Madiun (beritajatim.com) – Kopi asal Desa/Kecamatan Kare, Kabupaten Madiun sudah dikenal masyarakat di wilayah Madiun dan sekitarnya. Rasa kopi yang khas iru cocok di lidah siapa saja baik anak muda hingga orang tua.
Namun, pada awalnya, petani kopi di desa itu tak tahu jika kopi harus diproses dengan cara yang benar agar harga jualnya terdongkrak.
Bahkan, kini akhirnya mereka bisa tergabung dalam Javeast Coffee, hasil Communal Branding petani kopi bersama Kopi asal Sidomulyo, Jember dan Desa Wonosalam, Jombang. Produknya pun sudah diekspor ke Mesir pada 26 Oktober 2022 lalu.
Merawat tanaman kopi tidaklah mudah. Pohonnya butuh sedikit sinar matahari begitu pula tanahnya. Jadi, butuh tanaman pelindung. Dan sebenarnya tanaman pelindung yang ideal adalah tanaman lamtoro atau petai cina. Uniknya, di perkebunan kopi Desa Kare, tanaman pengayom kopi bukanlah tanaman itu. Tapi, adalah pohon pinus. Sebanyak 70 persen luas lahan pertanian yang ada di bawah kelompok tani naungannya, adalah tanah milik Perhutani.
[berita-terkait number=”5″ tag=”kopi”]
“Total ada 51 petani yang aktif menanam kopi. Kami sudah bekerja sama dengan perhutani. Sehingga, kami memang menggunakan tanaman itu untuk pelindung kopi,” ujar Sumadi, Rabu (2/11/1022).
Sumadi, ketua kelompok tani Mugi Lestari Desa Kare menceritakan perjalanan panjang dirinya dan rekan sesama petani untuk belajar mengolah kopi pasca panen. Perjalanan itu diawali dengan petani yang memilih menanam kopi di lahan milik Perhutani pada 2008 lalu.
Di awal mereka menanam kopi seperti biasa, biji kopi yang hijau pun turut dipetik. Yang mereka jual pun adalah green bean atau buah kopi yang sudah dikupas dan hanya tinggal biji. Harganya biasa saja, dan tak banyak memberikan keuntungan bagi para petani.
Namun, setelah mendapatkan sejumlah sosialisasi dari berbagai dinas terkait, mereka mulai paham jika kopi yang siap dipanen adalah yang berwarna merah ceri. Kualitas kopi yang bagus harus dipertahankan dengan cara memetik hanya kopi yang sudah berwarna merah saja.
“Selain citarasa asli kopi bisa muncul, hal itu juga bisa membuat kopi bisa dipanen dengan maksimal. Sekali masa panen, kopi bisa dipetik sebanyak tiga kali. Dari yang tadinya hanya sekali saja. Kami tahu setelah mendapatkan pelatihan dari dinas terkait,” kata Sumadi.
[berita-terkait number=”5″ tag=”UMKM”]
Dia pun akhirnya sedikit demi sedikit mencoba untuk mengolah kopi pasca panen. Mulai dari menjemur, menyimpan, memanggang kopi atau roasting, menggiling hingga mengemas. Masing-masing tahapannya ada teknik dan aturan tertentu agar kualitas dan cita rasa kopi tetap terjaga sampai diseduh dan dinikmati konsumen.
Menjemur kopi pada awalnya langsung dijemur di sinar matahari langsung dan digelar di atas terpal yang diletakkan di halaman. Namun, ternyata yang benar adalah harus menggunakan penyangga kayu untuk meletakkan wadah penjemur. Penjemuran harus di tempat tertutup namun tetap terkena cahaya matahari meski tak langsung yakni dengan menggunakan green house atau rumah kaca. Greenhouse miliknya adalah plastik keras seperti bahan atap yang tembus cahaya matahari.
“Harus disangga agar tidak berbau tanah dan tidak kena debu. Greenhouse juga harus bersih dan tidak kena cahaya matahari langsung. Penjemuran dilakukan seminggu,” lanjut Sumadi.
Usai dijemur, kopi harus disimpan minimal enam bulan agar bau langu bisa hilang. Gudangnya pun juga harus gudang kering dengan suhu ruangan. Barulah, kopi bisa dijual atau lanjut ke tahap roasting. Setelah diroasting bisa langsung dikemas atau dihaluskan dulu baru dikemas.
“Dulu desain kemasan hanga menggunakan pres biasa. Namun sekarang sudah jauh lebih baik, karena pakai plastik klip dan alumunium foilnya. Desain kemasannya juga sudah semakin bagus dibantu dengan anak-anak muda. Syukurlah,” katanya.
Tak sampai di situ, pengenalannya pun dibantu dinas terkait dengan menghadirkannya sebagai suguhan untuk tamu-tamu dari luar daerah. Tak hanya itu, sejumlah pameran UMKM pun juga menghadirkan produknya untuk diperkenalkan. Sekaligus ikut beberapa kali cupping test. Mereka juga mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan sertifikat halal.
“Kini produk yang kami jual bukan hanya jenis robusta biasa dan robusta lanang tapi juga termasuk kopi Arabika dan Excelsa. Harganya per 100 gram, Kopi Robusta Rp15.000, Kopi Arabica dan Robusta Lanang yakni Rp30.000. Serta untuk Excelsa kami banderol Rp35.000. Pemesan sudah dari seluruh penjuru Indonesia jika di pasar daring, untuk pasar offline kami juga memasok ke sejumlah toko modern di Kabupaten Madiun,” kata Sumadi.
Dia bersyukur produk kopinya masuk sebagai salah satu Communal Branding hingga bisa diekspor ke negeri Seribu Menara itu. Namun, dia tak ingin berbesar hati, menurutnya belajar untuk mengembangkan produk kopi itu dipelajari seumur hidup. Ada saja hal-hal baru yang dipelajari untuk meningkatkan kualitas produknya. (fiq/kun)







