Magetan (beritajatim.com) – Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKB PPPA) tak hanya mengunjungi gadis SMP di Magetan yang mogok sekolah karena dirundung. Psikiater pun sudah diajak untuk membantu pemulihan remaja 13 tahun yang kini mengurung diri di rumah.
Sekretaris DPPKKB PPPA Miftahuddin mengatakan, pihaknya sudah menghubungi psikiater asal Surabaya untuk membantu pemulihan siswi kelas VII SMP itu. Selanjutnya, pihaknya bakal memeriksakan gadis itu di klinik Psikiatri RSUD dr Sayidiman Magetan.
‘’Dari pengecekan kami, anak ini diduga sudah dibullly atau dirundung sejak duduk di bangku SD. Kemudian, sudah satu semester ini tidak masuk sekolah. Petugas kami sudah berkunjung empat kali. Termasuk membawa psikolog dari Surabaya,’’ kata Miftahuddin, Rabu (31/01/2024) .
Selain memberikan bantuan pemulihan psikologis, pihaknya bakal membantu pihak keluarga untuk mencarikan pondok pesantren. Pun, belajar di pondok pesantren jadi keinginan gadis remaja itu, lantaran meski mengurung diri, gadis itu masih ingin melanjutkan pendidikannya.
‘’Rencananya kami bakal bantu mencarikan pondok pesantren agar pendidikan anak ini tidak terputus,’’ pungkas Miftahuddin.
Sebelumnya, Gadis 13 tahun asal Kabupaten Magetan memilih untuk mengurung diri di rumah selama enam bulan terakhir. Remaja yang seharusnya belajar di kelas VII SMP di Magetan itu tak mau sekolah. Dia trauma karena dirundung oleh temannya. Remaja putri itu dirundung karena tak memiliki ponsel pintar seperti temannya.
M (42) ibunda gadis itu bercerita jika putri bungsunya itu mengalami depresi. Putrinya takut untuk berangkat sekolah karena perundungan. Bahkan, orang-orang di rumahnya pun tak bisa masuk ke kamar gadis itu. Bocah itu memilih mengurung diri.
‘’Saya sedih, anak saya sudah ga mau sekolah ini. Sudah tiga bulan ini mengurung diri. Ya kadang mau keluar kalau pas bantuin saya. Tapi ya banyak mengurung diri di kamar. Saya sudah pinjami ponsel milik saya tapi tetap tidak mau sekolah,’’ kata M, Rabu (31/01/2024)
Awalnya, putrinya tak mau berangkat sekolah. Hingga akhirnya mau bercerita jika ada teman sekelas yang merundungnya karena ponsel yang tidak bagus. Putrinya diolok-olok karena ponselnya jelek, baterainya gampang habis hingga cepat mati. Dia tak menyangka jika perundungan itu berlanjut sampai putrinya duduk ke bangku SMP.
‘’Sejak saat itu, saya kasih pinjam hape saya. Dan cuma itu saja, serumah hanya ada satu hape saja. Saya mau membelikan belum mampu. Saya penjual nasi jagung di Pasar Sayur Magetan. Ayahnya kerja serabutan. Bisa makan tiap hari saja sudah bagus,’’ katanya.
‘’Saya kerja serabutan. Saya akan bekerja keras agar bisa belikan hape buat anak saya,’’ kata S ayahanda remaja itu.
Hingga saat ini, M masih berupaya agar anaknya bisa kembali ceria dan au kembali ke sekolah. Meski saat ini gadis muda itu ingin bersekolah di pondok pesantren. [fiq/ian]






