Salt Lake City (beritajatim.com)— Udara dingin musim dingin Amerika Serikat tak menyurutkan hangatnya apresiasi untuk sinema Indonesia di Sundance Film Festival 2026.
Festival film independen paling bergengsi di dunia itu kembali digelar mulai 22 Januari 2026, menghadirkan sekitar 90 film dari berbagai negara yang masuk dalam rangkaian pemutaran sekaligus kompetisi resmi.
Di antara puluhan karya sineas dunia, satu judul dari Indonesia mencuri perhatian: Para Perasuk (Levitating). Film ini menjadi representasi perfilman nasional di ajang yang telah berlangsung sejak 1978 dan didirikan oleh mendiang aktor legendaris Robert Redford tersebut.
Film Indonesia Bicara di Forum Global
Pemutaran Para Perasuk bukan sekadar kehadiran simbolik. Film ini mendapat sambutan positif dari penonton festival, menandai semakin terbukanya ruang bagi cerita-cerita Indonesia untuk berdialog dengan audiens global.
Sundance sendiri dikenal sebagai panggung lahirnya film-film berpengaruh yang kerap menjadi tolok ukur tren sinema dunia.
Kehadiran karya Indonesia di festival ini sekaligus menegaskan bahwa narasi lokal dengan pendekatan artistik yang kuat mampu bersaing di tingkat internasional.

Raline Shah Hadir Wakili Manajemen Internasional
Momen pemutaran Para Perasuk juga dihadiri oleh Raline Shah, yang hadir sebagai perwakilan Artist Group International, manajemen internasional tempat ia bernaung sebagai aktor. Raline tampak anggun mengenakan busana rancangan desainer Indonesia Sapto Djojokartiko, memperlihatkan sentuhan budaya Tanah Air di karpet festival dunia.
Raline mengungkapkan rasa bangganya atas pencapaian sineas Indonesia di Sundance.
“Senang sekali melihat karya sineas Indonesia mendapat sambutan sangat baik di Sundance Film Festival. Mudah-mudahan akan semakin banyak film nasional yang berbicara di forum film internasional dan mengharumkan nama bangsa,” ujar Raline Shah.
Harapan Baru bagi Perfilman Nasional
Partisipasi Para Perasuk (Levitating) di Sundance Film Festival 2026 menjadi sinyal positif bagi masa depan industri film Indonesia. Tidak hanya membuka peluang distribusi internasional, kehadiran ini juga memperkuat posisi sineas nasional di peta sinema global.
Dengan semakin seringnya film Indonesia tampil dan diapresiasi di festival kelas dunia, harapan untuk melihat karya-karya Tanah Air menembus pasar internasional kian nyata — membawa cerita lokal, identitas budaya, dan perspektif Indonesia ke mata dunia. (ted)






