Surabaya (beritajatim.com) – Setelah bertahun-tahun terpecah, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GmnI) Surabaya akhirnya melakukan rekonsiliasi di Wisma Marinda Surabaya, Minggu (12/10/2025).
Momen ini menjadi babak baru bagi organisasi nasionalis tersebut untuk kembali memperkuat soliditas kader di Kota Pahlawan.
Rekonsiliasi ini mempertemukan dua kubu Dewan Perwakilan Cabang (DPC) GmnI Surabaya yang terbelah, yakni kubu Alfito Rafif Amanda dan kubu Virgiawan Budi Prasetyo. Kedua belah pihak kini sepakat untuk mengakhiri perbedaan dan membangun kembali GmnI sebagai rumah ideologis yang berpihak pada persatuan dan perjuangan rakyat.
Ketua Umum DPP GmnI periode 2025–2029, Risyad Fahlefi, menegaskan bahwa semangat persatuan merupakan roh perjuangan yang diwariskan Bung Karno dan harus menjadi pegangan bagi setiap kader GmnI. Dia menyebut, perpecahan hanyalah bagian dari proses pendewasaan organisasi.
Menurut dia, perbedaan pandangan adalah hal yang wajar dalam organisasi, namun semangat nasionalisme dan marhaenisme harus menjadi pondasi yang menyatukan seluruh kader. Dia berharap DPC GmnI Surabaya bisa kembali menjadi laboratorium pergerakan mahasiswa yang solid dan produktif.
“Sesungguhnya persatuan dan kesatuan merupakan semangat yang dibawa oleh Bung Karno. Oleh karena itu, kader GmnI sejati harus membawa semangat persatuan tersebut,” ujar Risyad di hadapan para kader dan alumni.
Sementara itu, Alfito Rafif Amanda, Ketua DPC GmnI Surabaya, menyambut baik inisiatif rekonsiliasi yang akhirnya mempertemukan dua kubu yang sempat berseberangan. Dia menyebut semangat kebersamaan ini harus dijaga agar GmnI kembali pada marwah perjuangannya.
“Setelah bertahun-tahun kita terpecah, angin persatuan ini menjadi kabar baik bagi semua kader GmnI Surabaya. Kami ingin GmnI kembali menjadi rumah besar bagi seluruh mahasiswa nasionalis,” kata Alfito.
Virgiawan Budi Prasetyo, Ketua DPC lainnya, juga menegaskan bahwa semangat rekonsiliasi ini adalah langkah riil untuk mengembalikan nilai-nilai ideologis organisasi. Dia menilai persatuan adalah bagian dari jati diri GmnI sebagai wadah perjuangan kaum marhaen.
“Sebagai organisasi yang berlandaskan nasionalisme dan marhaenisme, semangat persatuan ini adalah marwah yang harus dijaga. Kami sepakat untuk menutup perbedaan dan melangkah bersama demi masa depan GmnI Surabaya,” ujar dia.
Dr. Harjono, alumni GmnI yang turut hadir, menilai rekonsiliasi ini sebagai momentum penting untuk regenerasi organisasi yang sehat. Mantan Hakim Konstitusi ini berharap DPC GmnI Surabaya bisa menjadi contoh kedewasaan berorganisasi bagi cabang lain di seluruh Indonesia.
“Yang dibutuhkan sekarang bukan siapa yang paling benar, tapi siapa yang mau bekerja bersama. GmnI Surabaya punya sejarah panjang dalam gerakan mahasiswa, dan persatuan ini adalah cara terbaik menghormati sejarah itu,” kata Harjono.
Risyad menegaskan agar semangat persatuan tak berhenti di forum rekonsiliasi semata. Dia meminta seluruh kader menjaga komunikasi dan memperkuat kaderisasi agar GmnI kembali menjadi kekuatan moral dan intelektual di tengah masyarakat.
“Persatuan ini bukan hanya simbol semata, namun merupakan komitmen. GmnI Surabaya harus kembali menjadi motor pemersatu dan pelopor gagasan progresif di kalangan mahasiswa,” pungkas alumnus Ilmu Politik Universitas Airlangga Surabaya ini.[asg/ted]






