Jember (beritajatim.com) – Keberhasilan Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, menurunkan angka prevalensi stunting atau tengkes dinilai Komisi D DPRD sebagai sesuatu yang wajar. Keberhasilan itu berkat orkestrasi kerja sama semua elemen.
“Saya kira itu bukan hal luar biasa, karena semua elemen di Jember benar-benar bukan hanya terpukul, tapi merasa terpanggil untuk menuntaskan permasalahan stunting. Maka itu, kami tidak terkejut, ketika Pak Wapres berkunjung ke Jember kemarin dalam rangka menghargai upaya yang dilakukan segenap komponen di Jember,” kata Ketua Komisi D DPRD Jember Hafidi, Sabtu (1/6/2024).
Sebelumnya pada 6 Desember 2023, Wakil Presiden RI Ma’ruf Amin memberikan lima perintah kepada Pemerintah Kabupaten Jember, Jawa Timur, untuk menangani stunting atau tengkes saat berkunjung ke Kecamatan Puger.
Saat itu, Ma’ruf menegaskan, stunting masih menjadi persoalan besar yang mendesak untuk diselesaikan bersama. Stunting tak hanya berdampak pada kondisi fisik anak, tapi juga kesehatan dan kemampuan berpikir. Dia meminta semua pihak, termasuk kepala daerah, agar tetap berfokus mengawal program percepatan penurunan stunting.
Data terakhir Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, Pemkab Jember termasuk dalam 20 kabupaten dan kota yang berhasil menurunkan prevalensi stunting, dari 34,9 persen menjadi 29,7 persen. Penurunan ini membuat Jember berada di peringkat keempat prevalensi stunting tertinggi, setelah pada 2022 menduduki peringkat pertama.
“Pemkab Jember bersama jajaran sampiing seperti Polres, Kodim, semua bergerak merasa terpanggil dengan kasus stunting. Kami menaruh rasa hormat kepada semua komponen yang turut-serta bahu-membahu mengatasi permasalahan stunting ini,” kata Hafidi.
Hafidi melihat upaya Pemkab Jember dalam menangani stunting tidak kendor kendati sudah berhasil menurunkan prevalensi. “Sampai ke tingkat bawah, para relawan kita terus bergerak untuk mengatasi stunting. Seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Jember terus bergerak dan terus mengevaluasi capaian setiap bulan atau bahkan minggu untuk menekan angka stunting,” katanya.
Hafidi menyadari semua kegiatan tak lepas dari anggaran. “Saya kira dengan turunnya angka stunting dan berjalannya semua gerakan, saya kira biaya bukan menjadi faktor dominan. Hal terpenting adalah bagaimana mendidik masyarakat. Ada kesamaan sikap antara masyarakat dan pemerintah untuk mengatasi stunting. Pola hidup dan pencegahan harus ditanamkan pada masyarakat,” katanya.
Saat ini semua sudah terlibat untuk mengurus stunting. “Sekolah-sekolah saja sudah mulai bicara stunting di Jember. Luar biasa, sudah jadi isu bersama,” kata Hafidi. [wir]






