Jombang (beritajatim.com) – Kabupaten Jombang bakal kedatangan tamu istimewa, yakni Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif merangkap Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Salahuddin Uno atau lebih dikenal dengan nama Sandiaga Uno. Kedatangan Sandiaga untuk menghadiri Kenduri Durian (Kenduren) yang digelar pada Minggu 5 Maret 2023 di lapangan Kecamatan Wonosalam Jombang.
Hari semakin dekat, persiapan hajat skala nasional tersebut terus dikebut. Semisal, rapat koordinasi panitia dengan pihaknya terkait yang digelar di ruang Swagata Pendapa Jombang pada Selasa 14 Februari 2023. Rapat dipimpin oleh Bupati Jombang Mundjidah Wahab dan didampingi oleh Wabup Sumrabah. Hadir juga dari unsur kepolisian, Kapolsek Wonosalam AKP Hariono serta Kabag Ops Polres Jombang Kompol Purwo Atmojo.
Semua berharap acara tersebut sukses. Karena agenda rutin tersebut sempat ditiadakan selama dua tahun akibat gempuran pandemi. Dalam forum tersebut, baik bupati maupun wabup mewanti-wanti kepada panitia agar perhelatan tersebut bukan sekadar untuk mengeruk keuntungan. Tapi lebih pada upaya memromosikan wisata Wonosalam.
[berita-terkait number=”3″ tag=”durian-wonosalam”]
Bupati Mundjidah mengatakan bahwa Menteri Sandiaga Uno akan hadir pada acara Kenduri Durian tersebut. Bahkan, Menteri Pariwisata akan menginap semalam di Wonosalam. Yakni pada Sabtu 4 Maret 2023. Pada agenda pertama itu, Menteri Sandiaga melakukan dialog dengan pelaku pariwisata di Kecamatan Wonosalam. Tempatnya di DeDurian Park.
“Kemudian besoknya atau Minggu 5 Maret 2023 Pak Menteri membuka Kenduri Durian atau Kenduren Wonosalam Jombang. Warga Jombang dan sekitarnya silakan hadir. Kami berharap acara berlangsung sukses dan bisa mendongkrak potensi wisata di Wonosalam,” ujar Bupati Jombang.
Rangkaian Kenduren Sudah Berjalan

Kenduri Durian digelar pada Minggu 5 Maret 2023. Namun demikian, rangkaian acara tersebut sudah berlangsung mulai Februari 2023. Pertama, dilakukan acara Nandur Durian di kebun bibit Wonosalam pada 2 Februari. Selanjutnya, dilakukan kontes durian yang dihelat selama tiga kali pada waktu berbeda. Yakni, tanggal 5, 12 dan 26 Februari yang bertempat di DeDurian Park.
Pada kontes pertama 5 Februari, diikuti sebanyak 57 peserta. Seluruh buah yang diikutkan kontes itu merupakan durian di wilayah tersebut. Harapannya, dengan kontes tersebut akan muncul varietas baru yang unggul. Sejak pagi, petani Wonosalam membawa buah berduri tersebut ke panitia untuk didaftar sebagai peserta. Buah-buah itu kemudian diberi nomor urut dan dijajar memanjang di atas panggung. Dari situlah tim juri melakukan penilaian.
“Dengan kontes ini diharapkan muncul varietas baru. Karena di Wonosalam bukan hanya ada durian jenis Bido yang sudah terkenal. Tapi juga ada varietas lainnya. Dari kontes ini akan diambil juara 1, 2 dan 3,” kata Ketua Panitia Kontes Durian Wonosalam Ketut Suseno Putro.
[berita-terkait number=”3″ tag=”pemkab-jombang”]
Tim juri melakukan penilaian secara objektif. Yakni menimbang bobot buah tersebut. Juga melakukan pengukuran lingkar buah durian (vertikal dan horisontal), serta warna kulit durian. Tahap selanjutnya, durian dibuka. Penilaian tahap ini meliputi pengukuran ketebalan kulit, warna daging, lajur isi buah, serta juring.
Terakhir dilakukan penilaian rasa (manis, pahit, pulen dan gurih), serta tekstur daging buah. Hal serupa juga dilakukan pada kontes kedua pada Minggu 12 Februari 2023. “Para pemenang akan diundang pada Kenduri Durian pada 5 Maret untuk menerima hadiah,” lanjut Mamik, panggilan akrab Ketut Suseno Putro.
Konsep Kenduri Durian itu sendiri tidak jauh berbeda dengan dengan tahun-tahun sebelumnya. Sebanyak sembilan desa di Kecamatan Wonosalam mengarak tumpeng durian. Sementara di lapangan Wonosalam disiapkan gunungan raksasa yang berisi 2023 butir durian. Nah, durian itulah yang diperebutkan secara gratis oleh pengunjung.
Jejak Wallace di Wonosalam

Belum ada penelitian sejak kapan pohon perkebunan durian tumbuh subur di Wonosalam Jombang. Namun jejak Wonosalam terekam jelas oleh Alfred Russel Wallace. Wallace dikenal sebagai naturalis dari Inggris. Awal penjelajahannya tercatat pada tahun 1846 saat ia berusia 23 tahun yang menjejakkan kaki di Amazon.
Wallace adalah seorang penemu teori seleksi aalam dan garis lintang imajiner atau yang dikenal lagi dengan garis Wallace. Dia pernah melakukan penelitian pada tahun 1861 di Wonosalam. Penelitian itu ditulis dalam bukunya ‘the malay archipelago’. Buku ini merupakan salah satu buku perjalanan ilmiah terbaik pada abad ke-19.
Dalam buku itu, Wallace memiliki kesimpulan tentang bagaimana seleksi alam dapat memberikan kontribusi pada keanekaragaman flora dan fauna. Wallace sempat singgah di Candi Arimbi yang letaknya di Dusun Ngrimbi, Desa Pulosari, Kecamatan Bareng, namun secara geografis lebih dekat dengan Wonosalam.
Dalam kisah perjalanannya, ketika menuju Wonosalam ia melihat hutan yang sangat indah dan melewati bangunan Candi Arimbi yang juga sangat menakjubkan yang dia anggap sebagai pusara seorang raja. Mungkin praduga Wallace tidak salah, karena menurut berbagai kisah, Candi Arimbi dibangun sebagai tempat perabuan Tribhuwanatunggadewi yang merupakan penjelmaan dari Dewi Parwati.
Selain itu, Wallace mengumpulkan berbagai jenis spisemen ayam hutan dan berbagai burung, utamanya burung merak, juga mengunjungi kebun-kebun kopi. “Sampai sekarang, kopi tetap menjadi salah satu komoditas perkebunan utama petani di Wonosalam, selain cengkih dan kakao serta berbagai jenis durian utamanya durian bido,” kata Junaedi, tokoh asal Wonosalam yang juga pengajar pada Program Pascasarjana Universitas Darul ‘Ulum Jombang.

Hanya saja, menurut Junaedi, Wallace tidak menyinggung soal tanaman durian di Wonosalam. Dia berpandangan, saat itu durian memang tidak masuk dalam tanaman perkebunan. Hal itu berbeda dengan kopi. Pohon durian tumbuh liar sebagai tanaman hutan. Bahkan durian belum menjadi tanaman yang komersil. “Keanekaragaman hayati yang berada di Wonosalam memiliki sejarah penting terhadap ilmu pengetahuan dengan adanya peneliti dunia Alfread Russel Wallace,” ujarnya.
Menurut Junaedi, durian mulai dikomersilkan sekitar tahun 1970-an. Yakni, ketika infrastruktur menuju kawasan Wonosalam mulai dibangun. Berdasarkan cerita para pendahulu, lanjutnya, pada 1960 durian masih liar. Belum diperjual-belikan. “Durian baru dikonsumsi ketika jatuh dari pohon. Masih menjadi tanaman liar. Sekitar tahun 1970-an baru menjadi komoditi yang diperjual-belikan,” lanjut alumnus IPB (Institut Pertanian Bogor) ini.
Selain kopi, apakah durian menjadi daya ungkit ekonomi warga Wonosalam? Junaedi mengiyakan, meski dirinya belum melakukan penelitian secara rinci. “Masalah dayang ungkit ekonomi itu yang hendak saya tulis. Pastinya, dampak ekonomi durian terhadap Wonosalam sangat besar,” pungkasnya.
Populasi Durian Wonosalam 192.152 Pohon

Populasi pohon durian di Wonosalam terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu. Pada 2021 populasi durian di Wonosalam mencapai 192.152 pohon. Hal itu berdasarkan pendataan yang dilakukan lintas sektor: Bappeda, Dinas Pertanian, Asosiasi Komoditi (Askom), serta Poktan (Kelompok Tani) dan Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani).
Setiap pohon didata dan diberi barcode. Isinya identitas pohon tersebut, mulai lokasi hingga jenis buah durian. Dari hasil pemetaan itu diketahui jumlah tanaman durian di Kecamatan Wonosalam tercaatat 192.152 pohon. Rinciannya, tanaman sudah berbuah atau menghasilkan sebanyak 112.521 pohon, sedangkan yang belum menghasilkan 79.632 pohon.
Sebanyak 192.152 pohon durian tersebut tersebar di sembilan desa di Kecamatan Wonosalam. Paling banyak di Desa/Kecamatan Wonosalam tercatat 62.714 pohon atau 32,64 persen. Paling sedikit di Desa Wonokerto, yakni 2.631 pohon atau 1,37 persen. Populasi tertinggi selanjutnya di Desa Jarak, yakni 35.868 pohon durian atau 18,67 persen.

Lalu, Desa Carangwulung sebanyak 33.767 pohon durian atau 17,57 persen. Disusul kemudian Desa Panglungan tercatat 20.675 pohon durian atau 10,76 persen. Desa-desa lainya jumlah populasinya antara 8 hingga 2 persen. Selain sebarannya, durian tersebut juga dilihat dari kualitasnya.
Yakni meliputi durian grade A, grade B, grade B+, grade C, serta grade D. Setiap grade memiliki ciri fisik dan kualitas berbeda. Semisal durian grade A memiliki daging tebal, warna menarik, pernah menjadi juara kontes, serta bibit berasal dari generatif/vegatatif.
Kemudian durian grade B+ pembibitannya secara generatif, dagingnya tebal dan memiliki warna menarik, bijinya lajur, serta berpotensi menjadi durian grade A. Durian B+ bijinya lajur, sedangkan grade B bijinya tumpuk. Hasil pendataan dikelola dalam aplikasi yang dikelola Askom. Ini digunakan untuk mengetahui standart buah durian Wonosalam.
Ketua Panitia Kontes Durian Wonosalam 2023 yang juga pegiat Askom, Ketut Suseno Putro membenarkan data itu. “Populasi durian di Wonosalam sebanyak 192.152 pohon. Itu data dua tahun lalu. Untuk saat ini dipastikan bertambah,” ujar Mamik, panggilan akrab Ketut Suseno Putro. [suf/ted]






