Surabaya (beritajatim.com) – Ketua Umum Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Jawa Timur Emil Elestianto Dardak hadir memberikan pembekalan dihadapan ribuan mahasantri Ma’had Aly dan perguruan tinggi agama Islam. Dalam kesempatan tersebut, calon wakil Gubernur Jawa Timur ini menyerukan pentingnya menghapuskan kemiskinan dalam hal pembelajaran.
Berduet dengan Gus Reza Lirboyo, Emil menggambarkan terdapat kebutuhan mendesak akan komitmen dari semua elemen masyarakat untuk berinvestasi lebih banyak dan lebih baik pada manusia.
Menghapuskan kemiskinan dalam hal pembelajaran sama pentingnya dengan menghapuskan kemiskinan moneter yang ekstrem, terhambatnya pertumbuhan, atau kelaparan. Untuk mencapainya di masa mendatang, diperlukan kemajuan yang jauh lebih cepat dalam skala yang belum pernah kita lihat.
“Perlu ada kearifan lokal yang muncul dalam sebuah kurikulum. Dari sisi mahasiswa maupun lembaga harus sama-sama bergotong royong, berikhtiar yang berkelanjutan untuk meningkatkan kualitas kurikulum untuk mengatasi sebuah kemiskinan dalam hal pembelajaran,” kata Emil Dardak, Rabu (5/9/2024).
Emil juga menuturkan bahwa pendidikan harus holistik, itulah sebabnya di Jawa Timur didorong harus ada program seperti BOSDA Madin, yakni Bantuan Penyelenggaraan Pendidikan Diniyah dan Guru Swasta yang merupakan salah satu bentuk bantuan operasional sekolah daerah (BOSDA). Bosda Madin diberikan untuk membantu biaya operasional pendidikan diniyah
“Pada prinsipnya anggaran yang disiapkan harus diimbangi oleh komitmen dari pemerintah baik kabupaten maupun kota yang ada di Jawa Timur. Semangat ini merupakan perwujudan agar setiap masyarakat berhak akan pendidikan,” tuturnya.
Peranan guru dalam mencerdaskan bangsa adalah tak ternilai. Mereka bukan hanya penyampai informasi, tetapi juga pembentuk karakter, penuntun bakat, dan pilar moral. Mereka adalah agen perubahan yang membantu menciptakan generasi yang cerdas, bertanggung jawab, dan siap menghadapi masa depan.
Peningkatan status sosial dan profesionalisme guru, dukungan yang lebih besar dari pemerintah, serta pengembangan terus-menerus dalam pendidikan dan pelatihan guru adalah langkah-langkah yang harus diambil untuk memastikan kelangsungan pendidikan yang berkualitas dan mewujudkan cita-cita mencerdaskan bangsa.
“Kita tidak membangun bangsa kita dengan aspal, beton dan baja saja melainkan jerih payah dan pengorbanan para guru yang mendidik anak-anak kita bahkan dengan bayaran yang tidak besar. Negara harus hadir, dan harus ada keberpihakan,” kata Emil.
“Kita meyakini semakin terbuka kualifikasinya semakin besar ruang untuk berkarya, dan memang semakin luas juga potensi-potensi karir lintas disiplin yang bisa dikembangkan,” sambungnya.
Lebih lanjut, Emil menekankan bahwa bias subjektif harus dilawan dengan meritokrasi dimana meritokrasi merupakan prinsip yang mengedepankan prestasi, etos kerja, dan nilai-nilai yang luhur.
Dalam penutup kuliah umum, Emil berpesan agar para mahasantri dan mahasiswa dapat memupuk semangat untuk terus berkarya dengan hasil dari pemikiran sendiri. Menurutnya, mencari rujukan sebanyak-banyaknya itu bukan suatu yang yang tidak kreatif melainkan membangun referensi.
“Merancang sesuatu hal kemudian bisa dilakukan jika referensi kita banyak dan kita sering ngulik atau mencoba membuat karya maka niscaya akan terbentuklah orisinalitas,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu pula, Gus Reza yang memoderatori Emil Dardak menyampaikan agar para mahasantri dan mahasiswa harus tetap menjaga sanat keilmuan serta mampu mengaktualisasikan ilmu yang didapat ketika hidup di tengah masyarakat.
“Menjadi generasi yabg tau tentang sejarah para leluhurnya, sejarahnya, budayanya, niscaya akan menjadi generasi yang kuat dan tidak akan terombang ambing oleh aliran sesat dan aliran sesaat,” tutup Gus Reza. [uci/aje]






