Tuban (beritajatim.com) – Fitrah Faradisa (40), wanita asal Tuban, Jawa Timur ini sudah lima tahun bergelut dengan usaha ecoprint. Berbekal brand Anabae, Fitrah meraup cuan hingga jutaan rupiah.
Tetapi bagi Fitrah, uang bukan tujuan utama dia menggeluti bisnis ecoprint. Lebih dari itu, ada harapan agar lingkungan tetap lestari demi generasi berikutnya.
Ya, kesadaran itu muncul dalam benak Fitrah tepatnya pada 2018. Kala itu, dia melihat banyak sampah organik, seperti dedaunan dan batang pohon, teronggok di tepi jalan.
Dari situ, terbersit ide untuk memanfaatkan sampah-sampah itu menjadi bahan produksi bernilai tinggi dengan ecoprint. Ecoprint sendiri merupakan seni olah kain dengan teknik mencetak dan pewarnaan menggunakan bahan alami dari lingkungan sekitar.
Fitrah bercerita, ia belajar seni olah kain menggunakan bahan-bahan alami, serta dedaunan yang diambil di pinggir jalan. Bagi banyak orang, dedaundan maupun bunga di tepi jalan tidak memiliki nilai jual.
Berbekal skill yang dia pelajari, Fitrah membuat karya seni yang bisa diubah menjadi barang-barang bernilai jual tinggi. Mulai dari baju, jaket, sepatu, tas, topi, maupun aksesoris lainnya.
BACA JUGA:
450 PPPK Ikuti Masa Orientasi, Sekda Tuban Pesan Agar Mengenali Etika Kerja
Usaha Fitrah pun mulai berjalan. Hingga 2019, pandemi Covid-19 melanda dan membuat usahanya goyah.
Di saat itulah, Fitrah mengenal yayasan Kopernik yang beranggotakan ibu-ibu inspirasi. Fitrah memutuskan bergabung dengan tujuan untuk mengasah kemampuannya serta berharap mendapatkan bimbingan.
“Jadi pada tahun tersebut saya bergabung dengan yayasan Kopernik yang dinamai dengan ibu-ibu inspirasi, selama satu tahun saya dan ibu-ibu inspirasi lainnya mendapatkan pembinaan yang disupport oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL),” ucap Fitrah. selasa (21/11/2023).
Tak hanya Fitrah, banyak pemula yang ikut bergabung dengan niat ingin belajar dan menekuni kemampuannya. Kata Fitrah, hampir setahun lamanya ia mendapatkan bimbingan dari Kopernik yang disupport oleh ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dengan program Pengembangan Masyarakat.
Dari satu tahun itu Fitrah mendapatkan berbagai fasilitas yang diberikan ExxonMobil agar mampu mengembangkan kreatifitasnya untuk memulai bisnis, adapun fasilitas itu berupa pelatihan baik secara offline dan online untuk menambah skill para ibu inspirasi, termasuk cara pengelolaan keuangan, dibantu pengurusan legalitas usaha, verifikasi produk, public speaking, dan kesempatan bekerjasama dengan salah satu pusat oleh-oleh terbesar di Surabaya.
“Karena saya nggak paham bagaimana mengembangkan bisnis ini di Tuban juga sebagai UMKM harus ngapain saja, lalu apa yang dibutuhkan oleh bisnis kecil saya, sehingga bergabungnya saya di Kopernik yang disupport langsung oleh EMCL sangat membantu sekali untuk pengembangan usaha ecoprint saya,” imbuhnya.
BACA JUGA:
Warga Tuban Geruduk Festival Gunungan Tape Tawaran
Fitrah yang sedari awal sadar akan lingkungan, ia berupaya kreatifitas ecoprint yang digelutinya menggunakan bahan – bahan alami, bahkan untuk kain saja dirinya memakai kain kapas linen, sedangkan untuk proses mencetak menggunakan dedaunan, akar, bunga, maupun batang pohon.
Selain itu, ExxonMobil juga memberikan bantuan berupa packaging atau pengemasan berupa tas kemasan yang terbuat dari pelepah pisang. Alasan dari ExxonMobil sendiri dikarenakan produk milik Fitrah atau Annabae ini merupakan kerajinan tangan dari bahan – bahan alami, sehingga packaging juga menyelaraskan.
“Jadi bantuan itu diberikan oleh ExxonMobil ke ibu – ibu inspirasi Kopernik dan diberikan kepada saya, jadi memang saat itu apa yang saya butuhkan yaitu packaging dan diberikanlah bantuan itu dari Exxon,” paparnya.
Selain Fitrah, para pengusaha lainnya juga diberikan bantuan yang serupa untuk menunjang perkembangan usahanya. Namun, kini menurut Fitrah pihaknya sudah tidak bergabung dengan Kopernik lagi, dikarenakan Kopernik membina pengrajin batik, sedangkan produknya tidak termasuk kerajinan batik.
Meski begitu, Fitrah masih terdaftar sebagai UMKM binaan dari ExxonMobil Cepu Limited (EMCL) dan dalam rangka Hari Jadi Tuban, produk miliknya juga ikut dipamerkan oleh EMCL di Alun-alun Tuban selama 22-26 November 2023.
“Jadi setiap ada pameran gitu saya dihubungi oleh pihak EMCL, kemarin produk saya dibawa ke Jakarta dalam rangka pameran,” imbuhnya.
Menurut Fitra, EMCL juga sangat membantu mempromosikan produk – produknya, adapun 100 pesanan tas laptop ecoprint buatan Annabae yang juga dipesan berkat EMCL. Selain tas laptop, Fitrah juga membuat ecoprint di topi, baju, kemeja laki-laki, outer, gamis, jilbab, jaket, celana, tas, gantungan kunci, sepatu dan peci. Untuk harga berkisar dari mulai Rp200 ribu hingga Rp1,3 juta untuk satu set.
Seperti sepatu hanya dibandrol dengan harga Rp300 ribu sampai Rp350 ribu untuk bahan kanvas, kalau kulit dimulai dari harga Rp550 ribu sampai Rp900 ribu. Sedangkan, gamis mulai dari Rp800 sampai Rp1,3 juta, tas mulai dari Rp200 ribu, jaket kemeja ada yang Rp200 sampai Rp600 ribu, tergantung dari bahan dan tingkat kerapian cetakan daunnya.
“Alhamdulilah, berkat binaan selama ini, saya mampu mengajak ibu-ibu tetangga saya untuk membantu membuatkan pesanan ecoprint, termasuk anak-anak sekolah yang ingin belajar bagaimana pembuatan ecoprint juga kami terima,” imbuhnya.
Fitrah berharap dengan anak-anak sekolah yang ingin belajar ecoprint, maka sadar akan pelestarian lingkungan dengan memanfaatkan alam sekitar.
“Dengan kita memakai bahan alami, maka meminimalisir bahan kimia pada pembuatan kain,” pungkasnya. [ayu/beq]






