Pamekasan (beritajatim.com) – Harga sapi di kabupaten Pamekasan, mengalami penurunan harga hingga jutaan rupiah khususnya dalam sebulan terakhir, yakni akibat maraknya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) yang menyerang hewan ternak.
“Akhir-akhir ini, harga jual sapi mengalami penurunan sekitar Rp 2 juta hingga Rp 5 juta per ekor sapi. Kalau sebelumnya biasa laku Rp 15 juta, saat ini justru hanya bisa laku Rp 10 juta hingga Rp 11 juta per ekor,” kata salah satu pedagang sapi, Jumadin, Sabtu (11/6/2022).
Pedagang asal Sokobanah, Sampang, yang biasa berdagang di sejumlah pasar hewan di Pamekasan. Juga mengakui turunnya harga tersebut tidak lepas dari adanya informasi seputar PKM yang marak dalam sebulan terakhir, sehingga mengakibatkan pada harga jual dagangannya.
[berita-terkait number=”3″ tag=”disperindag-Pamekasan”]
“Saat ini harga sapi benar-banar turun drastis, apalagi juga banyak pedagang yang saat ini lebih memilih tidak membeli sapi. Mareka khawatir ternak yang dibeli diserang wabah, seperti yang sempat ramai di berita (media sosial),” ungkapnya.
Bahkan dirinya juga menyampaikan jika memaksa tetap berdagang pada saat ini, dapat dipastikan akan mengalami kerugian yang tidak sedikit. “Jadi kalau tetap (jual beli), insya’ Allah rugi. Apalagi kondisi harga yang tidak stabil seperti ini,” tegasnya.
Hal senada juga disampaikan pedagang sapi lainnya, Tonawar. Pedagang asal Desa Kertagenah Laok, Kecamatan Kadur, menilai harga sapi saat ini sangat murah dibanding harga sebelum adanya informasi wabah PMK khususnya di Pamekasan.
[berita-terkait number=”3″ tag=”disperindag-Pamekasan”]
“Kami sempat kedatangan pembeli untuk satu ekor sapi dengan harga Rp 13 juta, kami nilai harga itu terlalu murah. Besok harinya kami bawa ke Pasar Keppo (Galis, Pamekasan), ternyata yang ditawarkan justru Rp 11 juta atau dibawah harga pertama,” jelasnya.
Sementara Kepala Bidang Pasar Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Pamekasan, Agus Wijaya menyampaikan kondisi wabah PMK memang sangat berdampak pada aktivitas jual beli sapi di pasaran. Tidak hanya di Pamekasan, tetapi juga di kabupaten lain di Madura.
“Laporan dari kepala pasar sapi di Waru, di sana hanya ada satu ekor sapi di pasar. Peternak dan pedagang sudah khawatir untuk melakukan aktivitas jual beli. Sebab masyarakat khawatir harga jual justru murah, termasuk pedagang yang enggan membeli karena khawatir terjangkit PMK,” jelasnya.
“Jadi harga jual sapi turun akibat akibat wabah PMK ini, bukan hanya (terjadi) di Pamekasan, akan tetapi juga terjadi di pasar hewan lain di Pulau Madura, seperti di Sampang, Bangkalan di Kabupaten Sumenep,” pungkas Pak Agus. [pin/but]






