Jember (beritajatim.com) – Komisi D DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur, menyentil besaran gaji Dewan Pengawas (Dewas) Rumah Sakit Daerah dr. Soebandi dan membandingkannya dengan tugas serta fungsi selama ini.
Dewas terdiri atas tiga orang. Posisi ketua dijabat Rohani Siswanto, politisi Partai Gerindra, anggota DPRD Jawa Timur 2019-2024, dan Ketua Tim Pengarah Percepatan Pembangunan Daerah Kabupaten Pasuruan. Dia dibantu perwakilan Dinas Kesehatan dan Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah Jember.
Rohani sempat dua kali menjabat anggota DPRD Kabupaten Pasuruan dan mengaku teman Bupati Muhammad Fawait. “Terakhir di DPRD Provinsi Jatim, saya temannya Gus Fawait (Bupati Jember Muhammad Fawait),” katanya saat rapat dengar pendapat dengan Komisi D DPRD Jember, 3 Maret 2026.
Ketua Komisi D Sunarsi Khoris mengatakan, selama ini tidak pernah mengetahui peran-peran Dewas dalam mengawasi kinerja RSD dr. Soebandi. “Tugasnya Dewas apa? Basicnya Dewas masuk ke Rumah Sakit dr. Soebandi apa? Karena gajinya luar biasa,” katanya.
Informasi yang diperoleh Sunarsi dari jajaran manajemen RSD dr. Soebandi, Ketua Dewas digaji Rp 9 juta per bulan. Ini jauh lebih besar daripada gaji Ketua Dewas pada masa-masa sebelumnya yang hanya Rp 2,5 juta.
Rohani mengatakan keanggotaan Dewas saat ini mengoreksi keanggotaan Dewas sebelumnya. “Sesuai Peraturan Menteri Dalam Negeri terkait Badan Layanan Umum Daerah, ada tiga pembinaan dan pengawasan BLUD,” katanya.
Selain Dewan Pengawas, menurut Rohani, ada pembina teknis dan pembina keuangan yang dijabat Kepala Dinas Kesehatan dan Kepala Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah. “Dalam SK sebelumnya mereka menjabat Dewas. Ini sebenarnya yang tumpang tindih karena pembina tidak boleh menjabat Dewas,” katanya.
Rohani kemudian menceritakan perannya dalam perbaikan manajemen keuangan RSD dr, Soebandi yang sempat terlilit utang dan hampir kolaps. “Bahkan untuk bayar gaji saja sudah enggak mampu,” katanya.
Hari ini, menurut Rohani, semua indikator keuangan RSD dr. Soebandi menuju sehat. “Saya sampaikan misalnya cash ratio kita pada 2024 adalah 0,2, sekarang sudah 0,53. Kita hari ini sudah bisa bayar semua,” katanya.
Tak hanya tugas dan fungsinya yang diatur regulasi, Rohani menegaskan, penentuan besaran gajinya juga disesuaikan regulasi. “Kita punya domain masing-masing. Kita punya mazhab masing-masing,” katanya.
Rohani siap mengembalikan kelebihan gajinya jika dianggap melanggar regulasi oleh Badan Pemeriksa Keuangan maupun Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan.
“Kalau memang (kemudian dikatakan): oh gajimu kelebihan, saya kembalikan. Hak demi Allah ini. Kalau minta dikembalikan sebunga-bunganya, saya kembalikan sebunga-bunganya. Insyaallah saya juga bukan orang pengangguran,” katanya.
Rohani sendiri menilai besaran gaji Rp 9 juta yamg diterimanya sebagai Ketua Dewas tidak sepadan dengan pengeluarannya selama mengawal RSD dr. Soebandi. “Gaji Dewas Rp 9 juta kurang kalau saya. Saya kalau ke sini ini, bayar hotel sendiri,” katanya.
Rohani siap mengundurkan diri dari posisi Ketua Dewas jika memang dikehendaki Bupati Fawait. “Kalau Gus Bupati minta saya mundur dari Dewas, saya mundur hari ini. Enggak sumbut (tidak sepadan). Hak demi Allah saya mundur,” katanya.
“Jadi, saya sampaikan, kalau urusan Dewas saya nothing to lose. Kapanpun Bupati memberhentikan saya, karena dalam Permendagri disebutkan saya (menjabat Ketua Dewas) berdasarkan keputusan kepala daerah, maka saya tunduk patuh kepada Bupati,” kata Rohani.
Sunarsi mempersilakan Rohani digaji berapapun selama sesuai dengan pendapatan RSD dr. Soebandi. “Saya hanya menginginkan pelayanan rumah sakit bagus. Ojo takon macam-macam, layani dulu baru kita urus persyaratan lainnya,” katanya.
Politisi perempuan dari Partai Kebangkitan Bangsa ini mempertanyakan gaji Dewas RSD dr. Soebandi karena tak ingin muncul anggapan buruk.
“Jadi biar tidak ada miskomunikasi di luar: ‘mak banyak (kok banyak) Rp 9 juta, kerjanya duduk-duduk saja. Namanya persepsi di luar kan perlu kita floorkan, biar tidak ada suudzon (buruk sangka),” kata Sunarsi.
Dengan adanya Dewas yang salah satu anggotanya dari daerah lain, Sunarsi ingin RSD dr. Soebandi habis-habisan mengembangkan diri. “Kami ingin sebagai mitra berkomunikasi dengan baik. Ibarat dalam rumah tangga, kalau harmonis, insyaallah membawa keberkahan,” katanya. [wir]






