Bojonegoro (beritajatim.com) – Banjir luapan Sungai Bengawan Solo di wilayah Kabupaten Bojonegoro belum surut. Banjir menggenangi sejumlah ruas jalan, lahan pertanian, dan fasilitas umum disejumlah desa di Kecamatan Baureno.
Luapan banjir sungai terpanjang di Pulau Jawa itu sudah terjadi sejak Jumat (17/02/2023). Ratusan hektar tanaman padi di tujuh desa wilayah Kecamatan Baureno tergenang. Beberapa ruas jalan desa juga tidak bisa dilalui kendaraan.
Bahkan dampak banjir luapan Bengawan Solo itu, warga di RT 08 hingga RT 11 Dusun Mojopencol Desa Kalisari Kecamatan Baureno tidak bisa beraktifitas karena jalan lingkungan tergenang dengan ketinggian air mencapai 1 meter.
[berita-terkait number=”5″ tag=”banjir”]
“Warga akhirnya menitipkan kendaraan bermotor di rumah yang tidak tergenang untuk aktifitas keluar dusun,” ujar warga Desa Kalisari, Kecamatan Baureno, Fahmi, Selasa (21/02/2023).
Desa Kalisari, terutama Dusun Mojopencol di RT 08 hingga RT 11 jalan lingkungannya terendam hingga empat hari ini. Selain jalan lingkungan, luapan Sungai Bengawan Solo juga merendam SDN 1 Kalisari di bagian halaman.
Jalan lingkungan yang terendam ada sepanjang kurang lebih 1,3 kilometer. Air merendam jalan setinggi kurang lebih 20-50 centimeter. Saat ini pihak sekolah masih meliburkan proses belajar mengajar karena ada sebagian ruang kelas yang terendam.
“Belum ada rencana untuk lahan darurat untuk belajar mengajar. Karena belum ada laporan ke dinas pendidikan,” ujar Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Bojonegoro, Suyanto.
Selain di Desa Kalisari, sejumlah desa di Kecamatan Baureno juga terendam. Diantaranya Desa Pucangarum ada sekitar 145 hektar lahan pertanian terendam. Sebagian lahan sudah panen, tetapi beberapa hektar tanaman padi terpaksa dipanen lebih awal.
Kemudian Desa Kadungrejo ada 8 hektar, Desa Pomaham 50 hektar, Desa Kauman 100 hektar, Desa Lebaksari 13 hektar. Jalan desa di Lebaksari juga ada yang terendam antara 20-50 centimeter. [lus/kun]






