Jember (beritajatim.com) – Komisi B DPRD Kabupaten Jember, Jawa Timur mendesak pemerintah daerah untuk membantu peternak dalam menghadapi ganasnya penyakit mulut dan kuku yang menyerang sapi ternak.
Jumlah sapi yang tertular karena terkena penyakit mulut dan kuku ini mencapai kurang lebih 50 ekor, dan 25 ekor di antaranya mati. “Sekarang merebak penyakit mulut dan kuku yang bisa dikatakan jenis baru. Ini lebih ganas daripada tahun-tahun sebelumnya,” kata Agus Khoironi, anggota Komisi B, Senin (16/12/2024).
Mengacu penyakit mulut dan kuku pada tahun-tahun sebelumnya, sapi meneteskan air liur yang diikuti luka pada bagian kaki dan mulut. “Kalau sekarang tidak, baru dari mulut, tiga hari kemudian sapi mati,” kata Agus Khoironi.
Berawal di Dusun Mandigu, Desa Sidodadi, Kecamatan Tempurejo, wabah menyerang sejumlah sapi di Jember bagian selatan, termasuk Kecamatan Ambulu. “Di desaku, Andongsari, Ambulu, ada tiga kejadian di tiga lokasi berbeda,” kata Agus.
“Di Tempurejo, banyak yang mati dan beberapa sapi terselamatkan. Maksud terselamatkan di sini adalah sapi bisa disembelih. Tapi ada banyak sapi yang tidak bisa disembelih karena jadi bangkai, sehingga harus dikubur,” kata Agus.
Informasi yang diperoleh Agus dari Dinas Peternakan dan Ketahanan Pangan, persediaan vaksin sudah tak ada lagi. “Kasihan peternak. Dengan ternak seharga Rp 20 juta ke atas, tidak ada bantuan sama sekali dari pemkab. Kalau dulu zaman PMK merebak, kalau ada hewan ternak yang mati ada kompensasi,” kata Agus.
Agus menegaskan kondisi penyakit mulut dan kuku saat ini lebih parah dibandingkan 2022. “Harapan saya dari pemkab memberi semacam kompensasi berapapun, agar kerugian masyarakat tidak nemen-nemen,” katanya.
Agus berharap Dinas Peternakan tidak berhenti mengedukasi masyarakat. “Kendalanya memang vaksin, karena sudah tidak ada pasokan dari pemerintah pusat. Kalau pun ada, sudah kedaluwarsa,” katanya. Dia minta Pemkab Jember membeli persediaan vaksin dan obat dengan biaya APBD. [wir]






