Malang (beritajatim.com) – Industri film Indonesia kembali menunjukkan taringnya lewat hadirnya film animasi karya anak bangsa berjudul “Jumbo”, yang sukses menyedot perhatian jutaan penonton di bioskop. Film yang disutradarai oleh Ryan Adriandhy ini bukan hanya menjadi hiburan semata, tetapi juga menjadi penanda kebangkitan film animasi lokal yang telah lama dinanti kehadirannya.
Menurut Novin Farid Setyo Wibowo, S.Sos., M.Si., Dosen Ilmu Komunikasi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), kesuksesan film Jumbo tak lepas dari berbagai faktor penting, mulai dari kualitas produksi hingga waktu rilis yang strategis.
“Antusiasme publik terhadap film ini melonjak tinggi. Selain karena kualitas ceritanya yang kuat, film ini diproduksi secara serius oleh kru dan sutradara lokal dengan perhatian besar terhadap detail,” jelas Novin saat diwawancarai, Senin (5/5/2025).
Ia menyebut, film Jumbo dikemas dengan apik dan mudah dipahami, sangat sesuai dengan target utamanya yaitu anak-anak. Meski alur ceritanya dinilai sederhana, penggarapan visual serta pesan moral di dalamnya mampu menyentuh hati penonton lintas usia.
“Film ini bisa bersaing di industri internasional. Jumlah kru yang terlibat cukup banyak, dan penggarapannya menunjukkan bahwa Indonesia mampu menghadirkan film animasi dengan standar global,” tambahnya.
Tak hanya dari sisi produksi, momen peluncuran Jumbo juga dinilai sangat tepat. Film ini dirilis pasca lebaran, saat masyarakat sedang menikmati momen libur bersama keluarga dan mencari tontonan yang hangat serta menyentuh.
“Rilis di waktu libur panjang memberikan dampak besar. Publik sedang rindu tontonan berkualitas yang hidup dan punya makna,” imbuh Novin.
Namun demikian, Novin juga mencatat beberapa hal yang bisa menjadi evaluasi. Alur cerita dinilai terlalu sederhana, dan latar belakang karakter utama yang kelam karena kehilangan orang tua bisa terasa berat untuk sebagian anak-anak. Lagu tema yang cenderung sedih juga dianggap kurang sesuai dengan tone ceria yang biasa disukai anak-anak.
Meski begitu, Jumbo tetap dianggap sebagai langkah awal yang menjanjikan dalam pengembangan ekosistem film animasi Indonesia.
“Keberlanjutan produksi film seperti ini butuh dukungan investor, regulasi pemerintah, dan tentu saja penonton yang loyal. Kita harus fokus bukan hanya mengikuti selera pasar, tapi juga membentuk selera baru lewat karya yang berkualitas,” tegas Novin.
Di akhir pernyataannya, Novin berharap Jumbo bisa menjadi pemicu lahirnya film-film animasi edukatif lainnya yang tak hanya mampu bersaing di pasar lokal dan internasional, tetapi juga membentuk karakter bangsa lewat kekuatan cerita dan nilai-nilai yang dibawanya.
“Harapannya, ‘Jumbo’ menjadi inspirasi untuk menciptakan karya-karya lain yang bisa menjadi intellectual property jangka panjang dan berdampak nyata bagi industri kreatif Indonesia,” tutupnya. (dan/but)






