Malang (beritajatim.com) – Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Islam Malang (FEB UNISMA) secara strategis melakukan langkah besar dalam transformasi kurikulum program Ekonomi Manajemen Bisnis dan Akuntansi (EMBA). Langkah ini diwujudkan melalui kolaborasi lintas negara dengan menghadirkan pakar dari Tokyo International University (TIU) Jepang untuk membedah standar kompetensi lulusan manajemen di kancah global.
Hal itu menurut Dekan FEB Unisma Malang, Afifudin, S.E., M.SA., Ak, dilakukan untuk menghadapi dinamika dunia bisnis global yang kian kompleks. Sinkronisasi kurikulum pendidikan tinggi dengan standar internasional menjadi kebutuhan mendesak.
“Isu utamanya adalah bagaimana menciptakan model pendidikan pascasarjana yang adaptif, fleksibel, namun tetap berbasis pada pemecahan masalah nyata (real-world problem solving),” jelas Afifudin pada beritajatim.com, Kamis (5/2/2026).
Salah satu poin krusial dalam diskusi pengembangan kurikulum ini adalah pergeseran model pembelajaran. Menilik model yang diterapkan di TIU Jepang, struktur kurikulum kini lebih diarahkan pada penguatan fondasi di tahun pertama dan spesialisasi berbasis minat pada tahun kedua.

Prof. Rangga Handika dari Tokyo International University menekankan bahwa sistem evaluasi pendidikan bisnis modern tidak lagi hanya bertumpu pada ujian konvensional.
“Pada fase awal, mahasiswa dibekali mata kuliah inti sebagai fondasi keilmuan. Namun, memasuki semester lanjutan, evaluasi dialihkan pada case project. Ini penting agar mahasiswa mampu memecahkan masalah nyata di dunia bisnis dan manajemen secara praktis,” jelasnya dalam sesi benchmarking di Gedung FEB Unisma pada Selasa (3/2/2026) lalu.
[irp posts=”1472355” ]
Dekan FEB Unisma juga menegaskan bahwa pembenahan kurikulum EMBA ini merupakan upaya untuk meningkatkan daya saing lulusan di level internasional tanpa mencabut akar nilai lokal.
“Benchmarking ini menjadi referensi vital bagi kami untuk menyusun kurikulum EMBA yang adaptif. Targetnya jelas: selaras dengan standar internasional namun tetap relevan dengan konteks kebutuhan industri lokal serta nilai-nilai ke-NU-an,” ungkap Afifudin.
Isu pengembangan mutu pendidikan ini ternyata menjadi perhatian kolektif. Kegiatan ini turut dihadiri oleh jajaran dekanat dari berbagai wilayah di bawah naungan Asosiasi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Nahdlatul Ulama (AFEBNU).
Sejumlah perguruan tinggi besar turut terlibat dalam diskusi intensif ini, di antaranya UNWAHAS Semarang, UNSIQ Wonosobo, IIQ An Nur Yogyakart, UNU Yogyakarta, UNUSA Surabaya, UNISLA Lamongan, UNISNU Jepara, UNUGHA Cilacap, hingga IAI NU Kebumen.
Sinergi antar-perguruan tinggi NU ini diharapkan mampu menciptakan standarisasi mutu pendidikan bisnis yang merata di Indonesia, sekaligus memperkuat jejaring kolaborasi internasional.
“Dengan adanya perombakan kurikulum yang lebih dinamis dan berorientasi pada hasil, FEB UNISMA berkomitmen mencetak lulusan EMBA yang tidak hanya menyandang gelar akademis, tetapi juga memiliki ketajaman analitis dalam memimpin organisasi di era disrupsi,” kata Dekan FEB Unisma menutup. (dan/aje)






