Jember (beritajatim.com) – Dua akademisi perempuan Universitas Jember menyerukan aksi nyata di level lokal untuk merespons kebijakan nasional terhadap perubahan iklim. Aksi kecil yang dilakukan secara konsisten lebih bermakna daripada rencana besar yang tidak pernah dimulai.
“Saatnya bekerja untuk iklim. Bukan hanya tahu, namun mulai melakukan. Bukan hanya prihatin, tetapi ikut terlibat. Bukan hanya kampanye, tetapi ada perubahan perilaku dan kegiatan konkret di lapangan,” kata Luh Putu Suciati, Koordinator Program Studi Magister Pengelolaan Sumber Daya Air Pertanian/Pengelolaan Sumber Daya Alam dan Lingkungan Pascasarjana Unej, dalam talkshow di gedung Pascasarjana Unej, Kamis (16/7/2026).
Acara talkshow bertema “Saatnya Bekerja untuk Iklim: Dari Kebijakan Nasional ke Aksi Lokal” ini diselenggarakan untuk memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia.
Menurut Suciati, pengetahuan masyarakat mengenai persoalan sampah, perubahan pola hujan, keterbatasan air bersih, dan meningkatnya cuaca ekstrem, belum selalu diikuti tindakan yang konsisten. Padahal, menurut Yeny Dhokhikah, peneliti pilar lingkungan SDGs Centre Unej, aksi lingkungan tidak cukup dilakukan melalui slogan.
Yeny menegaskan perlunya aksi lokal seperti kerja bakti, pengurangan plastik sekali pakai, pengelolaan sampah organik, penghematan air, serta penanaman dan pemeliharaan pohon untuk menghadapi persoalan iklim. “Kegiatan lingkungan tidak boleh berhenti sebagai seremoni,” katanya.
“Mulailah dari rumah, kampus, sekolah, kantor, dan lingkungan sekitar. Jika dilakukan bersama, langkah kecil dapat berkembang menjadi gerakan besar,” kata Yeny.
Sejumlah aktivitas seperti penanaman pohon harus disertai perawatan, pembersihan sungai perlu dilanjutkan dengan pemantauan, dan kampanye pemilahan sampah membutuhkan mekanisme pengelolaan yang jelas. “Dokumentasi, evaluasi, publikasi, dan rencana tindak lanjut juga penting agar program dapat direplikasi,” kata Yeny.
Sementara untuk sektor air dan pertanian, perubahan iklim membutuhkan langkah adaptasi. Perubahan pola hujan dapat mengganggu irigasi, meningkatkan risiko banjir dan kekeringan, serta menurunkan produktivitas. Wilayah pertanian dapat menerapkan pertanian hemat air, konservasi tanah dan air, embung, serta agroforestri.
“Sementara daerah perkotaan perlu memperkuat pengelolaan sampah, ruang terbuka hijau, transportasi rendah emisi, dan efisiensi energi, sedangkan wilayah pesisir harus menangani abrasi, banjir rob, kerusakan ekosistem, dan sampah laut,” kata Suciati.
Perguruan tinggi dinilai memiliki peran strategis melalui riset, pendidikan, dan pengabdian kepada masyarakat. Kampus dapat menjadi laboratorium hidup bagi penerapan kebijakan dan teknologi lingkungan. Mahasiswa dapat terlibat melalui audit sampah, pengukuran kualitas air, edukasi pengomposan, pemetaan timbulan sampah, penyusunan desain pengelolaan limbah, serta pemanfaatan media sosial untuk menyebarkan informasi lingkungan yang benar. [wir/ian]






