Mojokerto (beritajatim.com) – Dewan Pengurus Cabang (DPC) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Mojokerto Raya menyatakan sikap terkait dualisme kepemimpinan di tubuh Dewan Pengurus Pusat (DPP) GMNI. Ada empat poin yang disampaikan DPC GMNI Moiokerto Raya terkait desakan agar DPP GMNI segera menggelar Kongres Persatuan.
Yakni DPC GMNI Mojokerto Raya menolak dualisme di tubuh GMNI yang mencederai kebesaran GMNI, DPC GMNI Mojokerto Raya mendesak di selenggarakannya kongres persatuan, DPC GMNI Mojokerto tidak melegimitasi DPP manapun sampai adanya kongres persatuan dam DPC GMNI Mojokerto Raya tidak ikut serta apabila kongres hanya diselenggarakan oleh salah satu DPP.
Ketua DPC GMNI Mojokerto Raya, Agung Ludiansyah mengatakan, DPC GMNI Mojokerto Raya mendesak DPP GMNI untuk melaksanakan persatuan. “Menghadapi dinamika yang terjadi di tubuh DPP GMNI baru-baru ini, DPC Gmni Mojokerto Raya menegaskan pentingnya persatuan dan soliditas organisasi demi keberlanjutan perjuangan yang lebih besar,” ungkapnya, Senin (3/3/2025).
GMNI sebagai organisasi kader dan perjuangan memiliki sejarah panjang dalam memperjuangkan nilai-nilai kebangsaan, demokrasi, dan keadilan sosial. Sebagai rumah besar kaum nasionalis, menurutnya, GMNI harus tetap menjunjung tinggi nilai-nilai demokrasi dan musyawarah dalam setiap pengambilan keputusan organisasi.
“DPC GMNI Mojokerto Raya mengajak seluruh kader untuk menahan diri dari tindakan yang dapat memperkeruh situasi serta mengedepankan dialog yang konstruktif guna mencapai solusi terbaik bagi organisasi. DPC GMNI Mojokerto Raya menegaskan bahwa persatuan GMNI adalah fondasi utama dalam menghadapi tantangan kebangsaan dan kemahasiswaan ke depan,” katanya.
Oleh karena itu, lanjutnya, DPC GMNI Mojokerto Raya mendorong semua pihak untuk kembali kepada semangat kekeluargaan, menjunjung tinggi marwah organisasi, serta menghindari perpecahan yang dapat melemahkan gerakan mahasiswa nasional Indonesia. Sebagai organisasi yang berpegang pada asas perjuangan marhaenisme, GMNI harus tetap menjadi pelopor dalam membela kepentingan rakyat dan bangsa.
“Kami percaya bahwa hanya dengan persatuan dan sikap saling menghormati, GMNI dapat terus berkontribusi dalam mencetak kader-kader pemimpin bangsa yang progresif dan berpihak kepada kepentingan rakyat. Merespon dengan terjadinya dualisme di tubuh DPP GMNI yang menghambat terjalannya roda roda organisasi, sehingga terjadi kondisi kontra revolusioner,” ujarnya.
GMNI Mojokerto Raya menolak segala bentuk dualisme dalam tubuh organisasi dan tidak akan melegitimasi DPP manapun hingga Kongres Persatuan dilaksanakan. GMNI Mojokerto Raya juga menegaskan tidak akan ikut serta dalam kongres yang hanya diselenggarakan oleh salah satu pihak.
Sekedar diketahui, GMNI pusat terbelah di kubu Imanuel dan Arjuna selama lima tahun dualisme kepengurusan pasca kongres di Ambon pada 2019 lalu. Kondisi ini menjadi faktor penghambat berjalananya roda organisasi dan kaderisasi serta berakibat pada suatu kondisi yang kontra revolusioner serta memicu narasi perpecahan di tingkatan daerah. [tin/kun]






