Medio 2019, penerbit Fandom menerbitkan buku saya berjudul ‘Drama Persebaya: Sehimpun Reportase Jatuh Bangun Persebaya Surabaya Mengarungi Liga 1 2018′. Saya menempatkan ‘drama’ sebagai judul untuk menggambarkan dinamika Persebaya di dalam dan luar lapangan. Ada drama yang tercipta karena pertandingan yang menegangkan. Ada drama yang muncul dari pola komunikasi dan kinerja manajemen Persebaya.
Empat tahun berselang, saya sebenarnya berharap bisa menulis buku dengan judul ‘Juara’. Namun agaknya harapan saya terlampau berlebihan. ‘Drama’ rupanya adalah bagian dari Persebaya. Dan pada musim 2023-24 ini, drama terjadi sejak awal perjalanan klub berjuluk Bajul Ijo tersebut. Dari awal menargetkan juara, kini Persebaya terseok-seok.
Drama lengsernya Aji Santoso dari kursi pelatih, proses pergantian pelatih yang lambat, hingga viral pemain memelesetkan Song For Pride dan rasisme yang dialami bek Yohanes Kandaimu mengiringi ketidakstabilan posisi Persebaya di klasemen sementara akhir putaran pertama.
Setelah 17 pekan Liga 1 bergulir, Persebaya berada di peringkat 11 dengan mengemas 22 poin, dari 6 kemenangan, 4 hasil imbang, dan 7 kekalahan. Persebaya hanya sukses melesakkan 20 gol dan kebobolan 27 gol. Poin mereka terpaut 8 angka dari posisi teratas zona degradasi yang ditempati Arema (14 angka) dan 8 angka dari posisi terakhir zona empat besar yang ditempati Rans Nusantara (30 angka).
Dengan kata lain, opsi untuk Persebaya masih terbuka lebar: lolos ke babak empat besar untuk menuntaskan target juara, atau terjerumus dalam neraka degradasi. Dan kekalahan 0-4 dari Persik di Stadion Brawijaya, Kediri, pada pekan ke-17, bisa menjadi rute awal ambruknya target sang presiden Azrul Ananda jika tak segera ada pembenahan.
Tak ada yang bisa diharapkan dari Persebaya dalam pertandingan di Brawijaya, Jumat (27/10/2023) sore itu. Pola main tak jelas. Kinerja antarlini tak cair. Taktik pelatih susah dimengerti, hingga pelanggaran ceroboh berbuah kartu merah oleh sang kapten Reva Adi Utama.
Absennya Dusan Stevanovic dan Kadek Raditya membuat pelatih Persebaya Josep Gombau memasang Song berduet dengan Riswan Lauhin. Di bangku cadangan, ada Kandaimu yang spesialis bek tengah. Namun Gombau lebih memilih Song yang biasa beroperasi sebagai gelandang.
Memasang gelandang di posisi bek tengah bukan hal baru. Saat Liverpool dihajar badai cedera, Jurgen Klopp pernah memasang gelandang bertahan Fabinho sebagai bek tengah. Banyak fans Liverpool yang mempertanyakan, mengingat stok pemain tengah Liverpool masih tesedia. Namun pertaruhan Klopp berhasil.
Gombau bukan Klopp dan Persebaya bukan Liverpool. Keputusan Gombau menempatkan Song Ui Young menjadi bek tengah menunjukkan betapa tipisnya kualitas skuat Persebaya musim ini. Dan penempatan Song di posisi bek tengah jelas kesalahan terbesar Gombau hari itu.
Tiga gol awal Persik tak lepas dari andil Song. Gol pada menit 47 terjadi setelah bola tembakan spekulatif Adi Eko berbelok karena terkena kaki Song, sehingga gagal diantisipasi kiper Ernando Ari. Sebelumnya, pada menit 45 jelang babak pertama berakhir, terjadi kontroversi di kotak penalti Persebaya yang melibatkan Song.
Perebutan bola antara Song dengan gelandang serang Bayu Otto berbuah hadiah penalti untuk Persik. Protes keras yang dilakukan oleh pemain Persebaya membuat wasit Zetman Pangaribuan berdiskusi dengan hakim garis Adi Nanda. Hasilnya ia membatalkan hadiah penalti tersebut. Keputusan kontroversial itu menunjukkan betapa pentingnya kehadiran VAR (Video Assistant Referee) dalam sepak bola Indonesia.
Tak hanya ikut andil dalam gol pertama Persik, Song justru ikut mempertebal keunggulan lawan, setelah bola tandukannya masuk ke gawang Ernando pada menit 55. Lauhin dan Song sama-sama tak siap mengantisipasi bola silang dari sisi sayap kiri pertahanan mereka. Bola yang gagal disapu Lauhin akhirnya mendarat ke kepala Song, dan terciptalah gol itu.
Enam menit kemudian gol Persik lagi-lagi terjadi dengan skema bola lambung dari sisi sayap kanan Persebaya. Tak ada yang menjaga Flavio Silva yang menerima bola lambung daru Simen Lyngbø. Song sebagai pemain terdekat dengan Flavio tidak cukup memiliki insting untuk ikut melompat dan menyambar bola.
Buruknya pertahanan Persebaya tak hanya gara-gara Song, namun juga karena sang kapten Reva Adi. Akumulasi dua kartu kuning hanya dalam waktu dua menit sore itu, pada menit 52 dan 54, membuatnya harus keluar dari lapangan. Gol kedua Persik terjadi semenit setelah ia dikeluarkan dari lapangan.
Bolongnya pertahanan Persebaya karena kekurangan satu pemain membuat Gombau menarik Kasim Botan yang bermain cukup bagus untuk digantikan Kandaimu pada menit 58. Taktik Gombau jelas: memperkuat sisi pertahanan dan mengandalkan serangan balik.
Bukannya membuat pertahanan menguat, Kandaimu justru melengkapi rapuhnya pertahanan Persebaya. Tujuh menit setelah masuk lapangan, pemain asal Papua ini melakukan kesalahan elementer. Kegagalannya mengontrol bola membuat Flavio mendapatkan kesempatan mencetak gol pamungkas dengan mudah. Dan kita paham mengapa Kandaimu tak cukup mendapat kepercayaan dari Gombau selama ini.
Kekalahan empat gol tanpa balas membuat Bonek geram. Dalam pertemuan dengan manajemen di Surabaya Town Square, Senin (30/10/2023), Bonek menuntut dilakukannya revolusi di tubuh Persebaya. Yahya Alkatiri diminta meninggalkan kursi manajer tim jika Persebaya gagal menang dalam tiga pertandingan pertama putaran kedua.
Bonek mendesak Presiden Persebaya Azrul Ananda untuk segera menyelamatkan tim. Persebaya harus berhenti melakukan operasi transfer pemain seperti pembelian kucing dalam karung. Setiap pembelian harus dipertimbangkan benar, terutama dari aspek kualitas dan kebutuhan tim.
Tuntutan Bonek ini sangat relevan jika dikaitkan dengan dilepaskannya sepuluh pemain Persebaya, dua orang di antaranya pemain asing saat jendela transfer putaran kedua dibuka. Beberapa pemain yang dilepas antara lain Alwi Slamat, Ferdinand Sinaga, Denny Agus, dan Risky Dwiyan dengan status permanen dan pinjaman. Dua pemain asing yang konon akan dilepas adalah Ze Valente dan Paulo Victor.
Melepas pemain di tengah kompetisi adalah hal wajar. Namun nyaris tidak pernah ditemui sebuah klub profesional di Eropa yang melepas pemain dengan jumlah hampir setara dengan satu kesebelasan pada saat kompetisi berjalan. Pelepasan besar-besaran dengan status apapun menunjukkan bahwa ada yang salah dengan perekrutan pada awal kompetisi.
Pelepasan pemain ini bisa dikarenakan dua faktor, yakni faktor kualitas pemain yang tak cukup bagus dan faktor selera kebutuhan pelatih. Jika faktor pertama mendominasi, maka Persebaya harus segera membereskan pola perekrutan selama ini, termasuk personel yang memilih dan menentukan pemain sasaran.
Jika faktor selera dan kebutuhan pelatih yang dominan, itu merupakan konsekuensi dari pergantian pelatih dari Aji Santoso, Uston Nawawi, ke Gombau di tengah musim kompetisi. Adaptasi harus dilakukan. Tidak saja oleh pelatih, tapi juga pemain. Apalagi Gombau tak hanya beradaptasi dengan atmosfer kompetisi Liga 1, tapi juga dengan bahasa dan karakter pemain.
Namun seharusnya pelepasan pemain besar-besaran dengan alasan tak sesuai kebutuhan pelatih tidak perlu terjadi, jika kualitas pemain memadai. Pemain yang berkualitas akan bisa beradaptasi dengan cepat. Apalagi filosofi permainan Aji dan Gombau tak jauh berbeda, kecuali intensitasnya. Apalagi masih ada Uston Nawawi dalam tim yang sebelumnya menjadi caretaker pelatih, dan mencatatkan empat kemenangan dan satu hasil imbang selama bertugas.
Kualitas pemain di sini bukan hanya dari faktor teknis tapi juga mental. Adanya pemain yang mudah mengeluh di media sosial menunjukkan ada yang perlu direparasi dari aspek mental. Hari ini sulit bagi pelatih dan manajemen klub membatasi ruang gerak pemain sebagaimana 10-20 tahun lalu pada saat media sosial belum hadir. Penggunaan media sosial juga merupakan bagian dari privasi pemain.
Pemain yang baik seharusnya menyadari bahwa media sosial bukan hanya urusan berkomunikasi dengan fans, namun juga bisa memunculkan distraksi atau gangguan pemecah konsentrasi. Manajemen Persebaya dan pemain direpotkan dengan urusan di luar sepak bola, sebagaimana perseteruan berbau rasisme antara Kandaimu dengan seorang pengguna media sosial yang sempat viral.
Kasus Jardon Sancho yang mengeluh di media sosial dan memunculkan friksi dengan pelatihnya di Manchester United, Erik Ten Hag, seharusnya menjadi pelajaran tentang berbahayanya internet tanpa manejemen psikologi yang baik.
Maka desakan Bonek kepada manajemen Persebaya untuk memperketat akses kepada pemain menjadi tuntutan penting. Stabilitas tim secara teknis dan mental menjadi prioritas dalam Persebaya, terutama karena Bonek menuntut realisasi target juara musim ini. Saya pun berharap, bisa menulis buku tentang Persebaya tidak lagi dengan judul ‘Drama’, tapi ‘Juara’. [wir]






