Malang (beritajatim.com) – Suasana inklusif penuh warna menyelimuti Kecamatan Tumpang, Kabupaten Malang, melalui gelaran festival seni bertajuk Wisesa Rasa. Acara yang diinisiasi oleh Mesem Art Gallery bersama Sekolah Luar Biasa (SLB) Islam Yasindo Tumpang ini berlangsung selama tiga hari, mulai 19 hingga 21 September 2025 yang menjadikan anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) sebagai bintang utamanya.
Mengusung semangat “Merayakan Perbedaan, Menyatukan Rasa”, festival ini bertujuan menjadi ruang ekspresi, apresiasi, dan edukasi bagi masyarakat untuk lebih memahami serta mendukung potensi luar biasa yang dimiliki anak-anak istimewa. WISESA, yang dalam bahasa Sansekerta berarti istimewa, dipilih untuk merepresentasikan keunikan setiap anak yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa.
Program Manager Wisesa Rasa, Siti Nurvianti, menjelaskan bahwa festival ini sebagai panggung seni. Melalui Wisesa Rasa, pihaknya berharap masyarakat dapat belajar bahwa keberagaman bukan halangan, melainkan kekuatan yang menyatukan.
“Festival ini bukan sekadar pentas seni, tetapi gerakan kebersamaan untuk membuka mata dan hati kita bahwa setiap anak memiliki potensi yang luar biasa. Melalui Wisesa Rasa, kita belajar bahwa keberagaman bukan halangan, melainkan kekuatan yang menyatukan,” ujarnya, Jumat (19/9/2025) kepada beritajatim.com.
Ia menambahkan, pemilihan Tumpang sebagai lokasi acara juga memiliki makna mendalam. Salah satunya karena desa Tumpang ini terpilih menjadi 150 Desa Pemajuan Kebudayaan.
“Untuk itu, Wisesa Rasa digelar dengan memanfaatkan potensi di Desa Budaya Tumpang, yaitu seni lukis, teknologi tradisional cikar, dan Candi Jago. Potensi itu kemudian menjadi materi edukasi untuk adik-adik berkebutuhan khusus,” jelas Siti Nurvianti.
Festival Wisesa Rasa diisi dengan berbagai kegiatan yang dirancang unt menampilkan bakat sekaligus memperkenalkan budaya lokal kepada para peserta dan pengunjung. Selama tiga hari, mulai pukul 08.00 hingga 17.00 WIB, Aula Kecamatan Tumpang akan dihiasi oleh pameran lukisan dan gambar karya anak-anak ABK.
Karya-karya dari ABK itu merupakan hasil pembelajaran intensif selama satu bulan bersama seniman Joko Tebon. Pameran ini juga akan diramaikan oleh karya dari para pelukis senior di kawasan Malang Timur. Pembukaan acara dimeriahkan dengan pentas tari dan musik, menjadi bukti bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi lahirnya karya seni yang indah.
“Hari kedua peserta diajak merasakan pengalaman unik dengan mengunjungi situs bersejarah Candi Jago menaiki cikar. Penggunaan alat transportasi tradisional ini tidak bertujuan untuk mengenalkan warisan budaya dan mempererat ikatan kebersamaan dalam sebuah perjalanan yang edukatif dan menyenangkan,” kata Siti Nurvianti.
Ia berharap festival menjadi wadah inklusi sosial, membangun interaksi harmonis antara ABK dan masyarakat umum. “Semoga menjadi inspirasi bahwa seni mampu menyatukan segala perbedaan, acara ini terbuka untuk umum dan tidak dipungut biaya. Masyarakat, komunitas, dan media diundang untuk hadir memberikan dukungan langsung,” katanya menutup. [dan/aje]






