Tiga kali Ernando Ari Sutaryadi melakukan kesalahan mengantisipasi arah bola. Tiga kali pula gawang Persebaya kebobolan.
Tiga kesalahan itu kita sebut saja ‘Errornando’. Tiga kesalahan yang tak boleh terjadi lagi dalam empat pertandingan sisa untuk menguak jalan menuju Asia. Terutama karena Flavio Silva tak bisa terus-terusan menjadi juru selamat tim ini.
Pertandingan melawan Arema di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali, Senin (28/4/2025), seharusnya bisa dimanfaatkan Persebaya merebut tiga angka untuk menyalip Dewa United di posisi kedua klasemen sementara Liga 1 2024-25.
Dalam dua kesempatan sebelumnya, Persebaya gagal mengambil peluang untuk berada di bawah Persib Bandung. Jika menang, maka Persebaya akan mengepul 55 angka, terpaut dua angka di atas Dewa United.
Keyakinan untuk menang itu bukannya tak masuk akal, kalau melihat catatan buruk Arema saat berhadapan dengan Persebaya. Singo Edan tak pernah menang atas Bajul Ijo dalam tujuh pertandingan terakhir. Mereka hanya sekali menuai hasil seri 2-2, 6 November 2021.
Kondisi Arema pada musim 2024-25 juga angin-anginan. Mereka kesulitan menembus empat besar klasemen. Dua pertandingan terakhir Arema sebelum melawan Persebaya selalu berujung kekalahan (2-3 dari Persita dan 0-1 dari Madura United).
Peluang Persebaya untuk menang terbuka lebar hingga menit 70. Bola sepak pojok yang dikirim Arhan Fikri gagal diantisipasi Ernando. Dia terburu-buru maju meninggalkan gawang untuk meninju bola.
Bola gagal ditepis dan mengenai kepala Charles Lokolingoy yang kemudian jatuh di kaki Thales. Pemain asal Brasil itu bereaksi cepat dan menendang bola itu ke gawang Persebaya. Gol.
Kesalahan Julián Guevara yang mengganjal ujung tombak Persebaya Flavio Silva di kotak penalti Arema enam menit kemudian, membuat wasit Thoriq Alkatiri meniup peluit. Bruno Moreira mengeksekusi bola dari titik 12 meter dan mencatatkan gol ketujuhnya musim ini.
Di luar beberapa penyelamatan gemilang yang dilakukan Ernando, kesalahan dalam membaca dan mengantisipasi arah bola tak ubahnya sebuah anomali. Errornando.
Gol PSIS Semarang pada menit terakhir, 12 Maret 2025, mirip dengan gol Thales. Ernando meninggalkan gawang dan gagal menepis bola umpan lambung. Bola jatuh di kaki Septian David Maulana yang menceploskannya ke gawang Persebaya dengan mudah.
Gol Persija Jakarta yang dicetak Rayhan Hannan, 12 April 2025, berawal dari kesalahan Ernando yang meninggalkan gawang terlampau jauh dengan maksud menyapu bola. Rayhan pun menendang bola melambung, masuk ke gawang Persebaya.
Sebagaimana pertandingan melawan Arema, dua pertandingan itu berakhir 1-1.
Performa Ernando mengingatkan kita pada prosa Eduardo Galeano, dalam buku Soccer in Sun and Shadow. Dia menulis profil ringkas tentang sosok penjaga gawang dengan sangat puitis.
He is alone,
condemned to watch the match from afar.
Never leaving th goal,
his only company the two posts and the crossbar,
he awaits his own execution by firing squad.
Ernando seperti kata Galeano dikutuk untuk menyaksikan pertandingan dari kejauhan sekaligus menanti eksekusi pasukan tembak.
The crowd never forgives the goalkeeper…
With a single slip-up the goalie can ruin a match or lose a championship,
and the fans suddenly forget all his feats
and condemn him to eternal disgrace.
And when the team has a bad afternoon,
he is the one who pays the bill,
expiating the sins of others
under a rain of flying balls.
Dari posisi penjaga gawang yang dilakoninya selama bertahun-tahun, filsuf Prancis Albert Camus belajar banyak tentang kemungkinan-kemungkinan dan hal-hal tak terduga dalam hidup. Dia memilih jadi kiper sejak kecil karena memperpanjang keawetan sepatunya.
“I learned that the ball never comes where you expect it to. That helped me a lot in life, especially in large cities where people don’t tend to be what they claim.”
Di bawah mistar gawang, Camus belajar untuk menang tanpa merasa seperti Tuhan dan kalah tanpa merasa seperti sampah.
Galeano mengatakan, pengalaman menjadi penjaga gawang, mengilhami Camus untuk belajar mengungkapkan beberapa misteri jiwa manusia, yang labirinnya dijelajahi kemudian dalam buku-bukunya yang masyhur.
Kita tentu saja tidak berharap Ernando menjadi filsuf seperti Camus. Persebaya tidak butuh seorang filsuf eksistensialisme untuk mengejar satu slot dalam kejuaraan Asia musim depan. Cukup sadari saja: namanya Ernando, bukan Errornando. Tiga kesalahan dalam tiga pertandingan bukanlah takdir yang tak bisa diperbaiki
Setelah itu, yakinlah, Persebaya akan baik-baik saja.
Amin. [wir]






