Ponorogo (beritajatim.com) – Kecamatan Ngebel Ponorogo, selain dianugrahi dengan telaga yang masih asri dan sejuk, daerah di lereng Gunung Wilis tersebut diberkahi tanah yang subur. Aneka buah-buahan, manggis, alpukat, nangka, dan tentunya raja buah durian, tumbuh subur di tanah tersebut. Bahkan untuk durian yang sudah berusia puluhan tahun dan batangnya sudah besar, dibiarkan begitu saja tanpa dirawat, ia tetap berbuah setiap tahunnya.
“Kalau orang sini bilang duren ndeso, sudah berumur puluhan tahun dan pohonnya sudah besar-besat. Itu dibiarkan begitu saja, setiap tahunnya tetap berbuah,” kata Fajar, petani durian asal Desa Sahang Kecamatan Ngebel, Rabu (20/1/2026).
Namun, untuk pohon durian yang baru ditanam kurang lebih 5 tahun terakhir, itu memang perlu perawatan. Meskipun begitu, perawatannya pun mudah dan tidak ribet. Petani secara periodik setiap tahunnya, memberikan pupuk kandang atau pupuk kompos. Fajar menyebut bahwa mayoritas petani durian di Ngebel, tidak menggunakan pupuk kimia untuk merawat tanaman duriannya.
“Ya merawatnya pakai pupuk kandang, kompos maupun organik. Jadi tidak memakai pupuk kimia,” kata Fajar.
Saat panen, Fajar menyebut para petani di desanya itu, ada beberapa untuk memasarkannya. Pertama, hasil durian yang sudah matang itu, dijual ke pengepul di seputaran Telaga Ngebel. Jika sudah disepakati harga, petani langsung pulang bawa uang.
“Kami tidak menentukan harga, ya pengepul melihat besar kecilnya buah, disepakati harganya ya langsung bayaran gitu,” katanya.
Kemudian, ada juga pengepul yang jemput bola, langsung datang ke rumah para petani. Misalnya, dalam sehari, jika di pohon ada 10 biji yang sudah matang, itu dipanen lalu sorenya sudah ada yang membelinya ke rumah. Ada juga yang sistem borong, ada pedagang yang berani memborong semua buah durian dalam 1 pohon sekali panen.
“Istilahnya itu kalai orang desa menyebutnya ditebas. Pernah pohon durian kami yang sudah besar, ditebas dengan harga Rp10 juta,” katanya.
Sementara itu, data Dinas Pertanian, Ketahanan Pangan dan Perikanan (Dispertahankan) Ponorogo mencatat, saat ini terdapat 289.241 batang pohon durian produktif yang tersebar di wilayah tersebut. Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dispertahankan Ponorogo, Tri Budi Widodo, menyebut rata-rata produktivitas durian di Ngebel mencapai 50 kilogram per batang. Sebagian besar pohon merupakan tanaman berusia tua dan sudah memasuki fase produksi stabil.
“Produksi durian di Ngebel ini didukung pohon-pohon yang sudah besar. Rata-rata satu batang bisa menghasilkan kurang lebih 50 kilogram,”kata Tri Budi Widodo.
Selain pohon lama, penguatan juga datang dari program bantuan pemerintah. Dalam kurun lima tahun terakhir, Dispertahankan Ponorogo telah menyalurkan lebih dari 10 ribu bibit durian kepada petani. Saat ini, sebagian tanaman bantuan tersebut mulai belajar berbuah, sementara lainnya masih dalam fase pertumbuhan awal.
“Kalau melihat siklusnya, lima tahun ke depan jumlah produksi bisa jauh lebih banyak karena tanaman bantuan pemerintah sudah masuk usia produktif,” jelasnya.
Beragam varietas unggulan turut dikembangkan petani, di antaranya Musang King, Montong, dan Super Tembaga. Namun demikian, Tri mengakui dalam beberapa tahun terakhir produksi durian sempat mengalami penurunan akibat faktor iklim yang kurang ideal.
Menurutnya, durian sangat bergantung pada keseimbangan cuaca. Tanaman ini membutuhkan panas yang cukup dan curah hujan yang relatif rendah agar pembungaan dan pembuahan berlangsung optimal.
“Durian itu mau berbuah banyak kalau panasnya cukup dan hujannya sedikit. Kalau kondisi itu terpenuhi, buahnya pasti lebat,” terangnya.
Perbedaan kondisi geografis juga memengaruhi waktu berbunga. Di wilayah Ngebel, daerah yang berada di dataran lebih rendah cenderung mengalami pembungaan lebih awal dibandingkan kawasan atas atau pegunungan.
“Di daerah bawah bunganya lebih awal. Sementara di atas biasanya lebih lambat,” imbuh Tri.
Untuk menjaga produktivitas dan kualitas tanaman, pendampingan petani terus dilakukan. Setiap desa di wilayah Ngebel telah memiliki penyuluh pertanian yang bertugas mendampingi petani durian, mulai dari perawatan, pengendalian hama, hingga penyesuaian pola tanam terhadap perubahan iklim. [end/aje]






