitung suara’ menunjukkan betapa kerasnya politik.
Niccolo Machiavelli selama berabad-abad memberikan nama buruk bagi politik. Bukunya Il Principe atau Sang Penguasa dilarang dibaca dan diedarkan dalam komunitas gereja Katolik. Ajaran-ajarannya dianggap memisahkan politik dari moralitas, sehingga mengesankan politik sebagai sesuatu yang keras dan serius. Belum lagi sejumlah tokoh politik kontroversial seperti Mussolini, Hitler, Napoleon, dan Stalin terang-terangan menyatakan kekagumannya terhadap Machiavelli.
Machiavellisme yang salah kaprah ini membuat rakyat apatis dan takut bersentuhan dengan politik. Kegembiraan ada di mana saja di seluruh dunia, kecuali mungkin di politik. Keriangan tak ada dalam proses politik. Kebahagiaan hanya milik pemenang sebagaimana kesedihan milik pecundang. Politik dipahami sebagai kemenangan dan kekalahan, bukan proses untuk mengambil kebijakan yang membahagiakan publik. Perbedaan tajam melahirkan sebutan ‘kampret’ dan ‘cebong’, atau yang terbaru ‘kadrun’.
Hal ini disadari betul oleh Muhaimin Iskandar, Ketua Umum Partai Kebangkitan Bangsa yang juga salah satu kandidat presiden pada Pemilihan Umum 2024. “Tujuan utama berpolitik adalah kemanusiaan. Politik adalah proses untuk mencapai target dan tujuan,” katanya saat berkunjung ke Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu (10/9/2022).
Kuncinya adalah pantangan bagi seorang politisi untuk menghalalkan segala cara dalam berkompetisi. “Politik bukan sebagai tujuan dan habis-habisan. Sehingga happy-happy saja, perbedaan pandangan politik itu biasa-biasa saja,” kata Gus Imin, sapaan akrabnya.
Muhaimin menilai saat ini ada kesalahan pandangan pada masyarakat terhadap politik. “Politik dianggap keras, persaingan habis-habisan. Pandangan itu harus diubah menjadi pandangan bahwa politik adalah sesuatu yang riang gembira,” katanya.
Politik sebagai sesuatu yang menggembirakan juga diyakini Bupati Jember Hendy Siswanto. “Partai harus bahagia berpolitik di Jember. Semua harus enjoy, karena politik (pemilu) esensinya adalah pesta demokrasi. Namanya pesta ya pesta beneran, ketawa, asyik,” katanya.
“Perbedaan (pandangan) itulah bumbunya. Kuah rawon berwarna hitam, karena ada kluweknya. Kalau tidak ada kluweknya, ya jadi sop. Bening. Jadi kalau perbedaan itu asyik. Memberikan makna di situ,” kata Hendy.
Politik sebagai the art of human happiness atau seni kebahagiaan manusia pernah diungkapkan Herbert Albert Laurens Fisher, seorang sejarawan Inggris yang juga politisi liberal. Muhaimin pun melakukan pendekatan yang berbeda.
“Pertama, bikin event-event politik yang menggembirakan seperti Muhaimin Festival dan dialog yang terbuka, komunikasi yang santai, penyelesaian masalah dengan guyon. Tak lagi bersitegang,” kata Muhaimin.
Politik gagasan menjadi salah satu bagian yang ditawarkan untuk mengubah cara pandang publik terhadap politik. “Bangsa ini begitu berat masalah yang dihadapi. Tidak ada solusi yang tepat kecuali dengan gagasan. Kalau hanya diselesaikan dengan teknis politik atau pun penyelesaian pembangunan technically, tidak ada gagasan-gagasan besar ya susah mengatasi masalah yang ruwet,” kata Muhaimin.
Muhaimin menegaskan, setiap pemimpin politik seharusnya mengeluarkan gagasan terstruktur dan jelas yang bisa dipahami banyak orang. “Gagasan-gagasan mendalam, teori-teori mendalam supaya politik tidak salah arah, supaya kita mengambil jalan yang tepat untuk proses pembangunan,” katanya.
Di tingkatan bawah, jajaran Partai Kebangkitan Bangsa Kabupaten Jember siap bergerak melaksanakan pemahaman politik riang gembira. “Kita ini terlalu jenuh dengan gesekan yang membuat seakan-akan negara terbelah. Sudah saatnya sesuatu dilaksanakan dengan riang gembira. Politik kalau terlihat sangat ngeri, masyarakat akan menganggap politik seakan-akan membawa perpecahan. Padahal politik kalau dilakukan dengan benar bisa jadi sesuatu yang baik,” kata Ketua Dewan Pimpinan Cabang PKB Jember Ayub Junaidi.
[berita-terkait number=”4″ tag=”pilpres-2024″]
Gesekan bisa saja terjadi saat memperjuangkan gagasan masing-masing. “Namun setelah selesai ya selesai. Pendiri negara ini sudah memberikan contoh. Tidak terus dibawa pulang. Politik bukan segala-galanya. Tapi semua berasal dari keputusan politik,” kata Ayub.
Ayub teringat kisah politisi NU era Kemerdekaan, KH Wahab Chasbullah. Suatu saat, Wahab Chasbullah ditegur salah satu saudaranya yang menginginkannya kembali mengurusi pondok pesantren dan beristirahat dari urusan politik.
“Kiai Wahab pun membantah. Kata beliau: kita bisa mengajar agama dengan baik, pesantren tetap buka dan berjalan, itu karena hasil keputusan politik. Bayangkan jika keputusan politik tidak berpihak dan justru merugikan pesantren dan umat Islam,” kata Ayub. [wir/but]






