Pertandingan Persebaya melawan Persib Bandung di Gelora Bung Tomo, Surabaya, Senin (2/3/2026), menghadirkan drama yang tidak selesai setelah 90 menit. Mungkin begitulah takdir (atau kutukan?) untuk sepak bola.
Gol Persib yang dianulir berkat kejelian VAR dan pergerakan gelandang Persebaya Toni Firmansyah, yang membuat Eliano Reijnders terjengkang, sebelum mengoperkan bola ke Francisco Rivera dan berakhir dengan gol ke gawang Teja Paku Alam, membuat laga ini pantas disebut sebagai laga klasik dua raksasa eks Perserikatan.
Datang sebagai pemuncak klasemen, Persib mendominasi pertandingan dengan penguasaan bola 63 persen. Namun Bruno Moreira yang membuka deadlock dengan mencetak gol melalui titik putih pada menit 43.
Gol diberikan wasit Eko Saputra setelah VAR menangkap tabrakan yang dilakukan Federico Barba terhadap Moreira. Pelanggaran ini berawal dari kecerobohan gelandang Persib Sadil Ramdani dalam mengoper bola.
Gol ke sembilan Moreira musim ini membuat optimisme 30 ribu penonton di Gelora Bung Tomo bangkit. Menit 45+8, Kakang Rudianto mencetak gol penyama kedudukan. Namun VAR dengan jeli menangkap adegan bola mengenai tangan Ramon Tanque terlebih dulu saat melakukan tendangan salto.
Gol penyama kedudukan Persib baru lahir pada menit 51 melalui Luciano Guaycochea yang menembak bola ke sudut kanan gawang Ernando Ari. Menit 73, Andrew Jung menggandakan skor.
Namun saat Persib terlihat di atas angin, dengan tenaga yang tersisa, Toni Firmansyah menggiring bola dan menekuk tubuhnya sehingga lolos dari kawalan Reijnders. Bola dioperkan kepada Francisco Rivera yang menembakkan ke gawang Persib tanpa kontrol. Skor berubah 2-2 pada menit 83 dan menjadi akhir drama di atas lapangan.
Pemain bersalaman. Pemain muda Persib Beckham Putra memberikan jerseynya kepada seorang bocah di tribun diikuti tepuk tangan penonton. Dua pelatih plontos yang sama-sama terkena kartu kuning, Bojan Hodak dari Persib dan Bernardo Tavares dari Persebaya bersalaman. Ketegangan mencair.
Namun drama di luar lapangan baru dimulai. Mendadak media sosial riuh dengan perdebatan soal ucapan bernada kebencian terhadap pemain Persebaya Mikael Tata dan pemain Persib Kakang Rudianto. Rupanya sebagian pendukung dari dua klub masih belum bisa memahami bahwa lawan dalam pertandingan sepak bola tidak identik dengan musuh di dunia nyata.
Komisaris PT Persib Bandung Bermartabat, Umuh Muchtar, mempersoalkan kepemimpinan wasit Eko Saputra dan meminta pertandingan besar dipimpin wasit impor. “Ketika wasit asing yang memimpin laga tentu bisa netral (keputusannya),” jelasnya, sebagaimana diberitakan Suara.com, 4 Maret 2026.
Permintaan ini bisa dipahami kendati terdengar ganjil dan kontradiktif dengan sikap Umuh yang memprotes keras kepemimpinan wasit Majed Mohammed Al Shamrani asal Arab Saudi, saat Persib bertanding menghadapi Ratchaburi FC, dalam Babak 16 Besar AFC Champions League 2025-26, di Stadion Gelora Bandung Lautan Api, 18 Februari 2026.
Umuh bahkan menyebut kualitas wasit Indonesia lebih baik. “Wasit bagaimana dibilang Indonesia jelek-jelek, tidak sejelek seperti ini. Ini wasit FIFA ya. Asia lagi. Gila ini keterlaluan,” katanya, diberitakaan tvonenews.com, 19 Februari 2026.
Dalih buruknya kepempinan Al Shamrani ini yang kemudian membuat Umuh bisa memahami amarah Bobotoh yang melakukan pitch invasion. “Kalau kemarin sampai ada kejadian besar, siapa yang bertanggung jawab? Untung tidak ada kejadian sampai pembakaran atau sampai pemukulan wasit, coba kalau sampai seperti itu?” katanya.
Sementara itu, konflik antarsuporter menajam menyusul penyerangan terhadap suporter Persib Bandung. Polisi menangkap sepuluh orang terduga pelaku kekerasan tersebut. Relasi suporter Bandung dan Surabaya sejak beberapa musim terakhir memang tak terlalu bagus.
Namun drama yang paling mengejutkan tentu saja adalah keputusan manajemen Persebaya untuk menutup tribun utara di Gelora Bung Tomo hingga akhir musim 2025-26. Dalam pernyataan di akun resmi media sosial Persebaya disebutkan, keputusan itu diambil setelah berdiskusi dengan jajaran kepolisian dan stakeholder.
“Dasarnya adalah marak dan masifnya ujaran kebencian dan penyalaan petasan di Tribun Utara pada Senin lalu, 2 Maret 2026. Demi keamanan dan kenyamanan suporter di dalam stadion, menjaga marwah sepak bola yang menjunjung tinggi sportivitas, saling menghormati, serta kemanusiaan, keputusan untuk menutup Tribun Utara akan mulai diberlakukan pada home game melawan Persita pada 4 April 2026.”
Penghuni tribun utara yang akrab disebut Green Nord terdiri atas banyak komuntas kecil dan individual. Selama ini, bersama komunitas tribun lainnya, mereka sering dianggap sebagai pembawa perubahan positif di tubuh Bonek.
Tidak hanya menciptakan dan menyanyikan lagu-lagu penyemangat dengan suara lantang, Green Nord seringkali membuat terpukau banyak orang dengan kreativitas mereka di tribun.
Andhi Mahligai, anggota Bonek Writers Forum, dalam akun Istagram pribadinya pada 20 Juli 2025, menyebut Green Nord adalah bagian dari ikhtiar bersama untuk melawan ujaran kebencian di stadion.
Bukan hal yang aneh jika kemudian dia tak bisa menutupi kekecewaannya, saat ujaran kebencian justru muncul dari tribun utara saat ini.
“Prihatin rasanya, menyaksikan tribun ini menjadi sangat besar, namun pada akhirnya ada lagi chants-chants yang berisi ujaran kebencian,” kata Andhi.
Harapan Andhi sederhana. “Semoga semuanya bisa mawas diri, saatnya kembali pada spirit awal, Spirit Green Nord yang penuh energi dan penuh dukungan, tak ada ujaran kebencian.”
Penutupan tribun belakang gawang sudah jamak dilakukan di Eropa, terutama di Italia yang kental dengan kultur ultras. Ada kalanya permusuhan di tribun melampaui kompetisi di atas lapangan hijau. Sesuatu yang membuat manajemen klub harus cermat dalam mengambil keputusan agar tidak terseret arus sentimentil dan emosi di kalangan pendukungnya sendiri.
Sebagai bentuk sanksi internal, kebijakan menutup tribun utara bisa dipahami. Sejumlah rivalitas kelewat batas yang memakan korban jiwa tak lepas dari ujaran kebencian yang dirapalkan berkali-kali nyaris bagai mantra.
Namun manajemen juga perlu memahami alasan dan latar belakang munculnya kembali ujaran-ujaran kebencian di tribun. Bukan untuk dirasionalisasi, namun untuk dijadikan refleksi bersama agar tak terjadi kembali.
Di sinilah perlunya kebijakan itu diikuti dengan upaya komunikasi antara manajemen Persebaya dengan Bonek. Jalinan komunikasi yang baik menjadi bentuk penghargaan Persebaya terhadap suporternya sendiri yang dulu berjuang menyelamatkan klub itu dari kematian dan terlahir menjadi burung phoenix. Karena sesungguhnya mereka bukan customer yang datang dan pergi sesuka hati.
Mereka Green Nord. [wir]






